Pertalite di Wasior 20 Ribu Perliter, Ekber Sebut akan Ada Operasi Penertiban

  • Whatsapp

WASIOR – Pemkab Teluk Wondama akan menggelar operasi untuk menertibkan harga bahan bakar minyak (BBM) di kota Wasior dan sekitarnya yang dijual jauh di atas harga normal.

Setidaknya dalam tiga pekan terakhir ini, harga BBM di Teluk Wondama mengalami lonjakan drastis pasca terjadinya kelangkaan BBM pada awal November.

BBM jenis pertalite misalnya, di tingkat pengecer liar dijual seharga 20 ribu sampai 25 ribu perliter yang dijual secara botolan. Bahkan beberapa waktu lalu harga pertalite sempat menembus 30 ribu perliter.

Padahal biasanya pertalite dijual seharga 10 ribu atau paling tinggi 12 ribu perliter di tingkat pengecer.

Harga 20 ribu perliter tentu jauh di atas harga normal pertalite di tingkat SPBU yang mana saat ini sedang dalam masa promosi yakni sebesar 6.450 perliter.

Kepala Dinas Perindagkop dan UMKM Ekbertson Karubuy mengatakan Pemkab akan menggandeng aparat kepolisian untuk melakukan operasi penertiban.

Ekber menyebut, dari survey lapangan yang telah dilakukan pihaknya, diketahui penjulalan BBM harga tinggi bukan dilakukan oleh pengecer resmi namun oleh penjual dadakan yang sengaja mencari untung akibat kelangkaan BBM yang terjadi sejak awal November.

“Hasil pantau lapangan ternyata yang menjual BBM pertalite dan pertamax itu masyrakat ambil dari Nabire (Provinsi Papua) dan mereka yang jual dengan harga tinggi. Kami sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk melakukan operasi,”ujar Ekber ditemui di Aula Sasana Karya kantor bupati di Isei, Kamis lalu.

Ekber mengklaim pihaknya sudah mengindentifikasi oknum-oknum yang terlibat dalam membawa masuk BBM dari Nabire ke Wasior yang kemudian dijual dengan harga tinggi. Dia sendiri telah meminta Satgas Pamrahwan (pengamanan daerah rawan) di Distrik Naikere untuk memantau kendaraan dari Nabire yang membawa masuk BBM ke kota Wasior.

“Nanti mereka kirim data ke kita yang kasih masuk ini siapa-siapa. Harapan kita kalau kondisi belum normal mereka bisaa membantu tapi dengan harga yang normal jangan harga yang tinggi karena itu akan membuat masyarakat resah,”ucap Ekber.

Untuk mencegah terjadinya permainan harga BBM, lanjut mantan Sekretaris Bappeda itu, maka perlu ditetapkan HET (harga eceran tertinggi) dan HEN (harga eceran nyata). Pihaknya telah meminta tim pengendali inflasi daerah (TPID) agar menggelar rapat untuk menentukan HET dan HEN BBM di Teluk Wondama.

“Di luar SPBU harganya berapa (pertalite) 10 ribu atau 12 ribu supaya terjadi kalau di luar aturan (tidak sesuai HET dan HEN) kita bisa tindak,”kata dia.

Dia menuturkan, kelangkaan BBM yang terjadi sejak awal November merupakan dampak dari kebijakan pemerintah mencabut subsidi BBM untuk premium atau bensin. Hal itu membuat penggunaan BBM jenis pertalite meningkat tajam sehingga di beberapa daerah terjadi kekurangan pasokan termasuk di Papua Barat.

Namun kekurangan pasokan itu telah diatasi sehingga Pertamina menjamin tidak lagi ada kelangkaan BBM di wilayah Papua Barat termasuk di Kabupaten Teluk Wondama.

“Kami sudah dapat laporan dari sales Pertamina (Manokwari) telah menyiapkan 140 Kl yang akan dikirim ke Wondama sesuai dengan pembelanjaan kedua SPBU (Cinta Nelayan dan PT.Papua Bumi Kasuari) terdiri dari biosolar dan pertalite. Itu sesuai dengan kapasitas angkut kapal, “imbuh Ekber. (Nday)

 

Pos terkait