Kisah Dua Guru, Satu Tujuan: Menjahit Persatuan dari Ruang Kelas di Pelita Sambab

Manokwari , kabartimur.com- Pagi di Distrik Masni selalu dimulai dengan suara yang sederhana: langkah kaki siswa, sapaan hangat, dan kadang, nyanyian rohani yang mengalun dari ruang kelas. Di Sekolah Menengah Teologi Kristen Negeri (SMTKN) Pelita Sambab, suara-suara itu bukan sekadar rutinitas. Ia adalah denyut kehidupan tempat perbedaan tumbuh, diuji, lalu dirawat menjadi harmoni.

Di sekolah inilah, kisah dua guru dari latar yang berbeda bertemu. Mereka datang dari jalan yang tak sama, membawa keyakinan, budaya, dan pengalaman yang berbeda pula. Namun di tempat ini, mereka menemukan satu tujuan yang sama: merawat persatuan lewat pendidikan.

Adwiyah Nur Soleha masih ingat betul hari-hari pertamanya. Sebagai seorang guru Bimbingan Konseling, ia datang dengan semangat sekaligus kegamangan. Lingkungan sekolah yang mayoritas beragama Kristen menghadirkan pengalaman baru baginya. Nyanyian rohani yang kerap terdengar di sela aktivitas belajar sempat membuatnya canggung.

Namun waktu perlahan mengubah rasa itu.

Alih-alih menjauh, Adwiyah memilih mendekat. Ia belajar memahami, bukan menghakimi. Pengalaman hidupnya yang sejak kecil terbiasa dengan keberagaman menjadi jembatan untuk menyesuaikan diri. Di ruang kelas, ia tidak hanya menjadi guru, tetapi juga penenun nilai—mengajak siswa melihat bahwa kebaikan tidak mengenal sekat agama.

Baca Juga :   Tingkatkan SDM Pariwisata, Poltekpar Makassar Gelar Bimtek Pengelolaan Desa Wisata Se-Tana Luwu Raya

Dengan cara yang sederhana, ia mengajak siswa menuliskan ayat-ayat kitab suci tentang kasih dan kebaikan. Di situlah, tanpa disadari, ruang kelas berubah menjadi ruang perjumpaan nilai-nilai universal.

Yang paling membekas justru datang dari hal-hal kecil.

Siswa-siswanya, yang berbeda keyakinan dengannya, kerap mengingatkan waktu salat. Sebuah gestur sederhana, tetapi sarat makna. Di sana, toleransi tidak diajarkan sebagai konsep, melainkan tumbuh sebagai kebiasaan.

“Pengalaman itu sangat berkesan bagi saya,” tutur Adwiyah pelan.

Di sisi lain sekolah, kisah panjang pengabdian juga terpatri dalam sosok Emiria Ziliwu. Sejak 2006, guru asal Nias, Sumatera Utara ini telah menjadi saksi perjalanan panjang SMTKN Pelita Sambab. Ia datang bukan hanya sebagai pengajar Pengetahuan Alkitab, tetapi juga sebagai penjaga semangat di tengah keterbatasan.

Ia pernah mengajar di masa ketika tenaga pendidik sangat terbatas, ketika siswa harus menempuh jarak jauh dengan segala keterbatasan. Namun di balik itu semua, ada satu hal yang tak pernah berubah: semangat belajar anak-anak Papua.

Baca Juga :   Kantongi Narkotika Jenis Sabu, MI Diciduk Aparat

Bagi Emiria, keberagaman bukan tantangan, melainkan kekuatan. Ia melihat bagaimana para lulusan sekolah ini tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya melayani sebagai hamba Tuhan, tetapi juga mengambil peran di pemerintahan dan masyarakat luas.

“Banyak lulusan kami yang kini menjadi hamba Tuhan, tetapi tidak sedikit juga yang bekerja di pemerintahan,” ujarnya.

Apa yang dirawat Adwiyah di dalam kelas, dan apa yang dijaga Emiria selama bertahun-tahun, menemukan bentuknya dalam budaya sekolah. Di bawah kepemimpinan Pelaksana Tugas Kepala Sekolah, Willem Buiswarin, SMTKN Pelita Sambab menegaskan diri sebagai ruang belajar yang tidak hanya menumbuhkan ilmu, tetapi juga karakter dan toleransi.

Program moderasi beragama yang diinisiasi Kementerian Agama menjadi salah satu fondasi kuat. Dalam tiga tahun terakhir, kehadiran guru Muslim di sekolah ini bukan hanya diterima, tetapi menjadi bagian dari denyut kehidupan sekolah.

Baca Juga :   Pengumuman Perpanjangan Selter JPT Pratama Kabupaten Teluk Wondama Eselon II.b

Pemandangan yang dulu mungkin terasa janggal, kini menjadi biasa.

Guru Muslim terlibat aktif dalam perayaan Paskah. Siswa dari latar berbeda saling membantu tanpa melihat sekat keyakinan. Tawa, kerja sama, dan rasa saling menghormati mengalir begitu saja—tanpa dibuat-buat.

“Yang paling menarik, teman-teman Muslim sangat antusias terlibat dalam kepanitiaan Paskah,” kata Willem.

Di SMTKN Pelita Sambab, toleransi tidak dipajang sebagai slogan. Ia hidup—di ruang kelas, di halaman sekolah, di percakapan sehari-hari. Ia tumbuh dari keteladanan, dari kesediaan untuk memahami, dan dari keberanian untuk membuka diri.

Kisah Adwiyah dan Emiria adalah pengingat sederhana: bahwa persatuan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari penerimaan.

Dari sebuah sekolah di sudut Papua Barat, pelajaran itu mengalir pelan namun pasti bahwa ketika perbedaan dipeluk sebagai kekuatan, maka persatuan bukan lagi sekadar cita-cita. Ia menjadi kenyataan. (Red/*)

Pos terkait