Edisi khusus HKG PKK ke-54 Tahun 2026: Menelusuri perjalanan Ny. Hj. Siti Nur Ubaid, perempuan yang menapaki pengabdian dari pelosok desa hingga menggerakkan pemberdayaan keluarga di Halmahera Timur

Sitinur Ubaid: Dari Bidan Desa hingga Menggerakkan Perjuangan Melawan Stunting di Halmahera Timur

Catatan: M. Andi Haliun, S.S.

MABA, Kabartimur.com- Tidak semua pengabdian bermula dari ruang kerja yang nyaman, fasilitas memadai, atau kemudahan akses. Sebagian justru tumbuh dari tempat-tempat terpencil, ketika listrik belum tersedia, komunikasi masih terbatas, dan perjalanan menuju desa lain harus ditempuh menggunakan perahu dayung.

Dari ruang pengabdian yang penuh keterbatasan itulah, perjalanan Ny. Hj. Sitinur Ubaid menemukan maknanya.

Perempuan kelahiran Soagimalaha ini dikenal sebagai istri Bupati Halmahera Timur sekaligus Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Halmahera Timur. Namun, di balik peran tersebut, terdapat perjalanan panjang yang tidak dapat dilepaskan dari pengalamannya sebagai bidan desa di wilayah terpencil.

Sebelum terlibat dalam berbagai gerakan pemberdayaan keluarga, Hj. Iti sapaan yang akrab digunakan orang-orang di sekitarnya—telah lebih dahulu berhadapan langsung dengan realitas kehidupan masyarakat pelosok. Di tengah keterbatasan fasilitas, pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian menjadi bekal penting dalam menjalankan tugas pelayanan kesehatan.

Pengalaman itu bukan sekadar catatan perjalanan profesi. Ia menjadi bagian dari kisah pengabdian yang mempertemukannya dengan kebutuhan masyarakat secara langsung.

Di wilayah terpencil, pelayanan tidak selalu bisa menunggu sampai keadaan menjadi mudah. Ada warga yang membutuhkan pertolongan, ada keluarga yang memerlukan pendampingan, dan ada jarak geografis yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui instruksi dari kejauhan.

Bagi saya, M. Andi Haliun, yang pernah menjadi bagian dari kepengurusan TP-PKK Kabupaten Halmahera Timur periode 2020–2025, pengalaman tersebut memberikan konteks penting untuk memahami perjalanan Hj. Iti. Kedekatan dengan masyarakat bukan hanya dibangun melalui agenda organisasi, tetapi juga melalui pengalaman bekerja di tengah keterbatasan yang benar-benar dirasakan warga.

Menembus Jarak, Mendekati Masyarakat

Halmahera Timur memiliki tantangan geografis yang tidak sederhana. Di sejumlah wilayah, jarak antardesa dan keterbatasan transportasi menjadi hambatan dalam menjangkau masyarakat. Dalam kondisi tertentu, perjalanan menuju desa-desa yang belum terhubung jalan harus dilakukan menggunakan perahu dayung.

Perjalanan seperti itu bukan sekadar persoalan mobilitas. Ada waktu, tenaga, dan keselamatan yang harus diperhitungkan. Namun, bagi mereka yang menjalankan tugas pelayanan, keterbatasan akses tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kebutuhan masyarakat.

Di tengah kenyataan tersebut, kesederhanaan memperoleh makna yang lebih dalam. Bukan sekadar bagaimana seseorang menampilkan diri, melainkan bagaimana ia memahami kesulitan masyarakat dan bersedia mendekat untuk mendengarkan kebutuhan mereka.

Orang-orang yang mengenal Hj. Iti menggambarkannya sebagai sosok yang sederhana dan komunikatif. Karakter tersebut menjadi modal penting dalam membangun hubungan dengan masyarakat maupun kader yang bekerja di tingkat kecamatan dan desa.

