Mulai Ditinggalkan Generasi Muda, Dinas Pariwisata Wondama Gelar Lomba Suling Tambur

  • Whatsapp

WASIOR – Suling Tambur sudah menjadi kesenian khas di Tanah Papua termasuk Kabupaten Teluk Wondama. Namun seiring perkembangan jaman kesenian daerah ini semakin ditinggalkan lantaran generasi muda lebih menyukai kesenian modern.

Hal itu yang mendorong Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Teluk Wondama menyelenggarakan lomba Suling Tambur untuk umum. Lomba yang dipusatkan di Taman Masasoya Topai Wasior dibuka Asisten III Setda Korinus Kris Torey mewakili Bupati Bernadus Imburi, Kamis.

Tercatat sebanyak 11 grup suling tambur dari sejumlah distrik antara lain Distrik Wasior, Rasiei, Wondiboi, Roon dan Rumberpon ikut ambil bagian dalam perlombaan tersebut.

“Suling Tambur ini ini adalah warisan sosial yang perlu dilanjutkan dari generasi ke generasi. Jadi semua OPD terkait dan masyarakat terutama seniman diharapkan mendukung lomba ini. Saya berharap kegiatan ini tidak sekedar seremonial namun harus bisa dikembangkan menjadi daya tarik wisata, “ kata Kris Torey saat membacakan sambutan bupati.

Dia juga berharap kesenian Suling Tambur bisa dijadikan materi muatan lokal (mulok) di sekolah-sekolah mulai dari SD hingga SMA/SMK di Wondama.

“Sebab jika tidak ada upaya yang nyata maka di masa mendatang generasi muda Wondama akan melupakan Suling Tambur karena sekarang kelihatan kita budaya asli ini sudah mau hilang, “ ujar mantan Kepala Badan Kepegawaian dan Diklat ini.

Seniman senior Teluk Wondama Jhon Frans Mambor juga menyambut positif lomba Suling Tambur yang diselenggarakan Dinas Pariwisata. Dia sendiri prihatin dengan nasib kesenian Suling Tambur yang terancam punah karena tak lagi dilirik anak-anak muda.

“Selama ini kita diselimuti budaya-budaya asing sehingga kita lupa budaya kita sendiri. Seni dan budaya lokal sudah mulai punah, “ kata Mambor yang juga menjabat ketua dewan juri.

Sekedar diketahui berdasarkan sejarah, kesenian Suling Tambur atau yang dalam bahasa lokal Wondama dikenal dengan ‘Songger’ awalnya dibawa oleh para guru dari Maluku, Sanger maupun Manado yang ditugaskan untuk memberitakan Injil di Wondama pada periode 1915 sampai 1920.

Dahulu Suling Tambur biasa ditampilkan pada saat ibadah di gereja. Lagu-lagu yang dibawakan umumnya merupakan lagu-lagu gereja. Sekarang ini suling tambur biasa ditampilkan dalam acara penyambutan tamu maupun kegiatan-kegiatan rohani dan budaya. (Nday)

Pos terkait