Mengenal ‘Black Pearl’ dan Tekadnya Membangun SDM Anak Papua ke Level Internasional lewat Penguasaan Bahasa Inggris

  • Whatsapp

WASIOR – Bahasa Inggris adalah jendela dunia. Hal inilah yang mendorong komunitas ‘Black Pearl’ turun tangan dalam pengembangan sumber daya manusia di tanah Papua termasuk di Kabupaten Teluk Wondama melalui penguasaan Bahasa Inggris.

Bekerjasama dengan Klasis GKI Wondama, komunitas Black Pearl atau lengkapnya Black Pearl Network Perth Australia dalam dua bulan terakhir telah merintis pelatihan Bahasa Inggris bagi anak, remaja dan pemuda di Wondama.

Sedikitnya 200-an siswa yang terdiri atas pelajar SD, SMP, SMA/SMK serta para pemuda telah menjadi peserta kursus Bahasa Inggris yang diselenggarakan Black Pearl.

Komunitas Black Pearl sendiri diawaki oleh para anak muda asli Papua yang merupakan alumnus dari program APCEP (Australian Papuan Cultural Exchange Program) atau program pertukaran budaya Papua dan Australia yang berpusat di Perth, Australia.

 

Program ini memberi kesempatan bagi anak muda Papua usia 18-25 tahun untuk berangkat ke Australia guna mengembangkan kefasihan berbahasa Inggris sembari mempelajari budaya dan cara hidup penduduk di negeri Kanguru itu.

Dari situlah mereka kemudian terinspirasi membuat gerakan nyata untuk bisa memberikan kontribusi bagi pengembangan SDM di Tanah Papua melalui kegiatan kursus Bahasa Inggris.

“Kenapa kita pilih Bahasa Inggris sebenarnya bisa pelatihan lain. Karena Bahasa Inggris ini sudah jadi jembatan untuk dia buka ke luar (dunia internasional). Dia mau belajar apa saja bisa, dia mau ke mana saja bisa. Artinya banyak yang dia bisa kembangkan,” kata Fred Bundah Dimara, Program Manager Black Pearl ditemui di Wasior, Kamis (29/4/2021).

Fred menjelaskan kursus Bahasa Inggris yang dijalankan Black Pearl bertujuan untuk mempersiapkan generasi muda khususnya warga asli Papua agar bisa bersaing di level internasional.

Dengan penguasaan Bahasa Inggris yang baik diharapkan anak muda Papua bisa mengambil berbagai peluang baik di jenjang studi maupun kesempatan kerja di luar negeri.

“Jadi ini macam kegiatan ekstrakurikuler saja. Tapi tujuannya mempersiapkan anak-anak sejak dini untuk bisa kuasai bahasa Inggris. Karena ke depan ini kita mau memotivasi adik-adik tidak hanya bergantung ke daerah.

Karena banyak peluang sekarang ini untuk beasiswa jadi tidak hanya bergantung kepada beasiswa Pemda saja. Ada beasiswa dari negara-negara luar tidak perlu ke Pemda.

Mereka tinggal duduk di laptop atau googling di HP saja misalnya di Australia, Amerika, Jerman dan lainnya. Tapi memang syaratnya harus bisa bahasa Inggris,”ujar Fred yang pernah mengikuti Teacher Training English as Second Language di Perth Australia pada 2018.

Siapkan Dasar TOEFL

Kursus yang dijalankan Black Pearl difokuskan untuk mempersiapkan para peserta untuk bisa menguasai dasar berbahasa Inggris. Dasar berbahasa Inggris menjadi hal yang penting agar para peserta bisa memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara baik dan benar sejak usia dini.

Dengan begitu diharapkan mereka tidak lagi kesulitan jika mengikuti TOEFL (Test of English as a Foreign Language) atau tes sejenis yang selalu menjadi persyaratan untuk bisa mendapatkan beasiswa luar negeri maupun pekerjaan di negara luar.

“Jadi di kursus ini memang mempersiapkan dia punya basik, dasar Bahasa Inggris. Dasar Bahasa Inggrisnya sudah bagus nanti kalau mereka mau tes itu ada tes namanya TOEFL atau IELTS.

