MANOKWARI, KABARTIMUR.COM – Bupati Manokwari mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan realisasi belanja modal dalam APBD Kabupaten Manokwari Tahun Anggaran 2025 belum optimal.
Penjelasan itu disampaikan Bupati dalam Rapat Paripurna DPRK Manokwari, Jumat (28/8/2026), sebagai jawaban atas pemandangan umum Fraksi Golkar, Fraksi Gerindra, dan Fraksi Nasional Bersatu terkait pola penyerapan anggaran yang cenderung menumpuk pada akhir tahun serta rendahnya realisasi belanja modal.
Menurut Bupati, tingginya penyerapan anggaran pada Triwulan III dan IV antara lain dipengaruhi pelaksanaan pekerjaan fisik yang proses penagihannya dilakukan pada akhir tahun.
Selain itu, sebagian dana transfer dari pemerintah pusat baru disalurkan pada penghujung tahun sehingga turut memengaruhi pola penyerapan anggaran daerah.
Kondisi tersebut berdampak pada realisasi belanja modal, terutama ketika target Pendapatan Asli Daerah (PAD) belum tercapai secara optimal.
Sejumlah belanja modal yang realisasinya belum maksimal antara lain belanja modal tanah serta peralatan dan mesin. Di sektor pendidikan, misalnya, realisasi belanja peralatan dan mesin yang bersumber dari PAD masih belum optimal.
Sementara pada Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan, rendahnya realisasi belanja modal tanah berkaitan dengan rencana pembayaran ganti rugi lahan untuk pembangunan alih trase jalan menuju Bandar Udara Rendani.
Pembayaran ganti rugi tersebut belum dapat dilakukan karena masih terdapat sengketa klaim kepemilikan lahan. Proses sosialisasi hasil penilaian Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) juga belum seluruhnya rampung.
Bupati menjelaskan, hasil penilaian KJPP terkait ganti rugi tanah untuk pembangunan SD, SMP, dan SMA baru diterbitkan pada akhir November 2025.
Akibatnya, proses sosialisasi hasil penilaian, tahapan pembayaran, serta kelengkapan administrasi belum dapat diselesaikan dalam sisa waktu Tahun Anggaran 2025.
Pemerintah Kabupaten Manokwari selanjutnya akan mengevaluasi pola penyerapan anggaran agar pelaksanaan program dan kegiatan dapat berjalan lebih efektif serta mengurangi penumpukan realisasi belanja pada akhir tahun. (Red/*)






