WASIOR, Kabartimur.com– Wakil Bupati Teluk Wondama, Papua Barat Anthonius Alex Marani mengusulkan perlunya pangan lokal seperti sayur rebung atau kabubuy dalam bahasa lokal kemudian daun singkong, petatas dan terong masuk menjadi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Demikian pula untuk buah-buahan, Alex menyarankan agar tidak hanya jeruk, semangka dan melon, tetapi buah lokal yang sudah akrab di lidah orang Wondama seperti pisang dan pepaya juga menjadi bagian dari sajian MBG.
Hal itu disampaikan wakil bupati pada rapat Satgas MBG di Aula Sasana Karya Kantor Bupati Teluk Wondama di Rasiei, Rabu, 11 Februari 2026.
“Harapan saya kabubui bisa dijadikan menu juga. Termasuk melon itu anak-anak tidak tahu makan mereka suka itu pisang, suka pepaya jadi bagaimana (diatur agar) itu bisa digunakan atau tidak, “kata Alex.
Jadi harapannya makanan lokal bisa dimasuk seperti kabubui. Karena kita lihat itu kabubui bisa satu truk satu hari (masuk di pasar di kota Wasior), tidak tahu siapa yang mau beli. Jadi kabubui, daun singkong, terong (diupayakan) kira-kira bisa masuk (menu MBG) atau tidak, “lanjut wakil bupati.
Dia menilai program MBG yang telah berjalan enam bulan di Wondama belum begitu terasa dampaknya terhadap peningkatan ekonomi lokal khususnya pendapatan masyarakat petani maupun nelayan.
Pasalnya, menu MBG masih didominasi bahan baku dari luar Wondama terutama untuk sayur dan buah-buahan.
Beberapa jenis sayuran yang sering disajikan antara lain sawi dan kol juga tahu dan tempe.
Sementara buah-buahan yang sering dipergunakan adalah jeruk, pisang, melon dan semangka yang umumnya didatangkan dari luar Wondama.
“Kita berharap dapur (dapur MBG) juga bisa beli sayur dan bahan lokal yang dijual mama-mama di pasar (di kota Wasior). Tapi sepertinya belum, karena setiap hari Mama-mama di pasar mengeluh terus (karena jarang ada pembeli), “ujar wakil bupati.
Untuk itu dia mendorong perlunya ada Koperasi Merah Putih sebagai mitra MBG yang berperan menampung dan menyalurkan komoditi lokal ke dapur MBG.
“Tapi memang perlu ada koperasi (Kopdes MP) untuk menjadi wadah penampung. kita belum ada koperasi yang menampung (komoditi pangan lokal), “ucap Alex.
“Jadi koperasi yang beli dari mama-mama di pasar (baru disalurkan ke dapur MBG). Jadi kalau satu hari dikasih makan 3000 anak, berarti habis juga di pasar (barang jualan mama-mama Pasar rakyat), “sambung orang nomor dua Pemkab Wondama.
33 Dapur MBG Baru
Ketua Satgas MBG Teluk Wondama Richardus Kilmas selaku Ketua Satgas MBG menyampaikan bahwa Pemkab Wondama telah mengusulkan 33 titik lokasi untuk pembangunan dapur MBG baru untuk wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar).
Ke-33 dapur MBG baru itu tersebar di sepuluh distrik/kecamatan yang sejauh ini belum menerima program MBG.
Yaitu Distrik Naikere, Kuri Wamesa, Windesi, Nikiwar, Wamesa, Sougwepu, Rumberpon, Roswar, Roon dan Distrik Teluk Duairi.
“Titik lokasi yang direncanakan untuk dibangun dapur MBG untuk daerah 3T sebanyak 33 dapur. Itu semua sudah ada penetapan pihak ketiga dari lokal oleh bupati untuk mengerjakan dapur MBG, “jelas Kilmas.
Sekretaris Satgas MBG Teluk Wondama Amiruddin menuturkan, dari 33 titik lokasi pembangunan dapur MBG baru yang telah diusulkan itu hanya dua titik yang telah mendapatkan persetujuan dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Yaitu di Kampung Windesi, Distrik Windesi dan Kampung Sobey, Distrik Teluk Duairi.
Karena itu Satgas akan kembali mengajukan ulang pada pendaftaran tahap III yang direncanakan bulan Maret nanti.
“Yang 31 dianggap dibatalkan dan konsekuensinya mereka (calon kontraktor yang mengerjakan dapur) tidak boleh lagi terlibat. Ini yang harus kita jalan keluar supaya dalam pengusulan berikut tidak terjadi hal yang sama lagi, “kata Amiruddin. (Nday)







