Waspada! Virus ASF Kini Menyerang Ternak Babi di Manokwari

MANOKWARI- Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Manokwari, Kukuh Saptoyudo mengungkapkan, jumlah kasus kematian akibat Virus African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi.

Saat ini terdata di dinas Pertanian dan ketahanan Pangan ada sebanyak 400 kasus menimpa ternak Babi warga yang mulai dilaporkan sejak pertengahan Maret dan awal kasus pertama kalinya ditemukan di Kompleks Gaya baru, Wosi.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan hasil tes laboratorium dari Maros sulsel terhadap babi yang mati ini dinyatakan positif terinfeksi virus ASF.

“Awalnya kita mendapatkan laporan tersebut bukan dari masyarakat Manokwari , tetapi dari pedagang babi yang ada di Nabire,” ungkap Kukuh.

Dia menjelaskan, virus African Swine Fever (ASF) adalah penyakit pada babi yang sangat menular dan dapat menyebabkan kematian pada babi hingga 100 persen sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar.

Baca Juga :   4332 Pekerja formal dan Informal di Manokwari Terima Bantuan Tali Kasih

Virus ASF sangat tahan hidup di lingkungan serta relatif lebih tahan terhadap disinfektan.

Namun, kata dia, virus ini tidak berbahaya bagi manusia karena tidak dapat ditularkan dari hewan yang terinfeksi ASF.

Hanya saja, katanya menegaskan, untuk babi yang mati karena penyakit ASF agar dimasukkan ke dalam kantong dan harus segera dikubur oleh petugas untuk mencegah penularan yang lebih luas.

“Masyarakat juga diimbau agar tidak menjual babi yang terkena penyakit ASF serta tidak mengonsumsi dagingnya” kata Kukuh.

Mengingat penyebab kematian babi karena terjangkit virus ASF dan mematikan yang saat ini obatnya belum ditemukan. Sehingga satu-satunya cara untuk menghindari penyebaran virus tersebut pemerintah daerah harus tegas menghimbau agar melakukan lockdown dan Hal tersebut akan diperkuat dengan surat instruksi bupati terkait larangan peredaran daging maupun babi.

Baca Juga :   Satgas Pengamanan Virus ASF Berhasil Amankan Truck Pengangkut Ratusan Babi Masuk Toraja

“Saya sudah meminta bidang peternakan untuk membuat instruksi bupati untuk melarang peredaran ternak babi maupun dagingnya,” jelasnya.

Kukuh menyebutkan, pihaknya akan terus melakukan pendataan, dan pencegahan, berupa pemberian antibiotik dan vitamin untuk meningkatkan imun babi.

“Kita berupaya mencegah semampu kita, yaitu memberikan antibiotik dan vitamin hanya untuk meningkatkan imun saja. Sama halnya seperti Covid-19 yang juga disebabkan oleh virus,” sebutnya.

Guna mengantisipasi penyebaran, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan pihak karantina terkait larangan keluar masuknya daging maupun ternak. Jika tidak ada larangan, dikhwatirkan virus ini dapat menyebar ke daerah lain.

“Kalau bisa jangan beredar antar kampung, distrik, kota, peradaran ini dikhawatirkan dapat berpotensi menyebarkan virus yang mematikan untuk ternak,” tegas Kukuh.

Selain itu, pihaknya juga akan melakukan sosialisasi, salah satunya terkait sanitasi. Menyikapi epidemi ASF ini, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan BPBD, untuk mengambil langkah selanjutnya.

Baca Juga :   Kabar Duka Dahului Peluncuran Buku Pejuang Sejati Untuk Sejarah Politi dan Pembangunan Papua Barat

“Virus ini mematikan untuk babi, yang terkena kemungkinan hampir 100 persen mati. Gejalanya demam babi, dari hasil otopsi yang ada, organ dalam tubuh (babi) hitam semua,” terang Kukuh.

Adapun yang akan dirancang dalam instruksi, yakni terkait larangan penjualan daging secara bebas.

“Karena kita tidak tau daging itu terinfeksi atau tidak. Karena beberapa kasus itu mereka mengatakan membeli daging babi di kota, setelah pulang dikampung ternak babi mereka terkena wabah. Rencana kami akan melarang dulu, jangan ada penjualan atau lalu lintas dimasa epidemi ini,” harap Kukuh. (R)

Pos terkait