Peringatan Hari Film Nasional, Fakultas Sastra dan Budaya UNIPA Gelar Pekan Sinema Sastra 2024

Manokwari, kabartimur.com – Tim Pengabdian kepada Masyarakat antara dosen dengan mahasiswa Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua berkolaborasi dengan Komunitas Kasuari UNIPA menyelenggarakan Pekan Sinema Sastra 2024, Nobar dan Diskusi dalam rangka memperingati Hari Film Nasional yang jatuh pada tanggal 30 Maret setiap tahunnya.

Pemutaran film ini dilakukan selama satu pekan pada Senin-Jumat, 25-29 Maret 2024 bertempat di Perpustakaan Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua. Tiap pemutaran film dipandu oleh pembawa acara dan narasumber dari unsur mahasiswa dan pada sesi diskusi dipandu oleh moderator dari unsur dosen.

Bacaan Lainnya

Film berjudul Please Be Quite karya sutradara William Adiguna adalah yang pertama diputar pada Senin, 25 Maret 2024 pukul 15.30-18.00 WIT. Dipandu oleh moderator Fiona D.N. Luhulima, S.S., M.TransInterp. dosen Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra dan Budaya. Narasumber saat itu adalah Gustriany, mahasiswi Jurusan Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Papua yang merupakan anggota dari komunitas Kasuari Unipa. Film Please Be Quite mengajarkan tentang pentingnya perempuan menghadapi ancaman kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan kerja, bahkan lingkungan perkuliahan.

“Dari kegiatan ini akhirnya tong bisa tahu bahwa dengan smartphone yang kitong punya, itu bisa membantu menjadi alat untuk merekam barang bukti jika tong mengalami pelecehan atau kekerasan seksual, baik secara fisik, verbal, maupun psikis. Sangat bermanfaat!” Terang Marlen Noya, mahasiswi Jurusan Antropologi Fakultas Sastra dan Budaya UNIPA.

Hari kedua pemutaran film pada Selasa, 26 Maret 2024 dipandu oleh moderator Estiani Ambarwati, S.Hum., M.S. dosen Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya. Narasumber saat itu adalah Dodanu I.H. Mofu, mahasiswi Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra dan Budaya. Film yang diputar yaitu film Maybe Someday, Another Day, But Not Today karya sutradara Bihar Jafarian. Film tersebut menyadarkan penonton bahwa dalam hidup berumah tangga perlu membagi porsi peran secara berimbang, agar tidak ada kesan bahwa istri hanya sebatas asisten rumah tangga yang berkutat pada dapur, sumur, dan kasur saja.

Baca Juga :   Papua Muda Inspiratif Sosialisasikan Pencegahan Virus Corona

“Sebegitu pentingnya komunikasi dan keterbukaan dalam sebuah hubungan, apalagi hubungan rumah tangga. Jika tidak, maka istri hanya akan diperlakukan seperti pembantu.” Kata Nandini Cantika, mahasiswi Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra dan Budaya UNIPA.

Film tentang pentingnya menjaga integritas dan komitmen dalam kerja sama, menjadi film yang diputar pada hari ketiga Pekan Sinema Sastra 2024 yaitu film berjudul Loz Jogjakartoz karya sutradara Sidharta Tata. Nobar dan Diskusi saat itu dipandu oleh Yeni Yulia Andriani, S.S., M.A., Ketua Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua. Narasumber pada sesi tersebut yaitu Florense E. Smori, mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya.

“Kita sangat dimanjakan dengan pencahayaan dan pewarnaan film yang tidak biasa. Dibalut dengan simbol manuk (burung) yang dibawa sepanjang film, membuat tertawa sekaligus bertanya-tanya. Seru!” Kata Donny Pahlevi, mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UNIPA.

Genre horor bertemakan religi menjadi pilihan film yang diputar pada hari keempat, Kamis, 28 Maret 2024. Film tersebut berjudul Siksa Kubur karya sutradara Joko Anwar. Moderator pada sesi tersebut yaitu Alfando Luas, S.Si.Teol., M.Si., Sekretaris Jurusan Antropologi Fakultas Sastra dan Budaya, sementara yang menjadi narasumber adalah Fidel Aser Kadema yang merupakan mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya.

“Ini menjadi film dengan durasi terpendek namun diskusinya paling panjang. Sungguh karya fenomenal yang membuka banyak cakrawala. Masterpiece!” Ujar Sarah Wihyawari, mahasiswi Jurusan Biologi Fakultas MIPA UNIPA.

Hari terakhir pemutaran film ditutup dengan film bergenre komedi, lagi-lagi dengan tema religi. Film tersebut berjudul Shohibul karya sutradara Lucky Eka Candra S.. Membahas tentang toleransi beragama yang dibawakan secara komedi, selalu menarik untuk didiskusikan. Nobar dan diskusi dipandu oleh Yulia Putri Paradida, S.S., M.Si., dosen sekaligus penjamin mutu Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya. Narasumber pada hari terakhir pemutaran film yaitu Abdul Rasad Rumaminanan, mahasiswa Jurusan Antropologi Fakultas Sastra dan Budaya Unipa.

