WASIOR, Kabartimur.com – Peringatan ulang tahun Pekabaran Injil (HUT PI) ke-160 tahun di Kabupaten Teluk Wondama dirayakan dengan ibadah syukur meriah di kawasan situs religi makam misionaris Franz Mosche di Kampung Yomber, Pulau Roswar, Senin, 4 Mei 2026.
Bupati Teluk Wondama Elysa Auri dalam kesempatan itu menyatakan, Injil Kristus yang pertama kali diwartakan kepada orang Wondama pada 4 Mei 1866 telah menghadirkan pembaharuan besar dalam hidup dan kehidupan orang Wondama.
Pembaharuan itu tampak dari perubahan pola pikir, perubahan cara hidup juga perubahan relasi antara manusia dengan Tuhan, dengan sesama serta dengan alam ciptaan.
“Kita patut bersyukur karena Injil telah mengakar dan bertumbuh di Wondama, “kata Auri dalam sambutannya.
Bupati mengajak masyarakat Wondama terutama umat Kristen agar mengamalkan nilai-nilai kebaikan dan kasih yang ada dalam Injil dalam kehidupan nyata sehari-hari di tengah masyarakat.
Auri juga mengingatkan bahwa Injil dan kasih Tuhan bersifat universal. Injil yang diberitakan pada 160 tahun silam di Wondama bukan hanya untuk segelintir orang.
Tetapi merupakan Kabar Baik dari Allah untuk semua orang tanpa membedakan, suku, marga golongan maupun latar belakang.
“Oleh karena itu sebagai masyarakat Wondama kita dipanggil untuk menjaga persatuan, saling menghargai satu sama lain dan hidup dalam kasih sebagai satu keluarga besar, “pesan Auri.
Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan yang diwakili Asisten Sekda Bidang Pemerintahan Syors Ortisans Marini mengajak masyarakat Wondama menjadkan peringatan 160 tahun pekabaran Injil di Wondama sebagai momentum refleksi dan pembaharuan diri.
“Mari kita jadikan warisan iman dari para pendahulu kita sebagai kekuatan untuk terus bersatu saling mengasihi dan membangun daerah kita dengan semangat gotong royong, “demikian Dominggus lewat sambutan tertulis.
Sementara itu, Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua mengingatkan tanggung jawab umat Kristen di Teluk Wondama untuk terus menghidupi Injil Kristus dalam perilaku hidup sehari-hari.
“Bapa dan ibu adalah yang pertama menerima Injil setelah dari Mansinam (pada 1855) dan sebelum Injil itu menyebar luas ke seluruh Tanah Papua. Bapa dan ibu yang terima duluan, “kata Sekretaris Umum Sinode GKI di Tanah Papua Pendeta Daniel Kaigere.
“Jadi bukan sekedar terima tetapi harus punya tanggung jawab untuk mewujudnyatakan Injil itu melalui cara hidup dan cara bertindak dalam kehidupan sehari-hari, “pesan Kaigere.
Sebagai informasi, pewartaan Injil yang menandai masuknya agama Kristen di Tanah Papua dimulai pada 5 Februari 1855 di Pulau Mansinam Manokwari.
Setelah 11 tahun merintis karya penginjilan di Manokwari, tiga misionaris Eropa yakni Franz Mosche, Rudolf Beyer dan Johann Gottlob Geissler diutus untuk memulai misi penginjilan ke seluruh Tanah Papua dengan Wondama menjadi wilayah pertama yang disinggahi.
Menggunakan perahu layar dari Mansinam dengan membawa 20 orang pendayung, Mosche, Beyer dan Geissler akhirnya mendarat di Pulau Roswar (dulu disebut Mioswar), tepatnya di Kampung Jomber pada 4 Mei 1866.
Terhitung mulai 21 Januari 1867, Franz Mosche, misionaris asal Jerman itu memutuskan menetap di Pulau Roswar untuk menjalankan karya penginjilan.
Bersama sang isteri Wilhelmina Mundt, Mosche yang kemudian menderita sakit tetap memilih tinggal di Roswar untuk memberitakan Firman Tuhan.
Sang zendeling akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada 21 April 1868 dan jenazahnya bersemayam abadi di Jomber sampai saat ini.
Makam Mosche di Jomber menjadi saksi sejarah Pekabaran Injil di Wondama dan kini menjadi salah satu situs religi yang sering dikunjungi wisatawan dari dalam maupun luar negeri yang berkunjung ke Pulau Roswar.
“Hati kita tidak boleh sekeras batu agar Kristus mau tinggal di dalam hati kita Kristus bisa tinggal dalam hati kita kalau hati kita lembut sehingga Kristus bisa bertakhta dalam hati kita, “pesan Pendeta Kaigere dalam refleksi Ibadah Syukur HUT PI ke-160. (Nday)







