Refleksi 160 Tahun Injil Masuk Pulau Roon: Injil Menjadi Nyata Ketika Iman Dipraktikkan, Keadilan Ditegakkan dan Kasih Dihidupi

WASIOR, Kabartimur.com – Peringatan 160 Tahun Pekabaran Injil (HUT PI) di Pulau Roon, Kabupaten Teluk Wondama, 6 Mei 2026 dirayakan dengan penuh sukacita oleh masyarakat setempat dalam ibadah syukur meriah yang dipusatkan di Gereja Jemaat Rudolf Beyer, Kampung Syabes.

Bupati Teluk Wondama Elysa Auri dalam kesempatan itu menekankan bahwa peringatan HUT PI adalah momen untuk merefleksikan sejauh mana Injil yang adalah Firman Tuhan itu telah merubah hidup masyarakat dan umat Kristen di Pulau Roon.

Apakah Terang Injil yang diwartakan 160 tahun silam masih tetap menyala dan menerangi kehidupan masyarakat.

Apakah Injil Kristus itu masih menjadi pedoman dalam cara hidup masyarakat mulai dari cara berbicara, cara mengambil keputusan dan juga cara memperlakukan sesama dan alam ciptaanNya.

Kepala daerah mengingatkan bahwa ukuran iman bukanlah dari apa yang kita katakana. Tetapi dari apa yang kita hidupi.

Baca Juga :   Tolak Tes Online, Pegawai Honorer Desak Pemkab Wondama Bentuk Pansus

“Injil menjadi nyata ketika kasih dipraktikkan, ketika keadilan ditegakkan, ketika damai diusahakan dan ketika kita memilih untuk berjalan dalam kebenaran, meskipun itu tidak mudah, “pesan Auri.

Lebih lanjut bupati menekankan pentingnya peran generasi muda dalam melanjutkan warisan iman yang ditinggalkan oleh para misionaris yang dahulu telah mengabdikan hidupnya untuk mewartakan Injil hingga ke kampung, pulau dan lembah di seantero Teluk Wondama dan Tanah Papua.

Generasi muda tidak hanya sekedar penerus tetapi penentu arah masa depan.

Karena itu, bupati mengajak semua pihak untuk bersama-sama bertanggung jawab memastikan generasi muda Wondama secara khusus di Pulau Roon tidak terputus dari akar sejarah dan iman mereka.

Harus dipastikan kaum muda Wondama tidak mengenal kisah penginjilan di masa lampau hanya sebagai cerita semata tetapi menjadi bagian dari identitas mereka.

Baca Juga :   Pengurus Flobamora Wondama Dilantik, Bupati, Wabup dan Ketua DAP Jadi ‘Ipar Orang Timur’

Dan mereka harus memahami bahwa apa yang dinikmati hari ini adalah buah dari perjuangan dan pengorbanan para pendahulu.

“Dengan pemahaman itu maka akan tumbuh rasa memiliki, rasa tanggung jawab dan komitmen untuk menjaga serta melanjutkan warisan tersebut, “kata Auri.

Untuk diketahui, Injil masuk di Pulau Roon yang kemudian menghadirkan perubahan besar dalam kehidupan masyarakat setempat dimulai pada 6 Mei 1866, 11 tahun setelah Injil pertama kali diberitakan untuk orang Papua pada 5 Februari 1855 di Pulau Mansinam, Manokwari.

Pemberitaan Injil yang menandai masuknya agama Kristen di wilayah ini diprakarsai oleh tiga misionaris Eropa yaitu Johann Gottlob Geissler, Franz Mosche dan Rudolf Beyer.

Mereka diutus dari Mansinam, Manokwari untuk misi penginjilan ke seluruh Tanah Papua.

Setelah setahun mengikuti ekspedisi penginjilan ke sejumlah tempat, Rudolf Beyer kemudian menetap dan berkarya di Syabes pada Februari 1867.

Baca Juga :   Empat Bapaslon Pilkada Wondama Teken Pakta Integritas Wujudkan Pemilu yang Jurdil Damai dan Aman Covid-19

Beyer lalu memboyong sang isteri Anna Cambier untuk bersamanya mewartakan Injil di Pulau Roon yang ketika itu masih hidup dalam kekafiran.

Isteri Beyer, Anna Cambier pada akhirnya meninggal dunia karena sakit dan dimakamkan di Syabes. Pusara Anna Cambier di atas bukit Syabes menjadi saksi penginjilan yang masih dijaga sampai sekarang ini.

Dan sebagai bentuk penghormatan, masyarakat setempat mengabadikan nama Rudolf Beyer sebagai nama gedung gereja di Kampung Syabes.

Ibadah syukur HUT PI ke-160 di Syabes Pulau Roon turut dihadiri Ketua DPRK Teluk Wondama Aplena Dimara, Plt Ketua Klasis GKI Wondama Pendeta A.Torey, Asisten I Setda Rico Tetelepta dan Asisten III Puspla Kabiay.

Pada kesempatan itu, bupati juga melakukan peletakan batu pertama pembangunan tugu suling tambur sebagai monumen untuk mengenang jasa Guru Injil Dominggus Rissapari. (Nday)

 

 

Pos terkait