Mambor Tetapkan Penggunaan Batik Khas Wondama Setiap Hari Kamis

WASIOR – Bupati Teluk Wondama Hendrik Mambor menetapkan penggunaan pakaian batik khas Wondama pada setiap hari Kamis bagi PNS maupun jajaran ASN lainnya di lingkup Pemkab Teluk Wondama juga instansi vertikal serta karyawan BUMD/BUMN.

Keputusan diambil sebagai upaya untuk mengangkat dan melestarikan budaya dan tradisi asli Teluk Wondama.

Bupati mengumumkan keputusan itu pada penutupan Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Teluk Wondama di Taman Masasoya Topai Wasior, Rabu lalu.

“Kita sepakat hari Kamis kita gunakan pakaian batik khas Wondama. Dan makanan minuman di OPD (harus) pangan lokal. Nanti dibuatkan regulasinya agar bisa diberlakukan secara menyeluruh, “ujar bupati saat memberikan pidato penutupan PKD.

Penetapan penggunaan pakaian batik khas Wondama juga merupakan tindak lanjut dari deklarasi yang dihasilkan dalam tiga hari pelaksanaan PKD.

Ada 5 poin deklarasi yang menjadi kesepakatan bersama para budayawan, seniman, tokoh adat dan tokoh masyarakat juga para pemerhati budaya di Teluk Wondama.

Baca Juga :   Janjikan Pendidikan Gratis, Paulus Indubri : Tak Boleh Ada Anak Wondama yang Tidak Sekolah karena Tak Ada Biaya Pendaftaran

Deklarasi itu dibacakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kristian Mambor pada penutupan PKD.

Pertama, menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk ikut serta dalam upaya pelestarian budaya daerah, melindungi kearifan lokal, merawat serta menghormati kebudayaan daerah Teluk Wondama.

Kedua, menetapkan batik dan noken khas Teluk Wondama untuk digunakan setiap hari Kamis oleh pejabat sipil dan ASN Pemda dan instansi vertikal serta karyawan pada BUMD/BUMN.

Ketiga, menyerukan kepada pemerintah untuk lebih serius memfasilitasi pelestarian pengkajian publikasi dan edukasi budaya daerah demi memajukan kebudayaan yang berdaya saing menuju Indonesia Emas tahun 2045.

Keempat, mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk terus berkreasi, berinovasi dalam mempromosikan pengetahuan dan nilai-nilai budaya daerah di era digital agar manfaatnya semakin dirasakan oleh masyarakat.

Dan kelima, menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk menjaga toleransi antar umat beragama, suku dan budaya di Kabupaten Teluk Wondama.

Baca Juga :   Pasien Covid-19 yang Meninggal Bukan Penduduk Wondama, Sumber Penularan Belum Diketahui

Bupati berharap Pekan Kebudayaan Daerah bisa menjadi momen untuk mengembalikan budaya dan tradisi asli Teluk Wondama yang sudah mulai pudar bahkan hilang akibat tergerus budaya modern.

“PKD kiranya dapat mengembalikan budaya-budaya kita yang sudah mulai hilang, mulai terkikis. Di Wondama beberapa nilai-nilai budaya mulai terkikis, mulai hilang jadi kalau tidak kita jaga nanti hilang, “ ujar orang nomor satu Wondama. (Nday)

 

 

Pos terkait