Refleksi 154 Tahun Injil Masuk di Syabes, Pulau Roon : Saatnya Tinggalkan Kehidupan Lama dan Jadi Manusia Baru

  • Whatsapp

WASIOR – Umat GKI (Gereja Kristen Injili) di Kampung Syabes, Distrik Roon Kabupaten Teluk Wondama pada 6 Mei 2022 merayakan 154 tahun Injil masuk ke wilayah setempat.

Perayaan mensyukuri pewartaan Injil pertama kalinya pada 154 tahun silam itu dilakukan dalam ibadah bersama secara meriah di gedung gereja Jemaat Rudolf Beyer Kampung Syabes.

Ibadah syukur dipimpin oleh Pendeta Dorce Rahakbaw, STh dengan dihadiri umat GKI setempat juga warga jemaat dari kampung lainnya di Pulau Roon dIbadahan sekitarnya.

Ikut hadir Ketua Komisi B DPRD Teluk Wondama Marthelda Fenetruma, pimpinan Kantor Pelabuhan Wasior Kores Samori dan sejumlah tamu undangan lainnya.

Sejarah mencatat, Injil atau Alkitab yang merupakan Kitab Suci agama Kristen dibawa masuk dan diperkenalkan kepada masyarakat di Kampung Syabes yang ketika masih belum mengenal Tuhan alias kafir oleh zendeling atau misionaris asal Jerman Rudolf Beyer pada 6 Mei 1866.

Setelah berkeliling ke sejumlah wilayah lain di Wondama hingga ke Serui untuk misi penginjilan, Beyer lantas kembali lagi ke Syabes.

Dia kemudian memutuskan menetap di kampung pesisir itu mulai Februari 1867. Beyer lantas merintis pembentukan pos zending di Kampung Syabes yang menjadi cikal bakal lahirnya jemaat GKI perdana di kampung setempat.

Seperti diketahui, masuknya Injil atau agama Kristen menjadi titik awal pembaharuan kehidupan orang asli Papua termasuk di Kampung Syabes, Pulau Roon yang ketika itu masih belum mengenal Tuhan.

Injil dipercaya telah menghadirkan peradaban baru dari kehidupan lama sebagai manusia kafir yang identik dengan kekejaman dan saling membunuh menuju tatanan kehidupan baru yang penuh kasih dan damai hingga sekarang ini.

Pendeta Rahakbaw dalam khotbahnya menekankan bahwa 154 tahun merupakan usia yang sudah sangat matang.

Karena itu Injil sejatinya sudah harus mengakar dalam hidup dan kehidupan masyarakat Kampung Syabes dan juga umat GKI di Pulau Roon secara keseluruhan.

“Kita harus lepaskan segala kepercayaan kita yang dulu-dulu. Dulu tempat ini dijuluki sebagai orang-orang di tanah takta Iblis yang kepala keras seperti batu di pulau Rairau. Kita harus percaya Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan, “ujar dia.

“Maka Jangan sedikitpun kita ragu atau sanksi terhadap firman Tuhan. Sebab iman tanpa perbuatan adalah mati. Akan menjadi sia-sia segala sesuatu yang kita lakukan,” kata Pendeta Rahakbaw melanjutkan.

Dia juga menyerukan agar usia Pekabaran Injil yang telah mencapai 154 tahun harus diikuti dengan komitmen untuk menjadi manusia yang lebih baik dengan merubah sikap dan perilaku yang selama ini tidak sesuai dengan firman Tuhan.

“Karena itu ketika kita mengenal Injil jangan hanya sekedar mengaku iya, saya mengaku mengikuti Yesus, memikul salib meninggalkan seluruh kehidupan lama kita, padahal setelah itu pesta pora, mabuk-mabukkan, selingkuh dan sebagainya. Kita harus berani berkomitmen tinggalkan seluruh kehidupan lama kita, “pesan Pendeta Rahakbaw.

Senada, anggota DPRD Teluk Wondama Marthelda saat  memberikan sambutan usai ibadah  menyatakan  Injil telah membawa perubahan bagi orang Papua di Pulau Roon dari episode kegelapan menuju peradaban baru yang lebih baik.

Maka dia menekankan, hal terpenting di balik sukacita merayakan HUT PI  adalah bagaimana menjadikan Firman Tuhan itu sebagai pedoman dalam kehidupan nyata.

“Tadi ibu pendeta sebut bahwa kita (Orang Roon) punya kepala keras seperti batu di pulau. Jadi yang penting adalah Injil telah merubah mental kita, merubah sifat dan kelakuan kita menjadi warga jemaat yang takut akan Tuhan yang hidup menurut kehendak Tuhan, “ujar anggota DPRD dari Partai Hanura.

Selain ibadah syukur, perayaan HUT PI di Kampung Syabes juga diisi dengan prosesi potong kue ulang tahun dan makan bersama. (Nday)

Pos terkait