MANOKWARI, KABARTIMUR. COM- Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan menjadi ruang bersama bagi pemuda lintas agama di Kabupaten Manokwari. Bersama Vihara Buddha Praba Manokwari dan sejumlah organisasi kepemudaan serta kemahasiswaan, mereka menggelar kegiatan penguatan ekoteologi melalui pembibitan kepiting dan pelestarian ekosistem mangrove di Kampung Wamesa Anday, Minggu.
Kegiatan tersebut melibatkan KBI Papua Barat, WBI Papua Barat, MBI Papua Barat, Sekber PMVBI Papua Barat, Pemuda Lintas Agama FKUB Papua Barat, Komunitas Pecinta Alam dan Kemanusiaan Papua Barat, HMJ Perikanan dan Kelautan Universitas Papua (Unipa), IIHTP Papua, PMKRI, serta PAM Gereja Solafide.
Koordinator kegiatan, Toto Rizqi Darwinto, mengatakan salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah pelepasan indukan kepiting sebanyak 250 kilogram ke kawasan mangrove.
Pelepasan itu menjadi bagian dari upaya mendorong pemulihan ekosistem sekaligus membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kawasan mangrove sebagai habitat berbagai biota.
“Ke depan akan dilakukan pengawasan bersama pihak Unipa dan masyarakat. Tingkat keberhasilannya juga akan dikaji oleh mahasiswa Unipa,” ujar Toto.
Menurutnya, kawasan tersebut diharapkan dapat dikembangkan menjadi laboratorium mini mangrove, sehingga tidak hanya menjadi lokasi konservasi, tetapi juga ruang pembelajaran dan penelitian mengenai ekosistem mangrove beserta biota yang hidup di dalamnya.
Sementara itu, Bhante Sunanda Vamsa Thera menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Menurutnya, setiap makhluk hidup memiliki peran dalam menjaga keberlangsungan ekosistem.
“Jika satu makhluk hilang, maka keseimbangan alam juga akan terganggu,” pesannya.
Ia menyebut kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian gerakan sebelumnya yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi ekosistem mangrove. Selain menjaga lingkungan, kegiatan itu diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk semakin peduli dan terlibat dalam pelestarian mangrove.
Kawasan mangrove juga diharapkan dapat dikembangkan sebagai ruang edukasi dan wisata alam yang ramah lingkungan, termasuk menjadi sarana bagi anak-anak untuk mengenal alam sejak dini.
Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Kampung Wamesa Anday. Dukungan masyarakat dinilai menjadi bagian penting agar upaya menjaga mangrove tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berlanjut menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan. (Red/*)







