Stunting di Wondama Diklaim Bukan karena Kemiskinan Ekstrim, Dinkes : Tren Kasus Terus Turun

  • Whatsapp

WASIOR – Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Wondama mengklaim kasus stunting di Wondama tidak disebabkan karena kondisi kekurangan bahan makanan sebagai dampak dari kemiskinan ekstrim.

Kepala Dinas Kesehatan dr.Habel Pandelaki menyebut, kasus stunting yakni kondisi kekurangan gizi yang menyebabkan bayi gagal tumbuh secara baik yang ditemukan di Wondama sebagian besar terjadi karena ketidaktahuan orang tua perihal asupan gizi yang baik untuk buah hatinya.

Umumnya kondisi itu dipicu oleh sejumlah faktor antara lain minimnya pengetahuan tentang gizi akibat pendidikan yang terbatas. Juga karena adanya penyakit seperti paru-paru dan malaria serta faktor internal seperti perkawinan di luar nikah yang menyebabkan anak tidak dipelihara orang tuanya sendiri tapi dititipkan kepada kakek dan neneknya ataupun kerabat lainnya.

Diketahui, Teluk Wondama termasuk salah satu daerah di Provinsi Papua Barat yang memiliki penduduk miskin ekstrim. Tercatat ada 2.222 jiwa penduduk Wondama yang tergolong miskin ekstrim.

“Setelah dicek ulang ini bukan masalah tidak ada pangan dan gizi tapi ketidaktahuan orang tua memberikan makanan anak-anaknya dengan baik. (kita temukan) Ada pegawai negeri punya anak, mungkin karena sibuk, tidak kasih makan (dengan baik), (jadinya) stunting. Jadi tidak semua itu akibat dari kemiskinan, “jelas Pandelaki di kantor Dinkes di Isei, Rabu (18/5/2022).

“Jadi kita menyimpulkan sebagian besar bukan karena kemiskinan atau ketiadaan bahan makanan. Jadi penyebab utama bukan kemiskinan. Ada sebagian besar anaknya PNS atau pedagang yang secara kemampuan mereka bisa memberi makanan tapi mungkin karena sibuk atau tidak mau tahu,” lanjut dia.

Berdasarkan data yang dihimpun Dinkes hingga Mei 2022, terdapat sedikitnya 85 bayi di Teluk Wondama yang masuk kategori stunting dengan Distrik Wasior dan Wondiboi (di Wondama ada 13 distrik) sebagai wilayah dengan kasus tertinggi.

Namun menurut Pandelaki, data itu masih perlu diverifikasi ulang lantaran masih diragukan akurasinya.

“Yang paling banyak di semenanjung ini, Wasior dan Wondiboi, baru di kepulauan. (jumlah kasus) Masih dibawah 100, data yang terbaru itu 85 (kasus) per 10 Mei. Itu belum masuk tiga distrik. Tapi masih diverifikasi ulang. Tetapi secara tren kita menurun terus,” kata Pandelaki.

Adapun upaya yang telah dilakukan untuk penanganan stunting selain perawatan medis adalah pemberian makanan tambahan secara rutin serta sosialisasi tentang stunting hingga ke kampung-kampung dengan melibatkan peran pemerintah kampung/desa serta para kader kesehatan.

“Fokus kita kepada bayinya, dicari tahu penyebabnya apa. Pemberian makanan tambahan itu utama yang pasti diberikan. Tapi kalau penyebabnya karena penyakit dan perlu dirujuk, pasti kita rujuk. Pemerintah cukup banyak bantuan dari biskuit, bubur dan dari desa sudah ada anggaran dana desa untuk stunting, “tutup Pandelaki. (Nday)

Pos terkait