Satu Nyawa Tak Berdosa Hilang Pada Operasi 303 Kecamatan Sopai Toraja Utara

Toraja Utara, Kabartimur.com— Operasi penggrebekan judi sabung ayam yang dilakukan oleh pihak kepolisian republik Indonesia di kecamatan Sopai Kabupaten Toraja Utara diwarnai dengan bunyi tembakan yang berentet. Sebagian warga mengibaratkan bunyi rentetan senjata tersebut mirip bunyi jagung yang disangrai dalam bahasa toraja ( Ba’te Dalle).

Dikutip dari berbagai media, operasi penegakan hukum pasal 303 KUHP tentang perjudian tersebut juga melibatkan satuan Brimob serta berhasil mengamankan puluhan orang, jumlah tersangka yang diamankan ini masih ada kejanggalan karena ada perbedaan jumlah yang disampaikan oleh Kanit Resmob Polda Sulsel Kompol Benny Pornika dengan kabidhumas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto.

Dikutip dari Seputarkitanews.net dengan judul berita Kompress Polda Sulsel Pengrebekan Besar Arena Judi Sabung Ayam dan Dadu di Toraja Utara, dengan narasumber Kombes Pol Didik Supranoto menuliskan bahwa Operasi yang dilakukan tepat pada pukul 13.30 WITA ini menghasilkan penangkapan 35 tersangka.

Sementara dari laman tvOnenews.com, dengan judul Pelaku Judi Sabung Ayam Kocar-Kacir Digrebek Polisi dengan narasumber Kanit Resmob Polda Sulsel Kombespol Benny Pornika menuliskan bahwa Polisi yang tiba di TKP, membuat para pelaku judi sabung ayam lari kocar-kacir, sehingga tim gabungan terpaksa melepaskan tembakan peringatan. Alhasil sebanyak 37 orang akhirnya berhasil ditangkap.

Baca Juga :   Batal Diautopsi, Sebab Kematian NT Dalam Tahanan Masih Misterius

Meski ada selisih dalam penjumlahan orang yang tangkap dari operasi tersebut namun yang pasti bahwa puluhan orang berhasil diamankan, sesuai informasi yang diterima oleh media Puluhan orang tersebut langsung dibawah ke Polda Sulawesi Selatan Minggu (30/3).

Selain keberhasilan petugas untuk mengamankan pelaku judi, Operasi penggrebekan yang melibatkan satuan Brimob di Kecamatan Sopai tersebut juga meninggalkan kisah yang tragis, dimana bunyi dari rentetan senjata yang dilepas oleh anggota Kepolisian di lokasi membuat salah satu orang Ibu mengalami trauma sehingga mengalami pendarahan dan keguguran kandungan.

Janin yang ada dalam kandungannya harus gugur pada saat operasi itu berlangsung, terlepas dari apakah operasi ini sesuai SOP atau tidak namun satu dampak yang diakibatkan adalah hilangnya satu nyawa yang tidak tahu apa-apa.

Ditemui Wartawan, Fatima Seorang ibu hamil berumur 3 bulan lebih yang mengalami pendarahan pada proses pengrebekan berlangsung mengaku mendengar bunyi tembakan yang sangat dekat dengan dirinya, selain rasa trauma yang dialami karena mendengar bunyi tembakan serta panik melihat orang yang lari berhamburan dirinya juga mengaku mengalami perlakukan yang tidak manusiawi dari aparat.

Baca Juga :   Anggota Polsek Sopai Akhirnya Menangkap Pelaku Pencurian Yang Beberapa Minggu Terakhir Meresahkan Warga Sopai

“saya dibentak untuk masuk kedalam rumah, saya bilang tidak bisa kak gerak ini kasian karena penaraahan kak, itu yang bikin saya sakit hati karena nabilanginkan itu polisi biar mati ko disitu” Aku Fatima menceritakan bahwa pada saat itu dirinya sudah mengalami pendarahan hebat, sebanyak tiga gumpalan darah.

Meski sempat mendapatkan perlakuan yang dianggapnya tidak manusiawi, Fatima kemudian masih sempat diantar oleh anggota berseragam Brimop menggunakan kendaraan operasional kepolisian ke rumah sakit Elim Rantepao.

“setelah negosiasi dengan polisi saya jalan kaki menuju mobil mereka, sebenarnya saya sudah tidak kuat lagi tapi tidak ada yang angkat, itupi polisi baru mau angkat saya keatas mobuil karena saya bilang sudah tidak kuat sekali, mereka antar kami ke rumah sakit, setelah kami turun dari mobil mereka langsung pergi, Ipar saya yang bantu urus administrasi rumahsakit untuk saya berobat” Jelasnya lagi.

Baca Juga :   DPRD Torut: Bawaslu Tajam, Hasil Pemilihan Berkualitas

Dikonfirmasi wartawan, petugas rumahsakit yang menangani Fatima dr. Dwiky Limbersia A, yang adalah dokter spesialis kandungan dan kebidanan menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan penanganan pembersihan kandungan pada pasien Fatima.

Dijelaskan bahwa janin pada kandungan pasiennya ketika sampai di rumah sakit memang sudah tidak ada, “ waktu saya periksa janinnya sudah tidak ada, tinggal darah-darah sisah yang terdeteksi dan sudah kami tangani dengan penanganan kuretase” jelasnya.

Lebih lanjut, dokter spesialis kandungan itu menjelaskan bahwa janin yang sudah berumur 3 bulan lebih sudah merupakan makluh hidup yang bernyawa. “ rasa trauma akibat kaget dengan bunyi-bunyian serta benturan misalnya jatuh memang bisa mengakibatkan keguguran, Cuma yang saya dengar dari ibu bahwa dia terjatuh” Kata dr. Dwiki * Soetanto*

Pos terkait