Dalam gerakan sosial, komunikasi bukan perkara kecil. Kader membutuhkan ruang untuk menyampaikan persoalan, masyarakat perlu didengar, dan program memerlukan kerja sama agar dapat berjalan secara berkelanjutan.

Pendekatan yang terbuka dapat membantu memperkecil jarak antara organisasi dan masyarakat. Persoalan yang dihadapi keluarga di desa dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun kegiatan dan menentukan bentuk pendampingan yang dibutuhkan.

Baca Juga :   Finishing Jembatan Soagimalaha Telan Rp4,270 Miliar, Progres Baru 75 Persen

Pada akhirnya, kesederhanaan seorang pemimpin tidak cukup dinilai dari penampilan atau gaya hidup. Nilainya terlihat ketika ia bersedia mendengar keluhan, memahami keterbatasan, dan mendorong agar kebutuhan masyarakat memperoleh perhatian.

Stunting, Perjuangan yang Dimulai dari Keluarga

Salah satu agenda penting dalam pemberdayaan keluarga adalah pencegahan stunting. Persoalan ini tidak cukup dipahami sebagai gangguan pertumbuhan anak semata. Stunting berkaitan dengan pemenuhan gizi, kesehatan ibu, pola pengasuhan, sanitasi, akses pelayanan kesehatan, serta kondisi sosial ekonomi keluarga.

Karena itu, pencegahan stunting membutuhkan pendekatan yang konsisten dan berkelanjutan, terutama di wilayah yang memiliki tantangan geografis dan keterbatasan akses pelayanan.

Edukasi gizi harus menjangkau keluarga. Pemantauan pertumbuhan anak perlu diperkuat, sementara ibu hamil dan balita harus memperoleh perhatian sesuai kebutuhan mereka. Semua itu membutuhkan kerja bersama antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader PKK, posyandu, dan masyarakat.

Melalui gerakan PKK yang menjangkau 10 kecamatan dan 102 desa di Halmahera Timur, terdapat ruang besar untuk memperluas edukasi keluarga, memperkuat kapasitas kader, serta mendorong masyarakat lebih memahami pentingnya kesehatan ibu dan anak.

Tantangannya bukan hanya menyampaikan pentingnya makanan bergizi, tetapi juga membantu keluarga menemukan cara memenuhi kebutuhan gizi sesuai kemampuan dan potensi pangan lokal.

Edukasi perlu berjalan seiring dengan pendampingan, pemantauan tumbuh kembang anak, penguatan pola pengasuhan, serta peningkatan akses terhadap layanan kesehatan. Dengan demikian, pencegahan stunting tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di sinilah pengalaman Hj. Iti sebagai mantan bidan desa memiliki relevansi dalam perjalanan pengabdiannya. Pengalaman bekerja di tengah keterbatasan pelayanan kesehatan memberikan perspektif tentang pentingnya kehadiran, komunikasi, dan pendampingan langsung kepada masyarakat.

Keberhasilan program kesehatan keluarga tidak cukup mengandalkan instruksi. Diperlukan kader yang aktif, koordinasi lintas sektor, serta kesediaan untuk menjangkau keluarga yang tinggal jauh dari pusat pelayanan.

Meski demikian, penanganan stunting tidak dapat dibebankan kepada TP-PKK semata. Pemerintah daerah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, keluarga, dunia usaha, dan masyarakat harus mengambil bagian sesuai peran masing-masing.

TP-PKK memiliki ruang strategis untuk membangun kesadaran keluarga, menggerakkan kader, dan menjembatani program agar lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Ukuran keberhasilan pun tidak semestinya berhenti pada jumlah sosialisasi atau kegiatan yang terlaksana. Hal yang lebih penting adalah perubahan yang dapat dirasakan: meningkatnya pemahaman keluarga tentang gizi, terpantau dengan baiknya pertumbuhan anak, serta semakin mudahnya masyarakat memperoleh pendampingan dan pelayanan yang diperlukan.

Genting dan Semangat Gotong Royong

Salah satu pendekatan yang dapat memperkuat upaya pencegahan stunting adalah Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting).

