Seribu Lilin untuk Kenang Banjir Bandang Wasior dan Korban Gempa Sulteng

  • Whatsapp

WASIOR – Doa syukur bersama dan aksi penyalaan seribu lilin dan menandai peringatan delapan tahun bencana banjir bandang Wasior 4 Oktober 2010. Penyalaan lilin menjadi simbol harapan yang terus menyala untuk terus bangkit setelah 8 tahun lalu diterjang air bah yang melululantakkan kota Wasior dan sekitarnya.

Kegiatan tersebut dipusatkan di taman kota Masasoya Topai Wasior, Kamis malam diikuti ratusan orang dari berbagai kalangan. Bupati Teluk Wondama Bernadus Imburi bersama sejumlah pejabat daerah juga perwakilan dari berbagai agama ikut serta. Doa bersama ini juga dipanjatkan untuk korban bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah.

Dalam kesempatan itu, Klasis Gereja Kristen Injili (GKI) Wondama mewakili denominasi gereja di Wondama menyerukan agar semua pihak memetik pelajaran dari bencana dashyat 8 silam dengan terus menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Musibah banjir bandang tersebut hendaknya menjadi titik balik bagi Pemda dan semua elemen masyarakat menghargai dan melestarikan keutuhan manusia dengan ciptaan Tuhan lainnya.

“Kita harus berkomitmen bersama untuk menjaga dan melestarikan alam dan lingkungan hidup di mana kita berada karena ini adalah titipan Tuhan. Mari kita memikirkan masa depan anak cucu kita. Semua kemunafikan harus kita hentikan. Pembangunan tidak boleh menghilangkan kearifan lokal, “ demikian seruan Ketua Klasis GKI Wondama yang dibacakan oleh anggota Badan Pekerja Klasis GKI Wondama Yunus Sarumi.

Sebelumnya, Bupati Imburi dalam sambutannya mengajak masyarakat untuk selalu bersyukur kepada Tuhan atas semua hal baik yang telah dianugerahkan Tuhan selama ini. Termasuk anugerah keselamatan bagi korban banjir bandang yang selamat hingga kini.

“Saat itu (4 Oktober 2010) kita kehilangan banyak sekali. Kehilangan harta benda juga kehilangan saudara-saudara kita. Kita yang masih ada sampai saat ini boleh bersyukur karena kita masih ada sampai petang ini. Saya mengajak kita semua bersyukur atas kuasa Tuhan sehingga kita masih ada sampai sekarang ini, “ pesan Imburi.

Seperti diketahui, bencana banjir bandang tahun 2010 mengakibatkan sedikitnya 150 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya tidak diketemukan sampai sekarang. Banjir dashyat itupun merusak ribuan rumah warga berikut harta benda yang tak terhitung jumlahnya. (Nday)

Pos terkait