WASIOR, Kabartimur.com – Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Teluk Wondama, Papua Barat melalui Komisi A, Senin (31/8) melakukan peninjauan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPP) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di dua dapur pelayanan MBG di kota Wasior.
Sekretaris Komisi A DPRK Wondama Robert Gayus Baibaba selaku pimpinan rombongan menuturkan, dari kunjungan itu pihaknya merekomendasikan beberapa hal yang perlu menjadi perhatian Badan Gizi Nasional (BGN) untuk perbaikan layanan MBG di Kabupaten Teluk Wondama.
Pertama, perlu ada penambahan dapur MBG baru di kota Wasior. Hal ini karena jumlah penerima manfaat yang dilayani dapur MBG khususnya SPPG Wasior (Golden Star) di Iriati, sudah melewati ambang batas sebagaimana diatur dalam petunjuk teknis yakni maksimal 3.000 penerima manfaat perhari.
Adapun di SPPG Wasior, jumlah penerima manfaat yang dilayani sudah mencapai di atas 4.000 perhari. Menurut Baibaba, dengan jumlah sebesar itu dikuatirkan akan berpengaruh pada kualitas makanan yang disajikan.
“Yang menjadi hal yang dikuatirkan bahwa SPPG di Wondama sudah melebihi batas jumlah penerima yang diatur dalam petunjuk teknis yaitu maksimal 3000 tetapi di sini sudah 4000 lebih jadi sudah ada lebih 1.000. Ini sudah over sekali, “ujar Baibaba.
“Jadi kita harapkan ke depan perlu ada dapur tambahan sehingga bisa memenej makanan atau apa yang disiapkan bagi siswa SD, SMP dan SMA itu bisa memenuhi standar sehingga anak-anak itu bisa kenyang dan (dipastikan) bergizi,“ lanjut politisi PDIP ini.
Kedua, pengawasan MBG terutama saat penyiapan makanan di SPPG juga saat proses distribusi ke sekolah-sekolah maupun penerima manfaat lainnya perlu diperkuat untuk memastikan MBG dikerjakan sesuai prosedur yang benar.
“Berkaitan dengan keamanan MBG, itu bukan hanya sterilkan di dalam dapur tetapi juga sampai dalam perjalanan jadi pengawasan itu harus diperketat. Karena bisa saja ada hal-hal yang tidak diinginkan itu terjadi dalam perjalanan, “kata Baibaba.
Kepala SPPG Golden Star Santa Borlak menuturkan penyediaan MBG sejak dari proses persiapan bahan baku, proses masak, pengemasan sampai dengan distribusi dilakukan mengikuti standar operasi atau SOP yang sudah ditetapkan BGN.
Begitu pula dalam hal pengawasan. Santa mengklaim pengawasan dilakukan secara berlapis sejak dari tahap awal sampai dengan distribusi MBG ke penerima manfaat.
“Terkait pengawasan di dapur, kami mempunyai beberapa petugas yang secara bergantian mengawasi. Ada pengawas keuangan, ada ahli gizi dan saya selaku Kepala SPPG. Kami bergantian mengawasi jalannya persiapan MBG sampai distribusi itu tiba di sekolah sampai ompreng kembali ke sini, “jelas Santa.
Perihal penambahan dapur MBG baru di Wondama, Santa membenarkan adanya rencana pendirian dapur baru. Namun dia mengaku tidak tahu kapan dan di mana dapur MBG baru itu akan dibangun.
“Memang rencananya ada dapur baru tetapi mohon maaf saya tidak bisa menjelaskan karena itu bukan ranah saya. Saya hanya bertugas mengurus SPPG di sini, “ujar Santa.
Pakai Pangan Lokal
Dalam kunjungan itu, Anggota DPRK Teluk Wondama juga menyarankan perlunya penggunaan bahan pangan lokal Wondama sebagai bagian dari menu MBG. Hal itu penting agar kehadiran MBG bisa memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat terutama warga lokal Wondama.
“Kami sarankan juga kalau bisa ada selingan (menu) jangan yang itu saja-saja. Kalau bisa ada sayur lokal supaya masyarakat bisa ada penghasilan misalnya rebung, bunga papaya, daun kasbih. Saya kira tidak apa-apa karena itu sudah biasa dengan mereka, “kata Baibaba saat berkunjung ke SPPG Maniwak.
Anggota Komisi A, Maria Debora Korwam juga mengusulkan perlunya variasi menu MBG terutama menggunakan pangan lokal agar penerima manfaat terutama para pelajar tidak bosan dengan menu yang itu-itu saja.
“Perlu juga pakai ubi-ubian jangan nasi terus karena nanti anak-anak bosan. Dan juga supaya masyarakat bisa ada terima uang, “ujar Anggota DPRK dari jalur pengangkatan unsur OAP ini.
Kepala SPPG Maniwak Isak Gustaf Layaba menuturkan pihaknya dalam beberapa waktu terakhir telah menyediakan menu yang variatif agar penerima manfaat tidak bosan.
“Kami sekarang menunya variatif. Kami juga sudah menggunakan bahan lokal kadang rebung, kadang daun kasbih, pernah juga kita pakai garnison (sayur campuran), “sebut Isak.
Isak mengatakan pihaknya juga terus berupaya meningkatkan mutu layanan MBG dari SPPG yang dia pimpin. Selain menu yang beragam, menjaga mutu makanan juga dengan mengupayakan pengantaran yang tepat waktu agar para siswa tidak terlambat mengonsumsi MBG.
“Sekarang ini kami sudah perbaki hal-hal yang masih kurang. Kita juga upayakan waktu pengantaran itu bisa tepat supaya anak-anak makan tidak terlambat, “ucap Isak. (Nday)







