Sambangi DPR PB, Rakyat Desak Freeport Harus ditutup

  • Whatsapp

MANOKWARI- Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unipa, Gerakan Mahasiswa, Pemuda dan Rakyat Papua (Gempar), Forum Masyarakat Papua Peduli Freeport (FMPPF), menggelar aksi Damai ke Kantor DPR PB, Kamis, (09/8/18).

Aksi demo Freeport yang diikuti Masa yang tergabung dalam beberapa Organisasi ini sekaligus memperingati Hari Masyarakat Pribumi Se-dunia yang ke-24 tahun pada tanggal 9 Agustus 2018.

President Mahasiswa Unipa, Pilatus Lagoan Dalam orasinya di depan Kampus unipa mengatakan bahwa Freeport adalah Perusahaan Raksasa milik Kapitalis yang mengancam keberlangsungan hidup penduduk Pribumi.

“Hari ini kami akan terus bersuara sampai Freeport harus tutup” ungkap Pilatus.

Korlap Gempar, Wilson Wader menuding Freeport merupakan dalang Dibalik semua akar persoalan diatas tanah Papua. Oleh sebab Itu Gempar Mendesak Freeport harus tutup karena keberadaannya sangat mengancam manusia Papua diatas tanah leluhurnya.

Sementara itu, Ketua Forum Independent Mahasiswa, Geradus Tembut dalam orasinya menekankan agar Amerika dan Jakarta jangan mensabotase hasil Sumber Daya Alam Papua khususnya Freeport dan Perusahaan yang lain yang merupakan sumber konflik di Papua.

Setelah berorasi, massa kemudian melakukan aksi long march menuju Kantor LP3BH Manokwari, selanjutnya long march menuju Kantor DPR Papua Barat.

Tiba di Kantor DPR PB, aksi kemudian dilanjutkan di hadapan anggota DPR Papua Barat.

Ketua Dewan Adat Papua Wilayah III Doberay, Paul Finsen Mayor, melalui Juru Bicaranya, Timotius Daud Yelimolo menglaim saat ini telah terjadi Kebangkitan Rakyat atas tanah Papua.

“Lewat Hari Masyarakat Pribumi Se-Dunia, kami mau bangkit dan mengatakan, stop eksploitasi Sumberdaya Alam diatas Tanah Adat Papua. Sudah cukup derita, airmata, dan bahkan korban nyawa lantaran konspirasi kapitalis yang mengekplotasi tanah Adat kami, ” Tegas Yelimolo.

Lanjut Yelimolo, mengimbau kepada seluruh masyarakat pribumi agar lewat momen Hari Masyarakat Pribumi Se-dunia yang ke-24 tahun, warga Papua merenungi bagaimana nasip Papua ke depannya..

“Mau TNI/Polri kah, PNS kah, DPR kah, Gubernur kah, MRP kah, bahkan Pejabat lain, yang asli Papua, mari kita kembali melihat ke suku dan etnis masing-masing dan berkata apa yang telah saya perbuat untuk menyelamatkan tanah dan manusia dari etnis saya, ” Imbau Yelimolo. (DY)

Pos terkait