Debat Publik Pilkada : HEMAT Target RSUD Wondama Jadi Tipe C, Siapkan Insentif Khusus bagi Nakes Daerah Terpencil

  • Whatsapp

WASIOR – Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Teluk Wondama nomor urut 4 Hendrik Mambor-Andarias Kayukatuy (HEMAT) akan meningkatkan status RSUD Teluk Wondama dari tipe D menjadi tipe C jika terpilih menjadi duet pemimpin baru Wondama.

Peningkatan status RSUD menjadi salah satu opsi terdepan yang akan dilakukan dalam rangka meningkatkan mutu layanan kesehatan di Wondama.

“Secara bertahap kita akan meningkatkan status RSUD dari tipe D menjadi D+ kemudian menjadi C. Karena selama ini kita amati masyarakat yang ekonomi menengah ke atas cenderung berobat ke luar Wondama. Mungkin di sana fasilitas lebih baik dan tenaga yang memadai, “ucap Andarias Kayukatuy dalam Debat Publik Calon Putaran Ketiga Bupati dan Wakil Bupati Teluk Wondama Tahun 2020 di aula SMPN Wasior, Kamis malam.

Adapun debat kandidat putaran ketiga yang dipandu moderator Ismail Ghonu mengusung tema ‘Menuju Wondama Sehat’.

Andi, demikian panggilan akrab sang calon wakil bupati lantas menyebutkan beberapa hal yang perlu dilakukan untuk bisa membuat RSUD Teluk Wondama di Manggurai naik kelas dari tipe D menjadi tipe C.

Antara lain perbaikan manajemen RSUD, peningkatan kapasitas dan kompetensi para petugas medis dan tenaga pendukung dan penambahan fasilitas kesehatan juga sarana pendukung lainnya.

“Kita juga harus siapkan obat-obatan yang cukup karena selama ini karena pengobatan (layanan kesehatan) gratis sehingga obat harus selalu tersedia, “kata Andi.

Pasangan calon jalur independen inipun berjanji meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Puskesmas maupun Puskesmas Pembantu (Pustu). Salah satunya dengan menyediakan insentif khusus bagi tenaga kesehatan yang bertugas di Puskemas maupun Pustu.

Adanya insentif khusus diharapkan bisa mendongkrak kinerja tenaga Kesehatan (Nakes) yang ditempatkan di Puskesmas maupun Pustu terutama di wilayah yang masih terpencil dan terdalam. Setidaknya mereka dapat betah tinggal di tempat tugas masing-masing sehingga dengan begitu pelayanan kesehatan tetap berjalan dengan baik.

“Karena setelah kita tanya yang membuat mereka tidak betah di tempat tugas, gaji mereka habis untuk ke sana ke mari, ke distrik dan kembali untuk belanja dan sebagainya. Perumahan untuk para medis juga masih terbatas, “ujar mantan Kepala Dinas Sosial itu. (Nday)

Pos terkait