Sungguh Miris, Banyak Lulusan SD di Wondama Belum Bisa Baca Tulis Hitung

  • Whatsapp

WASIOR – Potret miris dunia pendidikan di Kabupaten Teluk Wondama kembali terkuak. Banyak lulusan SD diketahui belum bisa membaca, menulis dan berhitung (calistung).

Bukti nyata didapatkan di SMP YPK Aitumeiri, Miei, Wasior. SMP yang merupakan cikal bakal dari sekolah formal pertama di tanah Papua yang didirikan oleh misionaris Eropa Ishak Semuel Kijne, saat ini memiliki 20 siswa kelas 1 yang belum bisa menulis, membaca dan berhitung dengan baik.

“Di sini ada satu kelas yang terpaksa tidak menggunakan proses belajar mengajar seperti biasa karena mereka tidak bisa membaca. Ini (asal SD) tersebar mulai dari kampung di pinggiran Wasior sini juga ada yang dari Ambumi, Dusner, Yoop bahkan dari Roon,” kata Kepala SMP YPK Aitumeiri Beni Borlak.

Borlak menyampaikan itu kepada rombongan anggota DPRD Teluk Wondama dari daerah pemilihan Wondama I yang melakukan kunjungan kerja dalam rangka reses ke SMP YPK Aitumieri, Senin.

Borlak mengungkapkan, pada saat penerimaan siswa baru yang lalu, pihaknya sempat ingin menolak siswa yang belum bisa membaca, menulis dan berhitung dengan baik.

Namun karena pertimbangan kemanusian juga demi kepentingan masa depan anak yang bersangkutan, pihak sekolah memutuskan tetap menerima.

Konsekwensinya, sekolah harus menyiapkan waktu dan tenaga ekstra untuk membimbing para siswa yang belum bisa calistung karena kurikulum yang diberikan berbeda dengan siswa lainnya.

“Sekarang ini dalam 6 bulan terakhir ini kami buat dia hanya mengenal baca dan tulis. Belajar abjad A B C bahkan untuk ulangan semester mereka modelnya hanya bentuk membaca, karena kekurangan ini, “ jelas Borlak yang juga dibenarkan Yoris Kombo selaku guru kelas.

Atas kondisi itu, Borlak menyarankan perlunya evaluasi terhadap proses pendidikan di tingkat sekolah dasar agar ke depan tidak ada lagi lulusan SD yang tidak bisa membaca, menulis dan berhitung.

“Kami lihat ada satu kekurangan dalam sistim pendidikan di SD yang perlu dikaji kembali karena hasilnya kami menerima di sini. Kan seharusnya kalau tidak bisa membaca dan menulis, anak itu tidak bisa lulus SD, “ ujar Borlak di hadapan rombongan anggota DPRD yang dipimpin politisi Gerindra Remran Sinadia.

Terkait fakta miris itu, para wakil rakyat berencana akan menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan dinas pendidikan.

“Ini kondisi yang sungguh memprihatinkan. Kita akan tindaklanjuti dengan melakukan RDP dengan dinas pendidikan dan kita juga akan berikan rekomendasi, “ kata Remran Sinadia. (Nday)

Pos terkait