MANOKWARI, KABARTIMUR.COM– Dua calon Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Papua Barat periode 2026–2030, Yosias Saroi dan Muhammad Lakotani, memaparkan visi dan misi mereka setelah ditetapkan sebagai kandidat dalam Musyawarah Olahraga Luar Biasa (Musorprovlub) KONI Papua Barat 2026.
Keduanya menawarkan gagasan yang menitikberatkan pada peningkatan prestasi atlet, pembenahan tata kelola organisasi, pengembangan infrastruktur olahraga, serta penguatan pembinaan atlet Papua Barat.
Yosias Saroi: Bangun Olahraga Berbasis Prestasi dan Kearifan Lokal
Yosias Saroi mengusung visi mewujudkan olahraga Papua Barat yang maju, berprestasi, profesional, dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun internasional, dengan tetap berbasis kearifan lokal dan semangat persatuan.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Yosias merumuskan sejumlah misi.
Pertama, meningkatkan prestasi atlet secara berkelanjutan melalui sistem pembinaan yang terstruktur, sistematis, dan berjenjang sejak usia dini.
Kedua, memperkuat tata kelola organisasi KONI yang profesional dan transparan, sekaligus membangun sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan olahraga.
Ketiga, mengembangkan sarana dan prasarana olahraga yang memadai serta merata di seluruh wilayah Papua Barat untuk menunjang pembinaan dan peningkatan prestasi atlet.
Keempat, meningkatkan kualitas sumber daya manusia olahraga, termasuk pelatih, wasit, dan tenaga pendukung agar memenuhi standar nasional hingga internasional.
Kelima, mendorong partisipasi masyarakat dalam olahraga sebagai bagian dari gaya hidup sehat sekaligus menggali potensi olahraga daerah.
Yosias juga menekankan pentingnya kemitraan strategis antara KONI, pemerintah, pihak swasta, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat dukungan pendanaan serta pengembangan olahraga.
Menurutnya, kearifan lokal Papua Barat juga perlu diangkat dalam pengembangan olahraga sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan daerah.
Muhammad Lakotani: “Olahraga Bangkit dan Berprestasi”
Sementara itu, Muhammad Lakotani mengusung visi “Olahraga Bangkit dan Berprestasi”dengan target menjadikan Papua Barat sebagai lumbung atlet berkarakter, modern, dan berkeadilan menuju Indonesia Emas 2045.
Lakotani menjabarkan visi tersebut melalui konsep Sapta Bangkit, yang mencakup pembenahan organisasi, pembinaan atlet usia dini dan talenta Orang Asli Papua (OAP), pencapaian prestasi, pembangunan infrastruktur olahraga, jaminan kesehatan, pengembangan ekosistem dan industri olahraga, serta penguatan solidaritas olahraga Papua Barat.
Pada aspek organisasi, Lakotani berkomitmen membangun tata kelola KONI Papua Barat yang lebih profesional melalui pembenahan manajemen, dukungan administrasi bagi cabang olahraga, audit keuangan secara berkala dan terbuka, serta pelaporan prestasi yang terukur.
Pada sektor pembinaan, ia menekankan pentingnya pencarian bakat hingga ke kampung-kampung dan wilayah pegunungan.
Pembinaan tersebut, kata dia, perlu dilakukan secara berjenjang melalui berbagai program pembinaan olahraga, termasuk pelatihan daerah, dukungan beasiswa bagi atlet berprestasi asal Papua, serta pengembangan fasilitas dan asrama olahraga bekerja sama dengan pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan.
Bidik Medali dan Perkuat Pelatih Lokal
Dalam upaya mengejar prestasi, Lakotani menyebut sejumlah cabang olahraga yang dinilai memiliki potensi untuk menjadi program unggulan Papua Barat, seperti atletik, dayung, tinju, gulat, karate, sepak bola, angkat besi, angkat berat, serta cabang olahraga bela diri lainnya.
Ia juga menyampaikan komitmen untuk mendatangkan pelatih bersertifikasi nasional sekaligus meningkatkan kapasitas pelatih lokal melalui program pelatihan dan sertifikasi.
Di bidang infrastruktur, Lakotani mendorong standardisasi fasilitas olahraga dan pengembangan sport center secara bertahap melalui koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten di Papua Barat.
Ia turut memasukkan jaminan kesehatan bagi atlet, pelatih, serta pihak-pihak yang terlibat dalam pembinaan olahraga sebagai bagian dari program yang ditawarkan.
Bangun Kompetisi dan Solidaritas Olahraga
Lakotani juga menaruh perhatian pada pengembangan ekosistem olahraga dan industri olahraga. Salah satu program yang ditawarkan adalah menghidupkan kembali kompetisi antarpelajar, mahasiswa, dan antarkabupaten dengan menyesuaikan kemampuan keuangan KONI Papua Barat.
Sementara pada aspek solidaritas, ia menegaskan KONI harus menjadi rumah besar bagi seluruh insan olahraga tanpa sekat suku, agama, ras, maupun golongan.
Menurut Lakotani, olahraga harus menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, persatuan, dan kebersamaan sekaligus mengangkat nama Papua Barat di tingkat nasional dan internasional.
Program 100 Hari
Selain program jangka panjang 2026–2030, Lakotani juga menawarkan sejumlah agenda dalam 100 hari pertama apabila mendapat mandat memimpin KONI Papua Barat.
Agenda tersebut antara lain melakukan konsolidasi dan rapat kerja provinsi bersama KONI kabupaten serta cabang olahraga, melakukan pendataan ulang aset atlet berprestasi dan infrastruktur olahraga, serta menyusun program pencarian bakat bagi anak usia 10–15 tahun.
Program pembinaan juga diarahkan melalui pelatihan daerah secara sentralisasi maupun desentralisasi sebagai bagian dari persiapan menghadapi berbagai ajang olahraga, termasuk Pekan Olahraga Nasional (PON).
Dengan visi dan program yang ditawarkan masing-masing kandidat, pemilihan Ketua KONI Papua Barat periode 2026–2030 akan menjadi ruang bagi anggota untuk menilai gagasan, program, dan arah pembinaan olahraga yang ditawarkan kedua calon. (Red/*)