Baca Juga :   Gelar Rakor Pemutakhiran Periode ke II KPU Haltim Tetapkan Data Pemilih Sebanyak 58.077

Genting mendorong keterlibatan berbagai pihak untuk membantu keluarga yang membutuhkan dukungan dalam pemenuhan kebutuhan anak, termasuk gizi dan pendampingan sesuai kondisi masing-masing keluarga.

Gerakan ini membuka ruang kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya. Semangat yang dibangun adalah menjadikan pencegahan stunting sebagai tanggung jawab bersama, bukan semata-mata beban keluarga.

Dalam konteks Halmahera Timur, keterlibatan kader PKK di kecamatan dan desa dapat menjadi salah satu penggerak untuk memperluas edukasi mengenai makanan bergizi seimbang, pola pengasuhan, kesehatan ibu dan anak, serta pentingnya pemantauan pertumbuhan balita.

Namun, agar gerakan tersebut memberi manfaat yang berkelanjutan, diperlukan pendataan keluarga sasaran, koordinasi dengan tenaga kesehatan, serta pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat.

Harapannya, semakin banyak pihak terlibat dan semakin luas pula jangkauan dukungan bagi keluarga yang membutuhkan. Dengan kerja bersama, kebutuhan anak dapat memperoleh perhatian yang lebih baik, termasuk bagi mereka yang tinggal di wilayah dengan akses pelayanan terbatas.

Dari Pengalaman Pribadi Menuju Pengabdian Sosial

Perjalanan Hj. Iti dari bidan desa di wilayah terpencil hingga menjadi Ketua TP-PKK memperlihatkan satu benang merah: pengabdian yang berangkat dari kedekatan dengan masyarakat.

Profesi bidan mempertemukannya secara langsung dengan kebutuhan kesehatan ibu dan anak. Sementara itu, amanah di TP-PKK memperluas ruang pengabdian ke berbagai aspek kehidupan keluarga, mulai dari kesehatan, pendidikan, pengasuhan, hingga pemberdayaan ekonomi.

Kedua ruang pengabdian tersebut memiliki titik temu. Keduanya membutuhkan kesabaran, kemampuan berkomunikasi, dan kepekaan terhadap persoalan masyarakat. Keduanya juga mengajarkan bahwa perubahan tidak selalu berlangsung cepat, tetapi membutuhkan pendampingan dan kerja yang terus-menerus.

Dalam pandangan saya, nilai kesederhanaan dan komunikasi yang melekat pada sosok Hj. Iti akan memperoleh makna yang lebih luas apabila diterjemahkan menjadi kerja organisasi yang terukur, program berkelanjutan, dan manfaat yang benar-benar dirasakan keluarga hingga ke pelosok desa.

Sebab, kepemimpinan dalam gerakan pemberdayaan bukan hanya tentang menjadi wajah sebuah organisasi. Lebih dari itu, kepemimpinan merupakan tanggung jawab untuk menggerakkan banyak orang menuju tujuan bersama serta memastikan masyarakat tidak tertinggal akibat kondisi geografis dan keterbatasan akses.

Kado Pengabdian untuk HKG PKK ke-54

Peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54 Tahun 2026 menjadi momentum untuk merefleksikan kembali arti gerakan pemberdayaan keluarga.

Bagi Halmahera Timur, momentum ini memiliki arti tersendiri karena kabupaten tersebut menjadi tuan rumah peringatan HKG PKK tingkat Provinsi Maluku Utara.

Kesempatan menjadi tuan rumah bukan sekadar berkaitan dengan penyelenggaraan acara. Momentum ini juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat koordinasi, memperkenalkan kerja para kader, dan menunjukkan bagaimana gerakan PKK berupaya menjawab tantangan keluarga di wilayah dengan kondisi geografis yang beragam.

Di balik kegiatan dan pertemuan resmi, terdapat kerja panjang para kader di desa-desa. Mereka mendampingi keluarga, menyampaikan edukasi, menjalankan kegiatan masyarakat, dan menjadi penghubung antara kebutuhan warga dengan program pemberdayaan.

