Manokwari, Kabartimur.com – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menargetkan program pendampingan di kawasan transmigrasi Kabupaten Manokwari mampu memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat, meski masa penugasannya hanya berlangsung selama empat bulan.
Hal tersebut disampaikan perwakilan Tim Ekspedisi Patriot Unair, Prof. Hery Purnama Purnomosidi dari Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB), saat acara penyambutan Tim Ekspedisi Patriot di Ruang Sasana Karya, Kantor Bupati Manokwari, Senin (3/8/2026).
Menurut Prof. Hery, program Ekspedisi Patriot merupakan inisiatif Kementerian Transmigrasi RI yang melibatkan sejumlah perguruan tinggi untuk mempercepat pembangunan kawasan transmigrasi melalui riset, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Ia menjelaskan, pada 2025 kawasan transmigrasi Manokwari didampingi Institut Teknologi Bandung (ITB), sementara pada tahun ini estafet pendampingan dilanjutkan oleh Universitas Airlangga.
“Kami berharap, meskipun waktu pengabdian hanya empat bulan, kehadiran Tim Ekspedisi Patriot dapat memberikan perubahan positif, sekecil apa pun, bagi masyarakat di kawasan transmigrasi,” ujar Prof. Hery.
Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari hasil selama masa penugasan, tetapi juga dari keberlanjutan program setelah tim kembali ke daerah asal. Karena itu, pendekatan kolaboratif bersama masyarakat dan pemerintah daerah menjadi fokus utama.
Ia menilai Papua memiliki potensi sumber daya yang besar, namun masih memerlukan dukungan promosi, inovasi, dan pendampingan agar potensi tersebut dapat dikenal dan dikembangkan secara optimal.
“Tugas kami adalah membangun kolaborasi dengan masyarakat agar potensi yang dimiliki daerah dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi dan pembangunan,” katanya.
Prof. Hery mengungkapkan, pada tahun pertama keikutsertaan Universitas Airlangga dalam Program Ekspedisi Patriot, Kementerian Transmigrasi mempercayakan kampus tersebut menangani 20 tim di Papua, sementara lima tim lainnya ditempatkan di Sulawesi, yakni empat di Sulawesi Tengah dan satu di Gorontalo.
Mayoritas anggota Tim Ekspedisi Patriot tahun ini merupakan alumni Universitas Airlangga yang berasal dari berbagai disiplin ilmu. Pemilihan alumni dilakukan agar pendampingan selama empat bulan tidak mengganggu aktivitas akademik mahasiswa.
Ia berharap seluruh peserta mampu menjaga nama baik Universitas Airlangga serta menghasilkan program-program pemberdayaan yang dapat terus dilanjutkan masyarakat, sehingga manfaatnya tetap dirasakan meski masa penugasan telah berakhir.
“Kami ingin program ini tidak berhenti setelah empat bulan. Harapannya akan lahir desa-desa unggulan dengan program yang terus berlanjut melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan para alumni,” pungkasnya. (Red/*)






