MANOKWARI, KABARTIMUR.COM- Selembar surat ditulis dengan tangan seorang ibu, namun memuat harapan yang begitu besar agar negara tidak berpaling dari kematian anaknya.
Dina Mambrasar, ibu kandung almarhum Yanto Idoorway (YI), menulis surat yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto. Dengan bahasa sederhana, Dina menyampaikan permohonan agar Presiden memberikan perhatian terhadap penanganan perkara kematian putranya yang hingga kini, menurut keluarga, belum menemukan titik terang.
Surat itu lahir dari kegelisahan seorang ibu yang kehilangan anak. Di tengah proses hukum yang masih berjalan, Dina berharap negara dapat memastikan seluruh rangkaian peristiwa yang menimpa YI diungkap secara utuh, objektif, transparan, dan berdasarkan bukti serta kajian forensik.
Ia meminta agar penyelidikan tidak berhenti pada kesimpulan awal. Setiap detail, mulai dari peristiwa sebelum YI ditemukan, kondisi saat ditemukan, hingga kejadian setelahnya, diharapkan diperiksa secara menyeluruh.
Bagi Dina, perjuangan mencari jawaban bukan sekadar persoalan hukum. Ini adalah ikhtiar seorang ibu untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada anak yang telah ia lahirkan dan besarkan.
Pesan yang disampaikan keluarga pun menggambarkan tekad tersebut.
“Harus naik sidik, jangan coba-coba. Jangan sampai bagian kepala dipotong sampai ekor.”
Kalimat itu menjadi gambaran keresahan keluarga agar pengungkapan perkara dilakukan secara utuh dari awal hingga akhir, tanpa ada bagian peristiwa yang terlewat atau fakta yang ditutupi.
Surat tangan Dina kepada Presiden Prabowo menjadi simbol bahwa perjuangan keluarga YI belum berhenti. Ketika seorang ibu kehilangan anak, yang tersisa bukan hanya duka, tetapi juga pertanyaan yang terus menghantui: apa sebenarnya yang terjadi?
Pertanyaan itulah yang kini dibawa Dina kepada negara.
Ia berharap Presiden dapat memastikan institusi penegak hukum bekerja secara profesional dan memberikan ruang bagi seluruh fakta untuk diuji secara terbuka berdasarkan alat bukti dan ilmu forensik.
Tim Hukum: Negara Harus Hadir
Juru Bicara Tim Hukum Keluarga YI, Yohannes Akwan, mengatakan pihaknya menghormati langkah Dina Mambrasar yang memilih menyampaikan langsung permohonan kepada Presiden.
Menurut Yohannes, surat tersebut merupakan bentuk ikhtiar seorang ibu yang menginginkan satu hal mendasar: kebenaran atas kematian anaknya.
“Seorang ibu hanya meminta satu hal: kebenaran atas kematian anaknya. Negara harus hadir. Jangan biarkan keluarga mencari keadilan sendirian,” ujar Yohannes.
Ia menegaskan, keluarga tidak meminta perlakuan khusus. Mereka hanya ingin proses penanganan perkara dilakukan secara objektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi keluarga, keadilan bukan sekadar menemukan siapa yang bertanggung jawab. Lebih dari itu, keadilan adalah memastikan setiap pertanyaan tentang kematian YI memperoleh jawaban berdasarkan fakta dan bukti.
Dan bagi seorang ibu seperti Dina Mambrasar, menemukan jawaban itu adalah bagian dari perjuangannya untuk anak yang tidak lagi bisa berbicara untuk dirinya sendiri. (*)






