Dari Jodoh hingga Idealisme Cicero

MANOKWARI, Kabartimur.com- Patrix Barumbun Tangdirerung menggambar pohon pada dua lembar kertas plano yang ditempel di dinding ruang pelatihan pada forum Makram Ikatan Mahasiswa Toraja Manokwari yang digelar di kawasan Tongkonan Soribo, Manokwari. 1 lembar dinamai, “pohon motivasi”, dan selembar lagi, “pohon harapan”.

Setelah itu 40 peserta dibagi menjadi 10 kelompok. Masing-masing kelompok berdiskusi untuk merumuskan 5 poin utama yang menjadi motivasi dan harapan mereka saat bergabung dengan organisasi kemahasiswaan seperti IMT.

Bacaan Lainnya

Ruang pelatihan yang tadinya berlangsung searah, segera menjadi riuh. Peserta masing-masing mengemukakan pendapat sebelum memutuskan poin-poin yang menjadi motivasi dan harapan kelompoknya. Poin demi poin ditulis pada kertas kecil yang sudah disiapkan untuk ditempel pada gambar pohon.

Rupanya saat disandingkan, terdapat banyak kesamaan antara 1 kelompok dengan kelompok lainnya, yang segera dapat ditarik sebagai motivasi dan harapan bersama. Namun ada juga yang kocak, misalnya ada kelompok yang menulis harapan untuk mendapatkan jodoh dalam organisasi. Saat dibaca, tawa peserta pecah di dalam ruangan.

“Itu ungkapan jujur. seharusnya memang begitu. Tapi jodoh atau pacar jangan jadi tujuan. Soalnya kalau tidak dapat, nanti ngambek. Organisasi yg disalahkan. Tapi kalau dapat, anggap saja itu bonus!” timpal bang Che, sapaan Patrix.

Baca Juga :   Yayasan Aderi Permpuan Papua Gelar Lomba Masak Makanan Lokal Papeda Kuah Kuning

Sontak, kata Bonus itu kembali membuat ruangan riuh. Beberapa peserta tepuk tangan. “Betulll!” sambut beberapa mahasiswa.

Ini adalah proses simulasi dalam materi “Pengorganisasian” yang digelar pada kegiatan tersebut. Menurut Patrix, dalam perspektif psikologi sosial, Perilaku Manusia, misalnya pilihan untuk mengikuti sebuah kegiatan, atau berorganisasi sangat ditentukan oleh 3 faktor. Antara lain, Motivasi, Harapan dan Lingkungan Belajar.

Motivasi berkaitan dengan dorongan dari dalam diri. Motivasi dapat dikelola sebagai sebuah energi gerakan sosial. Harapan berkaitan dengan insentif yang diharapkan diperoleh dari luar diri (orang lain atau kelompok) saat melakukan perilaku tertentu, misalnya penghargaan, gaji dan lain-lain. Sementara aspek ketiga lebih bersifat sosial-kultural yakni lingkungan belajar, atau habitus yang membentuk atau mempengaruhi kesadaran manusia untuk bertindak.

“Siapapun yang melakukan kerja-kerja pengorganisasian, sangat penting untuk memulai dari pemetaan sederhana seperti ini. Sehingga seorang orginizer mendapatkan gambaran tentang motivasi, pengetahuan2 dasar, dan tingkatan kesadaran masyarakat yang hendak diorganisir. Mulailah dari apa yang masyarakat tahu!” jelasnya kepada peserta.

Dengan pendekatan itu, lingkungan belajar seperti organisasi kemahasiswaan juga bisa mengidentifikasi kebutuhan dan interest pegiat/anggotanya sebagai pijakan untuk merumuskan program. Demikian juga bagi seorang orginizer.

“Hilangnya kepekaan pengurus/orginizer terhadap kebutuhan dan kepentingan anggota/masyarakat merupakan petaka awal dalam pengelolaan sebuah organisasi atau dalam kerja-kerja pengorganisasian. Lambat laun, ditinggalkan karena tidak relevan dengan kepentingan atau kebutuhan kelompok,” jelasnya.

Baca Juga :   Tahun Ajaran Baru Segera Dimulai, Guru Diimbau Tidak Tambah Libur.

Patrix adalah Penasehat Ikatan Pemuda Toraja Manokwari. Juga mantan sekum Ikatan Keluarga Toraja Manokwari. Ia diundang sebagai pembicara lantaran rekam jejaknya dalam kerja-kerja pengorganisasian dan aktivitas organisasi diaspora Toraja. Terakhir Patrix bersama sejumlah tokoh Pemuda Toraja di Indonesia membentuk simpul nasional pemuda Toraja bernama Pemuda Toraja Indonesia yang merupakan pilar kepemudaan organisasi Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI). PMTI merupakan simpul nasional organisasi diaspora toraja di seluruh Indonesia bahkan memiliki cabang di beberapa negara seperti Australia, Belanda, Malaysia dan lainnya.

Patrix 12 tahun bekerja sebagai jurnalis, sebelum berkecimpung sebagai advokat di Manokwari. Saat menjadi jurnalis ia mengorganisir serikat pekerja media di perusahaan tempatnya bekerja. Di masa mahasiswa, ia aktif di HMI, organisasi mahasiswa terbesar dan tertua Indonesia. Pengamalan itulah yang dibagi kepada para peserta.

Menurut Patrix organisasi sesungguhnya adalah cermin dari peradaban manusia. Manusia selain memiliki dimensi yang bersifat khas dan individual, juga memiliki dimensi sosial: mahluk sosial.

Banyak kajian memperlihatkan runtuhnya peradaban dlm sejarah manusia karena lemahnya organisasi yang menopang peradaban tersebut. Sehingga berorganisasi adalah sebuah kebutuhan bahkan keniscayaan bagi manusia.

Baca Juga :   Polisi Tahap II Kasus Pembakaran Mobil dan Pengrusakan Dealer Daihatsu

Dalam konteks itulah, sebutnya, kemampuan pengorganisasian menjadi sangat penting. Terlebih kehidupan manusia modern telah menjadi sangat kompleks dan terfragmentasi dalam berbagai bentuk indentitas. Organisasi adalah modal sosial bagi sebuah peradaban untuk terus bertahan dan berkembang.

Sehari sebelumnya, dalam sambutan mewakili Ketua IKT Manokwari, Patrix menyampaikan bahwa mahasiswa bukan saja memiliki tanggungjawab untuk menyelesaikan studi. Ia mengutip, kredo filsuf Romawi Kuno, Cicero, “Non nobis solum nati sumus ortusque nostri partem patria vindicat, partem amici. Kita tidak lahir hanya untuk diri kita. Negara dan masyarakat juga memerlukan perhatian kita.”

Menjadi mahasiswa adalah sebuah pilihan. Menjadi mahasiswa berarti memilih menjadi intelektual dgn segala konskuensinya. Dengan modal pengetahuan dan keilmuan, mahasiswa adalah kekuatan inti perubahan, agen perubahan, iron stock, agen rekayasa sosial.

“Mahasiswa tidak boleh hanya berdiri dan berkutat dalam menara gading kehidupan akademiknya , tetapi juga menjalankan fungsi sosialnya di tengah2 masyarakat, abdi masyarakat,” pesannya.

Mahasiswa Toraja juga diharapkan terus membangun interaksi yg kontruktif dengan lembaga kemahasiswaan lainnya. Tidak bersikap ekslusif dan memahami Manokwari dan tanah Papua sebagai ruang pelayanan bersama elemen pemuda lainnya. Kegiatan ini dititup dengan penyalaan api unggun di kawasan Tongkonan. (Red/Rls)

Pos terkait