Mama-mama Pengrajin Noken di Manokwari Butuh Perhatian Pemerintah

  • Whatsapp

MANOKWARI- Demi membuka peluang usaha dalam bidang merajut noken kaum ibu di Kampung Dobut, Distrik Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari mengharapkan bantuan pemerintah dari segi pemberian modal agar dapat mengembangkan kreatifitas tersebut.

Ruti Aibu, salah seorang pengrajin Noken di Kampung Dobut yang ditemui mengungkapkan bahwa dirinya bersama beberapa ibu-ibu lainnya berkeinginan untuk mengembangkan potensi merajut noken. Namun, terkendala pada modal.

Dia mengatakan beberapa tahun terakhir dirinya selalu dimotivasi oleh anggota Bhabinkamtibnas yang bertugas menjaga kemanan dan ketertiban di lingkungan tempat tinggal untuk terus merajut noken dan memasarkannya.

“Selama ini kami hanya memproduksi noken secara terbatas karena terkendala modal, untuk membeli benang toko maupun biaya operasional untuk pergi mengambil bahan kulit kayu sebagai bahan baku pembuatan benang yang jauh di Minyambou Pegunungan Arfak,” kata Ruti Aibu, Rabu (30/10/2019).

Dirinya juga sangat berharap agar bisa mandapat perhatian dari pemerintah dengan memberikan bantuan berupa modal agar bisa mengembangkan dan memproduksi noken lebih banyak lagi.

“Noken yang dibuat dari bahan kulit kayu atau biasa disebut benang Papua kami ambil bahan di Pegunungan Arfak baru dibuat dan untuk saat ini bisa diselesaikan dalam waktu 2 minggu karena proses yang panjang dan jarak ambil bahan juga jauh. Kami membutuhkan modal agar dapat membeli sejumlah keperluan untuk membuat dan lebih banyak noken agar bisa dijual,” ucapnya.

“Kalau noken kulit kayu biasa dijual berkisar Rp1 juta tergantung ukuran. Itu mahal karena proses pembuatan sangat panjang dan kualitasnya sangat bagus,” katanya.

Mahal dan tidaknya suatu hasil produksi bukanlah merupakan tujuan utama bagi para pengrajin, karena dibalik usaha serta proses panjang, sejatinya para ibu-ibu di Kampung Dobut berniat untuk mengangkat noken yang menjadi warisan leluhur.

“Merajut noken ini sudah kami belajar masih kecil, akan tetapi sering sibuk di kebun sehingga jarang untuk dibuat lagi. Tetapi beberapa tahun belakangan ini kami berniat sekali untuk membuat lebih banyak noken dan dijual untuk kebutuhan hidup, sekaligus membuat orang dari luar datang ke Papua untuk cari noken,” tutupnya.(*)

Pos terkait