Kontes Burung Berkicau, Karantina Klaim 80 persen Burung Yang Dilombakan Ilegal

  • Whatsapp

MANOKWARI- Kontes Burung Berkicau yang dilaksanakan dalam rangka memeriahkan Hut Kemerdekaan RI Ke-73 di Gedung Wanita, Sabtu (18/8/18), mendapat sorotan keras dari Karantina Manokwari.

Hal ini dikarenakan sebanyak 80 persen burung yang dilombakan dinyatakan ilegal karena didatangkan dari luar dan pemiliknya tidak mengantongi ijin Karantina.

drh. Jublyana Purba atas nama Karantina Manokwari menegaskan bahwa aturan memasukkan unggas ke Manokwari sudah diatur dalam Perbub Nomor 3 Tahun 2005 Tentang Pemasukan Unggas dan Produknya ke kabupaten Manokwari.

” Sebanyak 80 persen dari burung yang dilombakan berasal dari luar Manokwari, dan tidak memiliki ijin dari Karantina, karena kalau legalitasnya ada, dipastikan unggas tersebut terjamin kesehatannya,dan sudah diatur bahwa unggas tidak boleh dimasukkan ke Manokwari,” terang Jublyana.

Dirinya mengaku sudah berkoordinasi langsung dengan bupati untuk ditindaklanjuti terkait surat bupati tersebut.

Jublyana menjelaskan pihaknya berniat baik mempertanyakan legalitas unggas yang dimasukkan ke Manokwari, bukan untuk mencari-cari kesalahan event pameran tersebut.

” Karena dampaknya sangat berbahaya jika ternyata unggas yang dimasukkan berpenyakit,” jelas Jubyana.

Kontes Burung Berkicau dilaksanakan oleh KMM yang merupakan organisasi atau wadah bagi para penggemar burung berkicau yang ada di kabupaten manokwari. Para Juri dan koordinator yang terlibat telah bersertifikat dari jayapura.

Kontes burung nerkicai dibuka oleh Wakil Bupati Manokwari, Edi Budoyo.

Budoyo berharap komunitas pecinta burung di Manokwari dapat dikenal dan merupakan sumber pendapatan tersendiri dari ekonomi kreatif maupun hobby yang menjadikan manokwari salah satu wisata burung yang membanggakan.

“Komunitas pecinta burung berkicau dapat memprogramkan kegiatan ini secara baik untuk memperkenalkan hobby menumbuhkan semangat melestarikan lingkungan hidup salah satunya dengan melestafikan burung yang memiliki sumber daya yangositif tanpa merusak atau menganggu habitat ekosistemnya,” terang Edi Budoyo.

Pos terkait