 

Kita ajar mereka di dasar sampai pada level yang namanya pre entermediate. Kalau pre entermediate itu mereka sudah bisa ikut persiapan untuk tes TOEFL karena basiknya sudah bagus,”jelas Fred.

“Jadi diajar listening (mendengar) itu bagaimana. Jadi kalau kita tidak kuasai dasar ini baru mau ikut TOEFL lebih baik tidak usah buang-buang uang saja.

Apalagi persyaratan beasiswa itu minta nilai TOEFL harus 500 minimal jadi harus di atas 500. Jadi otomatis mau sampai 500 itu harus basiknya bagus. Kalau dasar tidak ada, ulang-ulang juga tetap dapat 200 atau 300,” kata Fred.

Untuk metode pelatihan, Fred menjelaskan bentuk pembelajarannya lebih banyak di luar ruangan dengan menggunakan media-media tertentu yang menarik sehingga peserta kursus tidak merasa jenuh dan bosan.

Model pelatihannyapun mengadopsi pola pembelajaran seperti yang diterapkan di Australia.

“Di kursus ini ada beberapa program tambahan. Nanti kita buat setiap bulan ada namanya conversation class. Itu dia lebih fokus ke speaking. Conversation itu tidak di dalam kelas tapi di luar, entah di taman kah di pantai kah jadi dong tidak monoton di dalam kelas, jadi dong tidak jenuh.

Juga setiap bulan ada ibadah bersama. Dalam ibadah itu kita rancang untuk ibadah dalam bahasa Inggris jadi semua yang berpartisipasi mereka yang bawa liturgi, MC yang menyanyi itu semua dalam bahasa Inggris.

Jadi kita paksa mereka untuk semua harus bicara jadi tidak monoton saja jadi harus ada prakteknya,”terang Fred.

Selain itu, lanjut Fred, di Australia sudah ada beberapa pemuda yang siap menjadi volunteer atau relawan untuk menjadi sahabat pena dari peserta kursus di Wondama.

Nantinya peserta kursus di Wondama mengirim surat ke Australia kemudian mereka membalas. Hal ini dalam rangka melatih kemampuan writing alias menulis.

“Juga kita ada ibadah contoh kemarin ada ibadah Paskah lewat zoom, ibadah dengan mereka di Australia. Yang pimpin ibadah dorang di Australia, anak-anak ikut, dia mengerti kah tidak kah yang penting dia bisa dilatih untuk listening, mendengar. Langsung mendengar pengucapan orang barat.

Jadi kita rangsang anak-anak kreatif karena anak-anak lebih suka yang kreatif terutama memanfaatkan teknologi,” ucap Fred yang lama tinggal di Australia ini.

Dukung Program Pariwisata Wondama

Kehadiran Black Pearl di Teluk Wondama juga diilhami oleh sejarah masa lalu Wondama sebagai pusat pendidikan formal pertama di Tanah Papua.

Menurut Fred, dia bersama rekan-rekannya memiliki mimpi untuk bisa menghidupkan kembali predikat Wondama sebagai pusat pendidikan bagi orang asli Papua dengan ‘melahirkan’ anak muda Wondama yang bisa berbicara tidak hanya di level nasional tapi ke level internasional.

“Jadi betul-betul kita punya beban untuk mengembalikan itu (nama besar/sejarah masa lalu). Menaikkan citra pendidikan itu. Bahwa dari sinilah pendidikan itu sampai kita punya daerah di sini menghasilkan orang-orang hebat banyak,”ucap Fred yang pernah mengikuti program English for Academic Purpose di Bali pada 2011.

Target lain yang dibidik komunitas Black Pearl alias Mutiara Hitam ini adalah mencetak generasi muda Wondama yang bisa menjadi tenaga kerja siap pakai di bidang pariwisata.

Dengan kemampuan berbahasa Inggris yang baik, sekurang-kurangnya anak asli Wondama bisa menjadi pemandu wisata (guide) bagi setiap turis yang datang.

Apalagi pemerintah Australia juga menyiapkan program khusus untuk merangsang anak-anak muda Papua yang ingin mengembangkan diri lebih jauh lewat program APSEC yakni program pertukaran budaya antara Australia dan Papua.

