HALTIM, Kabartimur.com – Para petani di Desa Bangul, Kecamatan Maba Tengah, Kabupaten Halmahera Timur (Haltim), menghadapi krisis air serius di tengah musim tanam padi.
Minimnya pasokan air ke area persawahan membuat petani kesulitan bercocok tanam, bahkan terancam gagal panen jika kondisi ini terus berlanjut. Krisis tersebut diduga akibat pembangunan irigasi bendungan yang hingga kini belum rampung.
Keluhan ini disampaikan salah satu petani, Suwandi, Kamis (30/04/2026). Ia mengatakan, sejak akhir 2024 petani belum mendapatkan pasokan air yang memadai untuk sawah mereka.
“Karena irigasi bendungan belum selesai, jadi air untuk sawah tidak ada. Kami hanya berharap dari air hujan. Kalau tidak hujan, kami tidak bisa tanam,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini berdampak besar terhadap aktivitas pertanian. Bahkan pada musim tanam sebelumnya, petani terpaksa menghentikan kegiatan tanam selama satu musim penuh karena kekurangan air.
“Sempat satu musim kami mogok tanam karena memang tidak ada air,” katanya.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, sebagian petani terpaksa menggunakan mesin alkon guna menyedot air dari saluran kecil secara darurat. Namun, biaya bahan bakar menjadi beban tambahan bagi petani.
Suwandi juga mengeluhkan minimnya perhatian dari pihak terkait. Hingga saat ini, menurutnya, belum ada solusi konkret dari penyuluh pertanian maupun dinas terkait.
“Kami menanam pakai biaya pribadi karena tuntutan hidup. Walaupun air susah, kami tetap harus tanam,” tegasnya.
Petani berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah alternatif, seperti pembangunan sumur bor atau penyediaan fasilitas pengairan darurat, agar mereka tidak terus bergantung pada hujan.
Menanggapi hal tersebut, Camat Maba Tengah, Muhdin Kiye, mengaku telah meminta kepala desa agar persoalan krisis air dimasukkan dalam prioritas penggunaan dana desa.
“Saya sudah sampaikan kepada beberapa kepala desa agar persoalan ini dimasukkan dalam prioritas anggaran dana desa, agar masyarakat bisa kembali menanam padi dengan normal,” ujarnya.
Ia juga meminta dinas terkait segera turun ke lapangan untuk melihat langsung kondisi petani dan mengambil langkah penanganan.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berpotensi mengganggu produksi pertanian serta berdampak pada ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian. (*)






