Kepala BIN Sebut Pembawa Covid19 di Papua Barat Terbanyak dari Claster Gowa

  • Whatsapp

MANOKWARI- Dalam Rapat bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Forkopimda Papua Barat dengan Pimpinan Perusahan dan Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Adat, Kepala Badan Intelijen Negara BIN Papua Barat mengungkap awal masuknya Pembawah virus corona virus disease Covid19 di Papua Barat dari Klaster Gowa.

Menurut Kepala BIN Daerah Papua Barat, Brigjen TNI Hardani Lukitanta Adi dalam Rapat bersama Forkopimda dan Sejumlah Tokoh itu, Disebutkan bahwa terdapat beberapa penyebab atau asal Covid19 di Papua Barat

“Pertama Dibawah oleh Klaster Gowa, Kemudian Perjalanan dari luar daerah serta dari Sukabumi dan Magetan keduanya termasuk perjalanan dari luar Daerah” Kata Kepala BIN Papua Barat Brigjen TNI Hardani Lukitanta Adi Senin 15 Juni 2020.

Hardani menyebut bahwa wilayah yang pertama kali yakni di Kabupaten Raja Ampat, dimana ada 4 orang dari Klaster Gowa, Kemudian terjadi transmisi lokal. Selanjutnya di Sorong yang awalnya klaster Gowa 9 orang kemudian terdapat perjalanan dari luar Anak buah Kapal KM Dobonsolo.

“Lalu kemudian paling banyak adalah kontak transmisi lokal hingga menjadi 58 orang sama halnya di Kabupaten Sorong dari 12 beranak menjadi 30 pasien” jelasnya.

Untuk Manokwari kata Kabinda, hanya sedikit dan dia berharap mudah-mudahan tidak berkembang, begitu juga di Manokwari Selatan namun kemudian sudah dinyatakan sembuh.

“Di Wondama dari Klaster Gowa juga terdapat 3 orang mudah mudahan tidak berseling kemudian di Teluk Bintuni dari Klaster Gowa 8 Orang beranak menjadi 40 Orang” jelasnya

Dia mengatakan tidak bisa membedakan antara generasi pertama dan generasi kedua sebab sudah masuk pada transmisi lokal.

Menurutnya, dalam grafik pesebaran awal Covid19 di Papua Barat terdapat 42 persen dari Klaster Gowa kemudian kontak pasien positif atau transmisi lokal menjadi 144 inilah yang perlu diketahui bahwa cepat sekali perkembangan.

“Kalau saya Petakan perkembangan per lima hari, Dari mulai 16 april mulai berkembang kemudian 21 April sampai berakhir 31 Mei kemarin puncak grafiknya 30 kemudian per 16 juni turun mudah mudahan trend turun terus” jelasnya.

Dia menjelaskan jika untuk mengetahui grafik naik atau turun dan datar bisa dengan pemeriksaan rapid tes atau swab 0,6 kali jumlah penduduk atau 900 sampai 1 juta penduduk harus 600 ribu yang di tes baru bisa menentukan angka itu turun atau naik.

“Mudah-mudahan dengan kehadiran para pelaku usaha dan tokoh masyarakat dan tokoh agama yang hadir dalam pertemuan ini diharapkan agar menjadi penanganan serius kemudian dari pemetaan yang saya lakukan kondisi di Papua Barat yang mana tidak berpengaruh ada covid atau tidak” jelasnya. (AD)

Pos terkait