Manokwari, kabartimur.com – Menteri Agama RI, Prof. K.H. Nasaruddin Umar, mengajak seluruh elemen bangsa menjaga kerukunan dan merawat keberagaman sebagai anugerah terbesar yang dimiliki Indonesia. Menurutnya, keindahan alam dan harmoni kehidupan masyarakat di Papua Barat merupakan gambaran nyata dari “lukisan Tuhan” yang harus dijaga bersama.
Pesan tersebut disampaikan Menteri Agama saat menghadiri kegiatan “Merawat Harmoni Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan dalam Rangka Penguatan Tata Kelola Event Keagamaan Pesparawi Nasional XIV Tahun 2026” di Manokwari, Minggu (28/6/2026).
“Inilah Indonesia yang kita idam-idamkan. Indonesia itu laksana keindahan Manokwari. Alam Indonesia adalah lukisan Tuhan yang luar biasa indah. Karena itu, jangan sampai ada yang merusak lukisan Tuhan,” ujar Nasaruddin Umar.
Sebelum menghadiri kegiatan tersebut, Menag bersama rombongan mengunjungi Pulau Mansinam, pulau bersejarah yang menjadi titik awal pekabaran Injil di Tanah Papua oleh Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler pada tahun 1855.
Menurut Menag, kunjungan ke Pulau Mansinam menghadirkan pengalaman spiritual yang begitu mendalam. Keindahan alam yang berpadu dengan nilai sejarah dan religiusitas memberikan kesan yang sulit dilupakan.
“Tadi kami berkunjung ke Pulau Mansinam dan rasanya ingin bermalam di sana. Hamparan lautnya, gemerlap bintang di langit, serta gunung-gunung yang memancarkan keindahan sungguh memberikan kesan yang mendalam. Ketika berkunjung ke Papua, khususnya di Manokwari, yang muncul adalah inner beauty, rasa keindahan yang terpancar dari dalam hati,” ungkapnya.
Dalam kunjungan tersebut, Menag didampingi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Jeane Marie Tulung, Ketua Umum Panitia Pelaksana Pesparawi Nasional XIV yang juga Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat Ali Baham Temongmere, serta jajaran pejabat Kementerian Agama dan Pemerintah Provinsi Papua Barat.
Nasaruddin Umar juga mengingatkan bahwa setiap upaya yang memecah belah persatuan bangsa atas nama suku, agama, maupun ras merupakan tindakan yang merusak harmoni yang telah dianugerahkan Tuhan kepada Indonesia.
“Siapa pun yang berusaha memprovokasi masyarakat untuk melakukan tindakan yang tidak terpuji, sesungguhnya sedang merusak lukisan Tuhan dan mencederai keindahan kebersamaan yang telah dianugerahkan-Nya,” tegasnya.
Ia menilai Papua Barat menjadi contoh nyata kehidupan masyarakat yang mampu menjaga toleransi dan hidup berdampingan dalam keberagaman. Karena itu, daerah lain di Indonesia diharapkan dapat meneladani semangat persaudaraan yang tumbuh di Tanah Papua.
Selain itu, Menag menegaskan bahwa penyelenggaraan **Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV Tahun 2026** tidak boleh dimaknai sekadar sebagai ajang perlombaan atau perayaan seremonial. Lebih dari itu, Pesparawi harus menjadi momentum memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, kasih, dan persaudaraan.
“Pesparawi yang kita laksanakan tidak hanya menampilkan kesemarakan perayaan keagamaan Kristen, tetapi harus dimaknai sebagai momentum penghayatan dan pendalaman iman, yang di dalamnya menghadirkan figur Yesus Kristus sebagai teladan kasih, perdamaian, dan kemanusiaan,” pungkasnya. (Red/*)