Baca Juga :   Ciptakan Lingkungan Bersih, Prodi Manajemen FEB Unipa, Gelar Seminar dan Praktek Pengelolaan Sampah

“Toleransi dalam beragama akan sangat mudah dilakukan jika kita punya social skill yang baik, dan itu sangat bisa dipelajari. Sangat menarik berkegiatan di Fakultas Sastra dan Budaya, karena melalui kegiatan ini, dapat membuat kita untuk berpikir lebih kritis.” Kata Hesron, mahasiswa Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian UNIPA.

“Pengabdian kepada masyarakat adalah satu dari tridharma perguruan tinggi yang harus dilaksanakan oleh sivitas akademika pada setiap semester. Pada kali ini, dalam rangka merayakan Hari Film Nasional, kami menyelenggarakan Pekan Sinema Sastra: Nobar dan Diskusi film. Mahasiswa/i perlu diberi banyak ruang untuk berekspresi dan mengeksplorasi bakat serta kemampuannya, termasuk kemampuan berpikir kritis dalam menganalisis sebuah karya seni seperti film. Selain itu, potensi mahasiswa/i dalam mengapresiasi karya sastra maupun karya seni juga perlu diberi ruang seluas-luasnya, itulah kenapa Komunitas Kasuari dibentuk. Hal ini juga dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa/i untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan pada wisuda periode I Universitas Papua mendatang, yaitu surat keterangan pendamping ijazah (SKPI).” Ujar Muhammad Hussen, S.S., M.S., Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama, sekaligus Pembina Komunitas Kasuari.

“Acara nobar dan diskusi selama satu pekan ini merupakan bentuk penghargaan kita terhadap kekayaan budaya Indonesia dalam dunia sinema dan sastra. Melalui film dan sastra, kita menjelajahi alam pikiran, emosi, dan keindahan yang tak terhingga.” Jelas Gadis Nadia Fernanda, mahasiswi semester II Jurusan Sastra Indonesia sekaligus ketua panitia Pekan Sinema Sastra 2024: Nobar dan Diskusi dalam rangka memperingati Hari Film Nasional.

Baca Juga :   Objek  Wisata Rumah Kaki Seribu Dibangun di Kampung Kwau

“Kasuari adalah akronim dari Kelompok Apresiasi Sastra Universitas Papua Manokwari, yaitu komunitas literasi yang bergerak di bidang seni, sastra dan budaya. Kegiatan kami berada di sekitar membaca dan menulis puisi, menulis novel dan cerpen, bermain drama, tari, dan musik, juga belajar berorganisasi. Aktivitas komunitas kami dapat dipantau melalui akun instagram @kasuari_unipa. Besar harapan kami, komunitas ini dapat membantu kami memenuhi kebutuhan atas SKPI sebagai salah satu syarat kelulusan.” ujar Hilda M. Maruapey, mahasiswi semester IV Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya sekaligus Ketua Komunitas Kasuari UNIPA.

Penyelenggaraan Pekan Sinema Sastra 2024: Nobar dan Diskusi, mendapatkan antusias yang luar biasa dari mahasiswa/i di berbagai fakultas di UNIPA, bahkan juga dihadiri oleh mahasiswa/i dari luar Universitas Papua. Selama lima hari kegiatan tersebut dilaksanakan, tidak kurang dari 100 penonton turut berpartisipasi untuk nonton bareng dan juga berdiskusi mengenai film yang diputar setiap harinya.

“Antusiasme penonton paling terasa ketika pemutaran film Siksa Kubur karya sutradara Joko Anwar. Tidak hanya paling banyak dihadiri penonton, tapi juga paling banyak memantik diskusi. Sehingga kegiatan berjalan begitu larut, bahkan sampai buka puasa bersama di Perpustakaan Fakultas Sastra dan Budaya. Banyak permintaan agar lebih banyak memutar film bergenre horor, genre yang paling banyak disukai penikmat film di Indonesia. Sehingga saya mulai mempertimbangkan untuk merayakan Halloween pada Oktober 2024 mendatang dengan kegiatan marathon nobar film horor semalam suntuk.” Jelas Muhammad Hussen.

“Semoga ketika mahasiswa/i selesai mengikuti kegiatan ini, mereka menjadi semakin berani berbicara dan berdiskusi di dalam ruang kelas dan ruang-ruang akademik lainnya. Semoga mereka juga dapat mengambil pelajaran yang positif dari apa yang ditampilkan dalam layar sinema maupun dari hasil diskusi yang dialami.” Tutup Hendrik Arwam, S.S., M.Hum, Dekan Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua.(Red/*)

Pos terkait