Dua Hari Dirawat di RSUD Wondama, Pria 63 Tahun Meninggal karena Corona

  • Whatsapp

WASIOR – Kabupaten Teluk Wondama mencatatkan kematian pertama kasus virus corona atau Covid-19. Pasien atas nama TP, laki-laki 63 tahun yang merupakan kasus konfirmasi positif ke-28 dinyatakan meninggal dunia akibat Covid-19 pada Minggu pagi setelah menjalani perawatan medis di RSUD Teluk Wondama. Yang bersangkutan yang baru sekitar 10 hari berada di Wasior telah dimakamkan dengan protokol Covid19 di pemakaman khusus yang disiapkan Pemkab Wondama di Kampung Warayaru, Distrik Teluk Duairi, Minggu siang.

Direktur RSUD Teluk Wondama yang sekaligus Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 dr. Yoce Kurniawan menuturkan, TP awalnya masuk ke RSUD pada Jumat lalu dengan keluhan sesak. Sesuai protap di RS yang bersangkutan lantas menjalani rapid test dan hasilnya reaktif. Sehingga dilanjutkan dengan pemeriksaan swab dan ternyata hasilnya positif corona.

“Jadi kita tetapkan yang bersangkutan sebagai pasien konfirmasi positif pada dua hari lalu dengan gejala sedang berat, “jelas dr.Yoce usai pemakaman di Warayaru. Dalam perjalanan, lanjut Yoce, kondisi TP memburuk dan pada Sabtu malam kondisinya semakin kritis. Tim medis sempat berencan memasang ventilator untuk alat bantu pernapasan namun karena kondisi pasien yang terus menurun sehingga diputuskan tidak memakai ventilator dan diganti dengan oksigenisasi serta obat suntik.

“Memburuk itu mulai jam 9 malam (Sabtu malam) dengan tolak ukur daya dorong oksigen dalam darah terus turun. Kemudian jam malam pagi tadi (Minggu pagi) pasien mulai kehilangan kesadaran dan pada jam 9.10 menit yang bersangkutan menghembuskan nafas terakhir,”terang Yoce. Setelah dinyatakan meninggal, tim medis RS langsung melaksanakan pemulasaran jenazah dengan protokol Covid19. Jenazah dibungkus dengan plastik kemudian dimasukan ke kantong jenazah dan kembali dibungkus dengan plastik untuk kemudian dipindahkan ke peti jenazah. Peti jenazah lantas dibungkus lagi dengan plastik.

“Pada semua tahapan itu dilakukan penyemprotan disinfektan, jadi dibungkus disemprot dulu, dibungkus lagi disemprot lagi sampai tadi sebelum dimakamkan juga dilakukan dekontaminasi kembali sebelum diturunkan di liang kubur, “kata dokter spesialis saraf itu.
Demikian halnya saat pemakaman juga dilakukan dengan protokol khusus sejak jenazah dikeluarkan dari RS hingga prosesi penurunan jenazah di liang lahat dengan semua petugas pemakaman menggunakan APD lengkap.

Adapun lokasi pemakaman merupakan tanah kosong seluas 1 hektar yang dibeli Pemda khusus untuk pemakaman Covid19. Atas nama Pemda dan Gustu, dr Yoce menyampaikan terima kasih kepada pemilik tanah juga masyarakat Warayaru yang telah mengijinkan pemakaman pasien virus corona.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup karena lokasi ini 1 hektar dan makam kita taruh di tengah-tengah sehingga untuk rembesan makam dan dampak lingkungan (lainnya) kita perkirakan aman jadi masyarakat di sini tidak perlu kuatir, ” kata Ketua IDI Teluk Wondama itu.

Prosesi pemakaman TP sendiri berlangsung cepat. Tidak ada keluarga dekat yang mendampingi. Pun tidak ada lantunan doa yang panjang maupun nyanyian pengantar sebagaimana prosesi pemakaman secara Kristen pada umumnya. Hanya sepenggal doa pendek yang dipanjatkan Pendeta untuk mengantar kepergian almahrum menuju alam keabadian.

Beberapa pejabat daerah tampak ikut hadir dalam pemakaman. Antara lain Kapolres AKBP Yohanes Agustiandaru, Sekda Denny Simbar, Asisten II Hermin Sesa Rinding dan Inspektur Phiter Lambe. (Nday)

Pos terkait