65 Tahun GKI di Tanah Papua : Momentum Refleksi Rohani dan Spirit Mewujudkan Papua Baru

  • Whatsapp

WASIOR – Ulang tahun Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua yang ke-65 hendaknya menjadi momentum untuk merefleksikan sejauh mana pengaruh Injil Kristus terhadap hidup dan kehidupan orang Papua khusus warga GKI itu sendiri.

Apakah warga GKI benar-benar telah hidup dalam Terang Injil ataukah masih terjebak dalam kegelapan akibat dosa.

Melalui refleksi itu diharapkan akan tumbuh kesadaran rohani untuk meninggalkan cara hidup lama yang masih dalam pengaruh kegelapan dosa menuju kehidupan baru yang sejalan dengan perintah Tuhan.

“Momentum HUT ke-65 tahun, kita harus berkomitmen bahwa kita tidak lagi hidup dalam kegelapan (dosa) tapi kita bersama-sama mendayung perahu besar yang namanya GKI di Tanah Papua itu menuju sebuah terang besar yang sesungguhnya, “kata Pendeta Dorce Rahakbauw, STH.

Pesan itu disampaikan Pendeta Rahakbauw pada ibadah syukur peringatan HUT GKI di Tanah Papua ke-65 di Gereja Jemaat GKI Sola Gracia Kampung Rado, Distrik Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Selasa (26/10).

HUT GKI ke-65 tahun ini masih mengusung tema besar yang sama dengan tahun sebelumnya yaitu ‘Datanglah KerajaanMu’.

Tema itu, kata Pendeta Rahakbaw itu menggambarkan kerinduan besar umat GKI akan kehadiran Kristus Sang Bintang Timur di Tanah Papua. Dan kini, lanjut dia, Kristus Sang Bintang Timur yang dirindukan itu telah menyinari Tanah Papua dengan Terang Injil.

Karena itu warga GKI harus mewujudnyatakan Terang Injil itu dalam kehidupan sehari-hari melalui prilaku hidup sebagaimana yang dikehendaki Tuhan.

“Injil telah mempersatukan kita semua karena itu jangan ada lagi iri hati, dengki dan dendam. Kita semua harus menghilangkan iri hati, dendam dan dengki dalam diri kita sehingga kita semua akan mengalami ‘terang’ itu sendiri,”ucapnya.

Spirit untuk Bangun Papua

Wakil Bupati Teluk Wondama Andarias Kayukatuy dalam kesempatan itu menyatakan HUT GKI di Tanah Papua yang ke-65 harus melahirkan sprit baru bagi segenap warga GKI untuk bangkit mewujudkan Papua Baru yang lebih berseri.

Untuk itu, Andi, demikian panggilan karib Wabup Teluk Wondama menyerukan pentingnya GKI sebagai lembaga agama maupun umat GKI secara pribadi untuk membuka diri dan bermitra dengan pemerintah maupun pihak-pihak lainnya.

“Kita tidak boleh bekerja sendiri-sendiri. Gereja harus bekerja sama dengan pemerintah untuk bangun tanah Papua. Semua warga GKI harus bergandengan tangan dengan semua pihak untuk bangun tanah Papua ini,”ujar Andi.

Wabup juga berharap di usia yang ke-65 tahun, GKI sebagai lembaga maupun umat GKI secara pribadi harus semakin kuat dalam iman maupun pelayanan. Dengan begitu maka akan muncul energi positif yang bisa membawa pembaharuan dalam kehidupan di tanah Papua.

“Kita semua harus bangun dan bangkit untuk membangun Tanah Papua ini, “ucap orang nomor dua Pemkab Wondama itu.

Untuk diketahui, GKI di Tanah Papua lahir pada 26 Oktober 1956 atau tepat 101 tahun setelah Injil masuk di Tanah Papua.

Penetapan berdirinya GKI di Tanah Papua atau ketika itu bernama Gereja Kristen Injili di Nedherland Nieuw Guinea dilakukan pada saat Sidang Sinode Pertama yang berlangsung pada 18-28 Oktober 1956 di Gereja Harapan Abepura, Jayapura.

Sampai saat ini GKI di Tanah Papua tercatat sebagai komunitas kerohanian tertua dan terbesar di Tanah Papua. (Nday)

Pos terkait