Antar Maskawin hingga Terjebak 3 Bulan di Wasior, Puluhan Warga Jayapura Berharap Bisa Pulang dengan KM Gunung Dempo

  • Whatsapp

WASIOR – Nasib kurang beruntung dialami puluhan warga Jayapura, Provinsi Papua. Sejak Maret lalu mereka tertahan di kota Wasior Kabupaten Teluk Wondama akibat pandemi Covid-19 yang berujung pada penutupan akses transportasi.

Akibatnya selama hampir tiga bulan terakhir ini mereka terpaksa bertahan hidup di kota Wasior dengan kondisi apa adanya. Mereka menumpang di salah satu rumah kerabat mereka di kota Wasior.

“Saudara dong semua ada sekitar 30 orang termasuk anak-anak. Dewasa ada 22 orang dan sisanya remaja dan anak-anak. Selama ini dorang tinggal di rumah adik perempuan yang suster di Wasior sini. Mereka tidak bisa pulang karena terkena ‘lockdown’, “ kata Tonny Yaung, salah seorang warga Jayapura yang sudah bermukim di kota Wasior, Selasa siang (16/6/2020) di RSUD Teluk Wondama di Manggurai.

Tonny menjelaskan, kedatangan saudara-saudaranya dari Jayapura ke Wasior pada Maret lalu dalam rangka mengantar maskawin untuk salah satu kerabat mereka yang menikah dengan orang Wondama. Mereka datang dengan kapal laut.

Baca Juga :   SD Inpres 108 Dipalang,Komisi A Minta Dinas Pendidikan Ambil Langkah

Namun mereka kemudian terjebak di Wasior lantaran tidak ada lagi kapal laut yang diizinkan berlayar. Kehabisan uang dan tak mendapat bantuan dari mana-mana membuat warga Jayapura itu bertahan apa adanya di rumah kerabat mereka.

Perasaan sedih, stres bahkan frustasi menjadi teman setia mereka setiap hari karena tak kunjung mendapat kepastian kapan bisa pulang ke kampung halaman. Terlebih lagi di tengah ketidakpastian itu mereka harus merasakan duka mendalam.

Salah satu orang tua mereka meninggal dunia akibat sakit baru-baru ini. Jasad sang ibupun terpaksa dikubur di Wasior karena tidak mungkin lagi dibawa pulang.

“Ibu kami sampai meninggal di sini dan tidak bisa dibawa pulang. Makanya kami mau bisa pulang dengan Kapal Demo (KM.Gunung Dempo) yang datang besok ini. Kitorang tidak mau menderita di sini lagi. Sudah tiga bulan ini kami tinggal di Wasior tanpa ada bantuan sama sekali dari pemerintah daerah di sini, “ ungkap Ida Mberi, salah satu dari rombongan Jayapura.

Baca Juga :   Tingkatkan Pengetahuan Para Dokter dan tenaga Kesehatan IDI Cabang Manokwari Gelar Rapat Kerja Pengurus

Untuk alasan itulah pada Selasa siang mereka mendatangi RSUD Teluk Wondama di Manggurai. Mereka sangat berharap bisa pulang ke Jayapura menggunakan KM. Gunung Dempo yang dijadwalkan merapa di pelabuhan Wasior pada Rabu malam.

Karena itu mereka ke RSUD untuk meminta dilakukan rapid test sebagai syarat untuk bisa mendapatkan surat karantina sekaligus syarat untuk bisa membeli tiket kapal dari PT. Pelni. Sempat terjadi keributan lantaran Tonny bersama saudara-saudaranya merasa pihak RSUD mempersulit mereka.

“Mereka (RSUD) menolak buat rapid test ke kami padahal kan bagus kalau ada masyarakat yang dengan suka rela mau di-rapid. Kami ini sudah dapat surat dari Jayapura yang kasih ijin untuk saudara-saudara ini bisa pulang dengan Dempo besok tapi di sini kok ditolak, ini yang kami tidak setuju, kami di suruh tinggal di Wasior terus mau makan apa, “ ujar Tonny dengan nada marah.

Baca Juga :   Pemerintah Dinilai Sebatas Mengumbar Angka Nilai Anggaran Covid19, Para Wakil Rakyat Bagaikan Pot Bunga Penghias Ruangan

Direktur RSUD Teluk Wondama dr. Yoce Kurniawan membantah pihaknya menolak melayani permintaan rapid test dari warga Jayapura sebagai syarat untuk bisa melakukan perjalanan kembali ke Jayapura. Keributan yang terjadi menurutnya hanya karena kesalahpahaman saja.

“Kami tidak menolak, kami di sini siap 24 jam yang penting syaratnya lengkap. Rapid untuk pelaku perjalanan tetap bisa dilakukan tapi harus dipastikan mereka ini bisa pulang atau tidak. Jadi tidak ada penolakan, tadi mungkin misskomunikasi saja, “ ujar dr Yoce sembari menenangkan Tonny bersama keluarganya yang tampak masih terbawa emosi.

Setelah dilakukan negosiasi beberapa saat, warga Jayapura itupun diizinkan melakukan rapid test. Namun demikian belum ada kepastian apakah mereka diizinkan untuk naik KM. Gunung Dempo atau tidak. Hingga berita ini diturunkan belum ada keterangan resmi dari Gugus Tugas maupun Pelni Wasior terkait nasib puluhan warga Jayapura itu. (Nday)

Pos terkait