Oleh: Ir. Muhdin: Negeri, Kuasa, dan Kapita Muda
Mamat Jalil
Ketua KPU Halmahera Timur Periode 2019-2024
“Home is where one starts from.”- T.S. Eliot
Ada kalimat yang baru menemukan maknanya setelah waktu berlalu. Demikian pula kalimat Ir. Muhdin Ma’bud yang hingga kini melekat dalam ingatan saya: “Saya sudah kembali ke tanah lahir. Saya sudah lupa jalan balik.”
Saya pertama kali bertemu Muhdin pada 2005, ketika ayah mengajak saya bertandang ke rumahnya di Ubo-Ubo, Ternate. Saat itu, Muhdin baru melewati kontestasi politik memperebutkan kursi Bupati Halmahera Timur. Dalam percakapan santai, ia bercerita tentang pendidikan, perjalanan birokrasi, hingga keputusannya meninggalkan Jakarta dan kembali ke Maluku Utara.
Sebagai mahasiswa ketika itu, saya belum sepenuhnya memahami makna ucapannya. Baru setelah ia berpulang, kalimat tersebut terasa semakin dalam. Muhdin bukan sekadar kembali ke tanah kelahiran. Ia memilih pulang sebagai bentuk keberpihakan dan pengabdian.
Ia pernah memiliki kesempatan kembali ke Jakarta dan mengisi posisi strategis di kementerian tempatnya bekerja. Namun, kesempatan itu tidak diambilnya. Ia memilih mengabdikan pengalaman dan pengetahuannya untuk daerah, hingga kemudian menempatkan Halmahera Timur sebagai bagian penting dari perjalanan pengabdiannya.
Lima belas tahun setelah pertemuan pertama, saya kembali bertemu Muhdin dalam situasi berbeda. Saat itu saya menjabat Ketua KPU Halmahera Timur, sementara Muhdin kembali ke gelanggang politik sebagai calon bupati berpasangan dengan Anjas Taher.
Jumat, 4 September 2020, proses pendaftaran pasangan tersebut berlangsung sebagaimana mestinya. Hingga pukul 14.00 WIT, verifikasi dokumen selesai dan pasangan Muhdin-Anjas dinyatakan memenuhi syarat.
Beberapa jam kemudian, kabar duka datang. Muhdin berpulang setelah menyampaikan orasi politik di Desa Sangaji.
Dua sore yang berjarak 15 tahun itu kemudian terasa seperti dua babak dari satu perjalanan: sore pertama tentang pulang, sore kedua tentang berpulang.
Zikir Para Kapita dan Etika Kekuasaan
Muhdin juga meninggalkan kata-kata yang tidak kalah penting: “Dengan zikir para kapita berdoa, dengan zikir para kapita mensyukuri nikmat Tuhan, dengan zikir para kapita memuja-muji kekuasaan Tuhan.”
Di sini, kapita tidak sekadar berarti keberanian atau kepemimpinan. Ia ditempatkan bersama zikir, doa, dan rasa syukur. Artinya, kekuasaan bagi Muhdin bukan sesuatu yang berdiri tanpa batas.
Seorang pemimpin boleh berada di depan, tetapi tetap harus menyadari bahwa ada kekuasaan yang lebih tinggi daripada kekuasaan manusia. Keberanian harus berjalan bersama kerendahan hati, sementara kekuasaan harus disertai tanggung jawab.
Pemaknaan inilah yang kemudian membawa kita pada istilah yang sering ia gunakan: kapita muda.
Kapita Muda dan Pewarisan Negeri
Muhdin pernah berpesan:
“Kita harus melanjutkan pembangunan negeri ini, dan selanjutnya kami akan serahkan kepada generasi-generasi kapita muda.”
Kata “serahkan” menjadi penting. Sebab, Muhdin tidak memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang harus dimiliki selamanya. Jabatan adalah mandat sementara. Pembangunan adalah pekerjaan lintas generasi.
Kapita muda bukan sekadar generasi yang berusia muda. Ia adalah generasi yang berani, mandiri berpikir, tangguh, memiliki gagasan, serta siap memikul tanggung jawab terhadap negerinya.
Pesan itu menjadi semakin relevan bagi Halmahera Timur hari ini. Industrialisasi, investasi tambang, pembangunan infrastruktur, dan mobilitas penduduk membawa perubahan besar. Di tengah perubahan tersebut, masyarakat lokal tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi subjek dan pelaku pembangunan di tanahnya sendiri.
Pembangunan yang kuat bukan hanya tentang beton dan infrastruktur. Pembangunan yang tangguh bukan sekadar jalan dan gedung. Kekuatan pembangunan sejatinya terletak pada kemampuan meningkatkan kesejahteraan tanpa menghilangkan identitas, martabat, dan masa depan masyarakat.
Karena itu, generasi kapita muda tidak hanya diwarisi sebuah wilayah. Mereka diwarisi tanggung jawab, cita-cita, dan pekerjaan yang belum selesai.
Mengenang Muhdin pada akhirnya bukan sekadar mengingat seseorang yang telah pergi. Lebih dari itu, kita perlu menjaga pesan yang ditinggalkannya: Pulang adalah pilihan untuk mengabdi, kekuasaan adalah amanah, pembangunan harus berpihak kepada manusia, dan estafet negeri pada akhirnya harus diserahkan kepada generasi kapita muda.
Muhdin telah pulang untuk mengabdi, lalu berpulang dengan meninggalkan pesan agar Halmahera Timur terus dibangun secara kuat dan tangguh oleh generasi yang datang setelahnya. (*)






