Tokoh Pejuang Papua, Saul Yenu Tutup Usia, Warinussy Kenang PEPERA 1969

  • Whatsapp

MANOKWARI –Tokoh Pejuang Papua yang Ketua Gerakan Merah Putih Irian Jaya Saul Yenu atau yang lebih dikenal dengan Ismail Yenu meninggal dunia pada Jumat, 7 Februari 2020 di Manokwari.

Saul Yenu merupakan tokoh Papua yang terlibat sebagai anggota DMP atau Dewan Majelis Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) pada 29 Juli 1969 yang memastikan Papua akhirnya berintegrasi ke pangkuan Republik Indonesia
Nama almarhum tercatat pada nomor urut 68 dari 75 wakil Papua yang hadir dan menyatakan pendapatnya di Gedung Wilhelmina yang kemudian dikenal sebagai Gedung PEPERA (sekarang gedung DPR Papua Barat) di Manokwari.

Penggiat HAM tanah Papua yang juga Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari Yan Christian Warinussy menyebut, almahrum Saul Yenu memiliki andil besar dalam sejarah perjuangan Papua hingga akhirnya bergabung dengan NKRI.

Oleh karena itu, menurut Warinussy, Yenu layak diberi penghormatan dan seharusnya mendapatkan tanda penghargaan dari Pemerintah Indonesia.

“Andil dari almarhum Bapak Saul Jenu dan rekan-rekannya yang sudah mendahuluinya maupun yang masih ada adalah penting dan harus diabadikan dalam konteks sejarah peradaban politik rakyat Papua, “ kata Warinussy, Sabtu di Manokwari.

“Sebagai Direktur LP3BH Manokwari kami menyampaikan duka yang sangat mendalam atas wafatnya Bapak Saul Yenu, “ucap dia.

Dalam catatan Warinussy, sebagian besar eks anggota DMP tahun 1969 yang tinggal di Manokwai kini sudah wafat. Data LP3BH, setidaknya tersisa 3 orang saja yang masih hidup yaitu Amos Worisio, Ny.Jacomina Momogin dan Ny.Maria Latuheru-Betay.

Warinussy menekankan, sekalipun sejatinya mayoritas orang asli Papua menolak apa yang disebut dengan tindakan pilihan bebas (act of free choice) tersebut namun PEPERA tetap merupakan peristiwa sejarah yang memiliki peran strategis bagi masa depan Papua.
Itu sebabnya para pelaku sejarah PEPERA termasuk Saul Yenu sendiri sudah sepantasnya mendapatkan perhatian dari negara.

“PEPERA itu bukan soal benar atau salah. Tapi hal itu penting untuk menjadi kajian ilmiah maupun hukum untuk mengungkap fakta dan kebenaran demi membangun masa depan bangsa dan negeri Papua yang damai dan sejahtera sebagai dinubuatkan oleh Isaac Samuel Kijne bahwa sekalipun ada banyak orang pandai datang ke Tanah Papua, tetapi orang Papua sendiri kelak akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri, “ pungkas Warinussy. (AD)

Pos terkait