Baca Juga :   Polres Haltim Gelar Pemusnahan Hasil Ops Pekat Kie Raha1 2O22

Peran Ketua TP-PKK penting untuk menjaga semangat tersebut, memperkuat kapasitas kader, dan mendorong agar program tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

Terlebih dalam upaya pencegahan stunting, kesinambungan kerja menjadi kebutuhan utama. Kesehatan dan pertumbuhan anak tidak dapat menunggu hingga sebuah agenda peringatan selesai dilaksanakan.

Bagi Hj. Iti, perjalanan dari pelayanan kesehatan di daerah terpencil menuju gerakan pemberdayaan keluarga merupakan bagian dari kisah pengabdian yang layak dikenang. Bukan semata-mata karena jabatan yang melekat, melainkan karena pengalaman yang mempertemukannya dengan arti keterbatasan dan pentingnya kehadiran bagi masyarakat.

Sebagai seseorang yang pernah menjadi bagian dari kepengurusan TP-PKK Kabupaten Halmahera Timur, saya memandang perjalanan tersebut sebagai pengingat bahwa pengabdian memiliki banyak bentuk.

Ada pengabdian yang terlihat di panggung kegiatan resmi. Namun, ada pula pengabdian yang tumbuh dalam perjalanan panjang menuju desa, di tengah keterbatasan fasilitas, dan melalui upaya memahami kebutuhan keluarga dari dekat.

Pengalaman sebagai bidan desa memberikan konteks penting untuk membaca perjalanan itu. Pada saat yang sama, setiap program pemberdayaan tetap perlu dinilai berdasarkan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.

Tulisan ini saya persembahkan sebagai kado dalam peringatan HKG PKK ke-54 Tahun 2026. Lebih dari sekadar ucapan selamat, tulisan ini merupakan penghargaan terhadap perjalanan seorang perempuan yang pernah bekerja di tengah keterbatasan dan kemudian memikul tanggung jawab pemberdayaan keluarga dalam lingkup yang lebih luas.

Pengabdian yang Diukur dari Manfaat

Pad akhirnya, ukuran pengabdian bukan semata-mata jabatan yang pernah disandang atau banyaknya kegiatan yang diselenggarakan. Ukurannya juga terletak pada seberapa jauh masyarakat merasa didengar, seberapa nyata keluarga memperoleh manfaat, dan seberapa kuat semangat pelayanan terus dijaga.

Dari Maba hingga pelosok Halmahera Timur, perjalanan Hj. Iti mengingatkan kita bahwa pembangunan keluarga membutuhkan lebih dari sekadar program. Ia membutuhkan kepedulian, keberanian untuk hadir, dan kesediaan untuk terus bekerja bersama masyarakat.

Penghargaan paling bermakna bagi seorang penggerak PKK bukan hanya tepuk tangan dalam sebuah perayaan. Penghargaan itu hadir ketika keluarga semakin memahami pentingnya kesehatan, anak-anak memperoleh perhatian yang lebih baik, perempuan memiliki ruang untuk berkembang, dan masyarakat di desa terpencil merasa tidak berjalan sendirian.

Pada HKG PKK ke-54 Tahun 2026, kisah Hj. Iti menjadi pengingat bahwa pengabdian perempuan dapat tumbuh dari tempat sederhana, ditempa oleh keterbatasan, dan menemukan maknanya ketika kepentingan masyarakat tetap menjadi tujuan utama.

Sebab, pembangunan keluarga tidak hanya dimulai dari program besar. Ia juga bermula dari keberanian menembus jarak, kesediaan mendengar, dan ketulusan untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Dari desa terpencil, pengabdian itu berlanjut. Dari keluarga, perubahan diharapkan tumbuh. Dan dari Halmahera Timur, semangat pemberdayaan keluarga diharapkan terus bergerak. (*)

Pos terkait