Nantinya peserta kursus Bahasa Inggris yang berusia 18 tahun ke atas memiliki kesempatan untuk dikirim ke Australia melalui APSEC.

Mereka akan tinggal di Australia selama 3 bulan untuk memperdalam Bahasa Inggris sekaligus belajar budaya setempat.

“Jadi nanti mereka akan tinggal dengan host family jadi satu anak satu keluarga. Selama itu harus berupaya bisa bicara dalam bahasa Inggris. Di sana bisa dilatih naik bus, naik kereta. Bagaimana agar bisa jalan di kota dan pulang lagi ke rumah,”sebut Fred.

Karena itu dia berharap selain dengan pihak gereja, pelatihan Bahasa Inggris yang dirintis Black Pearl bisa mendapatkan respon dan dukungan dari Pemkab Teluk Wondama.

“Karena ini konek dengan program Pemda Wonadma yang ingin bangun wisata. Sehingga yang dipulau-pulau mereka tidak perlu cari tenaga (pemandu) lagi. Ketika turis datang mereka pu anak-anak sendiri sudah ada.

Anak-anak sendiri jalan cerita tempat ini dia pu sejarah begitu. Karena turis asing itu lebih suka kalau guide itu harus orang lokal,”ujar anak muda yang sudah melanglang buana ke sejumlah negara ini.

Jembatan untuk Dongkak SDM Wondama

Kepala SMP Negeri Dotir Frengki Semboari menilai kehadiran Black Pearl di Wondama melalui kegiatan pelatihan Bahasa Inggris telah membuka peluang dan kesempatan yang besar bagi pengembangan SDM generasi muda Wondama.

Frengki yang juga sebagai Ketua Lembaga PKBM Enewam Sainuy – lembaga yang bermitra dengan Black Pearl dalam pelaksanaan kursus Bahasa Inggris meyakini Black Pearl bisa menjadi jembatan untuk mengantakanr anak muda Wondama bisa berkiprah di level internasional.

Itu sebabnya diapun berharap Pemkab Teluk Wondama ikut mendukung dan memfasilitasi Black Pearl dalam menjalankan misinya membangun SDM Wondama terutama para pemuda melalui pengusaaan Bahasa Inggris.

“Bagi saya Black Pearl ini sudah jadi jembatan bagi kita. Saya sudah sampaikan ke Klasis (GKI Wondama) yang jadi fokus dalam waktu dekat ini adalah anak muda. Karena Wondama ini punya potensi wisata besar yang harus dikelola. Pemuda jadi ujung tombak. Jadi pemuda ini harus kita siapkan,” kata Frengki.

Mereka nanti bisa magang ke Australia, juga ke Jerman dan lain-lain. Jadi peluang besar terbuka sehingga perlu kita fokus siapkan mereka. Yang penting adalah kemampuan bahasa Inggris harus matang dulu.

Jadi saya berharap Pemda dan semua pihak yang ingin Wondama maju kita harus jaga barang ini supaya jangan sampai putus,” lanjut Frengki.

Meski baru dua bulan berjalan, Frengki menyebut saat ini sudah terlihat ada perkembangan positif dalam hal penguasaan bahasa Inggris yang diperlihatkan para peserta kursus baik di kelompok SD, SMP, SMA/SMK maupun para pemuda.

Dia juga  berharap pihak gereja serta Pemkab Teluk Wondama bisa memberikan dukungan yang maksimal sehingga misi mulia yang diusung Black Pearl untuk membawa anak-anak Wondama tampil di pentas global bisa tercapai.

“Saya anggap Black Pearl itu hadiah bagus dari Tuhan untuk Wodnama untuk anak-anak kita bisa kuasai bahasa Inggris sehingga peluang besar di luar itu bisa kita ambil.

Untuk kelas Wondama yang lagi jalan ini sudah ada perkembangan baik dan dengan kehadiran Black Pearl itu sangat membantu. Black Pearl siap juga melatih tutor dari (PK BM)Enewam. Jadi kita kerja bersama untuk berdayakan anak-anak Wondama, “ ucap Frengki. (Nday)

Pos terkait