Sekolah Satu Atap Berpola Asrama Solusi untuk Dekatkan Akses Pendidikan di Pedalaman Wondama

  • Whatsapp

WASIOR – Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat akan membangun SMP satu atap berpola asrama di Distrik Naikere. Nantinya SMP tersebut disatukan dengan SD Negeri Naikere yang sudah ada saat ini.
Sekolah satu atap berbasis asrama yang mana di dalamnya terdapat SD dan SMP merupakan upaya Pemda setempat untuk memperbaiki kualitas layanan pendidikan bagi masyarakat di Naikere yang merupakan wilayah terpencil di Wondama.
Sedikitnya ada 3 kampung di Distrik tersebut sampai saat ini masih terisolir karena hanya bisa dijangkau dengan helikopter. Jika berjalan kaki maka dibutuhkan setidaknya 5 sampai 7 hari untuk bisa sampai ke ibukota Teluk Wondama di Wasior.
Wakil Bupati Paulus Indubri di sela-sela meninjau lokasi pembangunan SMP Satap di Naikere, Senin menyebutkan, sekolah dengan konsep khusus itu merupakan terobosan untuk menolong anak-anak di Naikere yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan lanjutan terutama SMP.
Di distrik Naikere sendiri memang belum ada SMP. Jika ingin melanjutkan sekolah, anak-anak setempat harus ke kota Wasior. Alhasil, sebagian besar anak-anak lulusan SD di wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Kaimana itu putus sekolah.
“Jadi kita perlu siasati dia dengan SMP Satu atap dan berasrama karena kita ingin menyelamatkan anak-anak di kampung terpencil. Sampai hari ini SD di kampung-kampung itu gurunya hanya satu orang saja, “ ujar Indubri yang pada kesempatan itu didampingi Plt Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Hanok Mariai.
Dia menjelaskan, SMP Satap Naikere akan didesain menjadi sekolah penyangga. Yang mana tidak hanya sebagai pusat menanamkan ilmu pengetahuan tetapi juga tempat untuk membentuk mental dan karakter anak-anak setempat agar siap beralih dari kehidupan yang masih terbelakang ke pola kehidupan modern.
Hal itu penting karena warga setempat masih tergolong komunitas terpencil yang masih hidup bergantung dengan alam. Mereka belum banyak mengenal dan merasakan peradaban modern.
“Kita menyelamatkan mereka dengan cara-cara seperti ini supaya jangan sampai dia tercecer. Untuk itulah sekolah ini sebagai jembatan sebelum dia naik ke sekolah-sekolah yang modern dia kenal dengan fasilitas modern kita masukan ke sekolah penyangga ini, “ kata Indubri.
Anggaran Sudah Siap
Untuk pembangunannya, warga setempat telah menyiapkan lahan seluas 2 hektar dan telah dilakukan pembersihan seluas 1 hektar lebih. Selain bangunan sekolah dan asrama, rencananya akan dibangun fasilitas penunjang seperti laboratorium, perpustakaan dan rumah kopel guru.
Adapun anggaran untuk pembangunan fisik gedung bersumber dari dana bantuan pemerintah pusat. Ditargetkan peletakan batu pertama dilakukan dalam bulan Agustus ini.
“Untuk tahap I uangnya sudah ada di rekening. Khusus untuk bangunannya saja uangnya sudah ada rekening 2,8 miliar. Kita tinggal peletakkan batu pertama saja, “ kata Hanok Mariai.
Sementara untuk tenaga guru, Hanok menyatakan pihaknya telah menyiapkan 8 orang guru yang didatangkan secara khusus dari Yayasan Indonesia Cerdas di Bogo, Jawa Barat.
“Sudah ada guru kontrak 8 orang dan ditambah 2 dari masyarakat lokal. Kita kolaborasikan harapan kita mereka bisa bekerjasama dengan baik. Jadi tenaga guru tidak ada masalah tinggal bangunan ini jadi mereka masuk, “ imbuh Hanok. (Nday)

Pos terkait