Ferdinan Shabu, Mantan Sopir Angkot yang Jadi Pastor Tetap Pertama Gereja Katolik Wasior

  • Whatsapp

WASIOR – Gereja Katolik Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat akhirnya memiliki seorang gembala umat yang bisa secara rutin memberikan pelayanan rohani kapanpun dibutuhkan.
Adalah Pastor Ferdinand Sabhu Djuani, Pr yang menjawab kerinduan umat katolik Teluk Wondama setelah menanti lebih kurang 13 tahun lamanya semenjak gereja katolik pertama di Wondama berdiri pada 2006 silam.

Ferdinand ditabhiskan menjadi pastor pada 1 Maret 2019 di Manokwari. Oleh Uskup Manokwari-Sorong, Mgr Hilarion Datus Lega, Ferdinan ditugaskan menjadi pastor tetap di Stasi Santo Laurensius Wasior untuk melayani umat katolik di Wondama.

Segenap umat Katolik Wondama menyambut Pastor Ferdinan dengan penuh sukacita. Arak-arakan dan prosesi adat digelar khusus untuk menyambut kedatangan imam kelahiran Flores, NTT ini, Senin pagi. Selanjutnya digelar misa perdana secara meriah di gereja Santo Laurensius Wasior pada Senin malam.

Pastor Ferdinan sejatinya bukan orang baru bagi umat Katolik Wasior. Sebelum ditahbiskan menjadi pastor, Ferdi, demikian panggilan karibnya menghabiskan masa orientasi pastoralnya sebagai frater di Stasi Laurensius Wasior selama lebih kurang 3 bulan.

“Saya merasa terkesan sekali tinggal di Wasior. Umat sekalian begitu mendukung saya sehingga saya akhirnya ditahbiskan menjadi imam. Dan harapan bapak mama sekalian akhirnya terjawab to.. saya ditugaskan Bapak Uskup untuk menjadi pastor tetap di sini, “ kata Pastor Ferdi.

Meski sudah tertarik menjadi pastor sejak masih duduk di SD, perjalanan menjadi imam katolik tidak dilalui mudah. Ferdinan bahkan sempat putus asa dan kemudian keluar dari seminari, sekolah calon pastor setingkat SMA di Flores.

Tanpa memberitahukan kedua orang tuanya, Ferdinan memilih kabur ke Surabaya. Karena tak ada pekerjaan, Ferdipun nekat menjadi sopir angkutan kota untuk bisa menyambung hidup.

“Karena sopir baru saya sempat masuk jalur (trayek) yang salah. Akhirnya saya dipukul oleh sopir lain sampai muka ini penuh darah. Mereka bicara dalam bahasa Madura jadi saya tidak mengerti tapi kemungkinan yang satu orang bilang mau kasih rubuh saya punya gigi. Syukurlah tidak jadi sehingga saya selamat, “ kisah Pastor Ferdi dengan logat kental khas Flores.

Tidak hanya umat katolik, kebahagiaan juga dirasakan Bupati Bernadus Imburi yang bersama sang isteri Merlin Lekito ikut hadir dalam misa perdana. Dalam sambutannya Bupati mengaku senang dan bersyukur karena gereja katolik Wondama akhirnya memiliki seorang pastor tetap.

“Saya merasa senang dan bangga. Saya bersyukur atas pentabisan pastor Ferdinan. Saya berharap dengan adanya pastor di sini, umat katolik di Wondama bisa bersama-bersama dengan umat agama lainnya melakukan hal-hal yang baik untuk tanah ini, “ kata Bupati.

Orang nomor satu Wondama ini juga berharap status gereja katolik Wasior bisa berubah dengan telah adanya pastor tetap.

“Sekarang sudah ada pastor tetap untuk melayani umat di sini. Jadi saya berharap status gereja ini bisa naik jadi praparoki atau paroki, “ ucap Imburi disambut tepuk tangan meriah dari umat yang hadir. (Nday)

Pos terkait