156 Tahun Injil Masuk Wondama, Klasis Serukan Wondama Harus Jadi Barometer Perilaku Hidup Sesuai Perintah Injil

  • Whatsapp

WASIOR – Peringatan 156 tahun masuknya Injil ke Teluk Wondama pada 4 Mei 2022 dirayakan umat Gereja Kristen Injili (GKI) di Klasis Wondama dengan ibadah syukur meriah.

Sesuai catatan sejarah, pewartaan Injil yang juga menandai masuknya agama Kristen di Wondama pertama kali dilakukan di Kampung Yomber, Pulau Roswar pada 4 Mei 1866 oleh misionaris asal Eropa, Frans Mosche.

Masuknya Injil ke Wondama berjarak 11 tahun setelah Injil pertama kali masuk di Tanah Papua tepatnya di Pulau Mansinam Manokwari pada 1855 oleh Zendeling Ottow dan Geisler.

Di tahun ini, perayaan HUT Pekabaran Injil di Wondama mengusung tema sentral ‘Kuasa Kristus yang Telah Menyelamatkan Kita’ dan sub tema ‘Melalui Perayaan 156 Tahun Injil Masuk di Teluk Wondama, Kita Hidup dalam Iman, Kasih, Dengar-dengaran sebagai Wujud Kuasa Injil yang Holistik’.

Ibadah syukur dipusatkan di beberapa titik sesuai dengan pembagian lingkungan dalam Klasis GKI Wondama. Salah satunya adalah gereja GKI Jemaat Izaac Semuel Kijne Warayaru, Distrik Teluk Duairi yang menjadi pusat perayaan untuk jemaat lingkungan III.

Ibadah syukur di Warayaru dipimpin Pendeta Sylvia Takayeitou, STh. Ibadah diawali atraksi yang mengisahkan situasi ketika para misionaris pertama kali tiba di Wondama untuk memberitakan Injil di mana pada awalnya terjadi penolakan besar oleh masyarakat asli Wondama.

Para misionaris diusir dan diancam dibunuh. Namun para mereka tetap sabar dan terus dengan gigih berusaha menyampaikan Firman Tuhan itu kepada orang asli Wondama. Pada akhirnya masyarakat Wondama mau menerima Injil dan menjadi pengikut Kristus hingga saat ini.

Pendeta Sylvia dalam khotbahnya menyatakan, Injil adalah kekuatan yang menyelamatkan manusia termasuk orang-orang Wondama. Dia mengibaratkan Injil sebagai dinamit Allah yang telah meledakkan semua kuasa kegelapan dan juga kejahatan.

Karena itu dia menegaskan, di usia pekabaran Injil di Wondama yang telah memasuki 156 tahun, mestinya kekuatan Injil itu telah menghadirkan pembaharuan dalam hidup dan kehidupan umat Kristen Wondama.

“Harus ada keyakinan yang sungguh dalam diri kita, Injil itulah adalah kekuatan kita. Kalau tidak maka 156 tahun ini, besok 157 tahun dan seterusnya kitorang yang ada di Wondama ini tetap seperti itu, seperti yang dulu (tidak ada perubahan),” kata Pendeta Sylvia.

Badan Pekerja Klasis GKI Wondama melalui sambutan tertulis yang dibacakan Wakil Sekretaris Pendeta Herlina Epa, STh, juga menekankan, hal yang utama adalah bagaimana mengaktualisasikan Injil dalam kehidupan nyata. Bukan hanya dibaca atau diucapkan di bibir saja.

Di usia ke-156 Pekabaran Injil di Wondama, Klasis juga mendorong agar julukan Wondama sebagai ‘Tanah Peradaban Orang Papua’ yang merupakan buah dari pekabaran Injil harus diwujudnyatakan dalam sikap hidup. Tidak hanya sekedar jargon atau slogan semata.

“Marilah kita wujudkan makna sebutan Tanah Peradaban. Orang-orang di Teluk ini harus menjadi ukuran, harus menjadi barometer dari suatu gaya hidup yang berbeda dengan orang-orang di tempat lain. Sebab tanah ini disebut tanah peradaban, “ujar Pendeta Herlina.

“Kita bukan hanya bicara kitong adalah orang-orang beradab yang tinggal di tanah ini. Tapi kenyataannya kitong tara beradab. Ungkapan itu harus dilihat dari perilaku kita sebagai anak negeri ini. Oleh sebab itu kita harus menunjukkan perilaku kita yang sesuai dengan Injil, “katanya menambahkan.

Bersamaan dengan perayaan 156 tahun Injil masuk di Wondama, jemaat GKI Izaac Semuel Kijne Warayaru juga merayakan hari jadinya yang ke-10.

Pertambahan usia itu diharapkan membuat jemaat setempat semakin dewasa dan matang dalam iman juga dalam pelayanan rohani kepada sesama masyarakat.

“Dengan semakin bertambah usia yaitu ke-156 tahun Injil masuk di Wondama dan 10 tahun Jemaat Izaac Semule Kijne Warayaru mari kita hidup dalam iman, kasih dan dengar-dengaran sebagai wujud kuasa Injil yang kuat, ” ucap Yuliana Kamodi selaku Ketua Jemaat.

Perayaan 156 tahun Injil masuk di Wondama dan 10 tahun Jemaat GKI Izaac Semuel Kijne dimeriahkan pula dengan suguhan tari-tarian Papua juga dari suku Toraja serta acara potong kue ulang tahun. (Nday)

Pos terkait