Menteri Nusron: Tradisi Dialektika Berpikir Tidak Boleh Mati di Lingkungan Akademik

SLEMAN, KABARTIMUR.COM– Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menegaskan pentingnya menjaga tradisi dialektika berpikir di lingkungan akademik, termasuk di Politeknik Agraria STPN.

Hal itu disampaikan Nusron saat memberikan sambutan dalam Kuliah Umum bertema “Tanah, Negara, dan Rakyat: Memaknai Kembali Transformasi Pelayanan Pertanahan dalam Perspektif Kebangsaan” di Politeknik Agraria STPN, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (4/9/2026).

Kuliah umum tersebut menghadirkan Rocky Gerung sebagai salah satu narasumber. Nusron mengatakan, status Politeknik Agraria STPN sebagai sekolah semi-kedinasan tidak boleh menjadi alasan untuk membatasi keberagaman pemikiran.

“Tradisi dialektika berpikir, tidak boleh mati di mana pun kita berada. Sebagai insan akademik di kampus ini, meskipun kampus ini adalah sekolah semi-kedinasan, saya minta untuk tidak segan-segan untuk mengundang berbagai tokoh dari level mana pun yang sifatnya itu kritik dan kritis terhadap negara. Termasuk kritis terhadap kebijakan kita,” ujar Nusron.

Baca Juga :   Wakil Bupati Teluk Wondama Buka Kegiatan TMMD Ke-113 TA 2022

Menurutnya, pertukaran gagasan akan memperkaya wawasan karena setiap orang dapat memperoleh perspektif baru dari pemikiran yang berbeda.

Nusron mengibaratkan pertukaran pemikiran tersebut melalui “filsafat apel”. Jika dua orang memiliki satu apel dan saling menukarkannya, masing-masing tetap hanya memiliki satu apel. Namun, berbeda dengan pemikiran yang apabila dipertukarkan justru dapat menambah wawasan kedua belah pihak.

“Kalau kita mempunyai dua pemikiran yang berbeda, kemudian pemikiran itu kita saling tukarkan, maka jadinya kita mempunyai dua buah pemikiran yang berbeda,” katanya.

Ia berharap tradisi kuliah umum dan ruang diskusi terbuka terus dikembangkan di lingkungan Politeknik Agraria STPN agar mahasiswa terbiasa melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.

“Sharing pendapat itu akan menjadikan kita mempunyai kaya akan pendapat dan kaya akan hasrat,” ujar Nusron.

Sementara itu, Rocky Gerung menekankan bahwa perdebatan merupakan bagian penting dalam proses pertukaran gagasan. Menurutnya, sebuah pemikiran harus terbuka terhadap kritik agar dapat berkembang.

Baca Juga :   Pemkab Manokwari Dorong Percepatan Pembangunan dengan Program Strategis

“Pikiran, kuliah umum, kalau tidak ada yang bantah, dia jadi doa. Doa nggak boleh dibantah, pikiran harus dibantah. Itu bedanya,” kata Rocky.

Rocky juga menggunakan pendekatan filosofis untuk mengajak para Taruna/i melihat kembali akar dari berbagai konsep, termasuk mengenai tanah dan pengelolaannya.

“Saya sengaja mengambil cara berpikir filosofi untuk membongkar akarnya. Supaya ada konsep-konsep radikal. Kita membongkar tanah untuk menemukan akar. Kita membongkar pikiran supaya tidak ada yang disembunyikan secara politis. Itu intinya,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Rocky menjelaskan tiga cara pandang terhadap tanah. Bagi masyarakat adat, tanah memiliki nilai magis karena berkaitan dengan kehidupan dan warisan leluhur. Bagi negara, tanah memiliki fungsi sosial yang diwujudkan melalui aturan dan hukum. Sementara bagi korporasi, tanah dipandang sebagai komoditas yang memiliki nilai bisnis.

Baca Juga :   Bawah Miras Jenis Captikus, Seorang Ibu Rumah Tangga Diamankan Polsek Maba Selatan

Kuliah umum tersebut diikuti sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN, Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, seluruh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi beserta jajaran, serta lebih dari 500 Taruna/i Politeknik Agraria STPN. (Rls/*)

Pos terkait