Pelestarian Sastra Lisan Sebagai Media Cerminan Nilai- Nilai Kehidupan Serta Sebagai Warisan Identitas Bagi Orang Papua

Oleh: Leon Agusta, S.S., M. Eng. Lit.

(Dosen Universitas Papua)

Pengantar
Sastra lisan lahir, berkembang, bertahan, bahkan punah dalam perjalanan sejarah
keberadaan suku- suku bangsa di dunia. Sebagai salah satu sub unsur budaya, sastra lisan berperan signifikan dalam pelestarian bahasa di mana sastra lisan itu berasal. Peran tersebut adalah merefleksikan nilai- nilai serta pola tindak suku bangsa dalam bentuk cerita fiksi yang diciptakan sedemikian rupa untuk dapat dinikmati serta dipelajari oleh lintas generasi.

Sebagai media yang menyuarakan identitas pemikiran serta kebiasaan manusia, sastra lisan pada dasarnya mendapatkan posisi yang strategis dalam kehidupan kebudayaan suku- suku bangsa yang menaunginya. Melalui sastra lisan, prinsip- prinsip serta pengalaman hidup generasi terdahulu diceritakan dengan maksud agar generasi terkemudian memahami betapa pentingnya
mempelajari dan menghargai warisan orang tua dalam tataran moral, etika, dan kearifan lokal (Simatupang, 2024).

Dalam konteks Papua hari ini, melestarikan sastra lisan menjadi sangat penting karena berbicara tentang identitas maka diperlukan aspek- aspek jati diri yang jelas dan tidak hanya sekedar identifikasi visual atau fisik saja. Intelektualitas serta integritas orang
Papua tentunya tidak hanya dapat dikembangkan dan diperkuat dengan pendekatan pembangunan dari pusat atau dengan menyerap budaya modern dari luar Papua. Intelektualitas yang dimaksud adalah kemampuan berpikir serta bertindak yang berdasarkan kepada penguasaan ilmu pengetahuan yang diseimbangkan dengan kearifan lokal yang ada (Rai, 2021). Sementara integritas yang dimaksud di sini adalah keberanian menyatakan eksistensi
kePapuaan dalam berbagai situasi, kondisi, dan tempat yang menyandingkan nilai-nilai
kejujuran dengan prinsip- prinsip kebenaran yang universal.

Pembahasan
Sastra lisan dalam bentuk legenda maupun mitos menggambarkan kehidupan suku￾suku bangsa di dunia serta menjadi refleksi identitas bagi suku- suku bangsa pemiliknnya. Didalam karya- karya sastra lisan ditemukan keunikan- keunikan asal usul serta cara berpikir manusia yang menjadi latar ceritanya. Jenis sastra lisan ini diwariskan secara turun temurun
antar generasi dengan cara diceritakan oleh orang tua kepada anak- anak mereka (Astika & Yasa, 2014). Setiap aspek kehidupan manusia pada suatu suku bangsa dapat ditemukan pada karya- karya sastra lisannya sehigga sesungguhnya peran karya sastra lisan sangat strategis dalam mempelajari nilai- nilai kehidupan serta mencirikan jatidiri manusia dari suku- suku
bangsa yang memilikinya.

Secara khusus di Tanah Papua, terdapat sangat banyak karya- karya sastra lisan yang
dewasa ini terus mengalami degradasi eksistensi (Ridwan & Sarwom, 2024). Sebuah ironi yang nyata pada daerah- daerah yang secara nyata masih mempromosikan produk-produk budaya sebagai kebanggaan dan juga sebagai penarik minat wisatawan.

Baca Juga :   OJK dan Bappebti Resmi Akhiri Masa Transisi Pengaturan Aset Keuangan Digital

Tentunya kondisi ini tidak ideal baik bagi suku- suku pemilik karya- karya sastra lisan karena akan sangat sedikit banyak mempengaruhi identitas kesukuan generasi muda dan generasi selanjutnya. Karya sastra lisan yang ada di Papua Barat secara khusus dewasa ini mengalami tantangan dan realita yang memperhadapkannya kepada arus globalisasi yang salah satu salurannya adalah kemajuan teknologi informasi.

Budaya luar termasuk budaya asing dalam berbagai bentuk telah sangat banyak mempengaruhi pola pikir bahkan pola tindak generasi muda dari kota sampai ke kampung.

Di satu sisi tentu arus budaya luar terutama budaya asing nyaris mustahil untuk
dielakkan sekalipun karena adanya tantangan secara geografis dan ekonomi, Papua contohnya Papua Barat, dapat dikatakan bahwa akses serta tingkat kesejahteraannya masih tertinggal
terutama dari provinsi- provinsi di wilayah barat dan tengah Indonesia, namun informasi dan teknologi modern sudah cukup dikenal oleh penduduk di Tanah Papua secara umum. Terutama
oleh mereka yang telah memiliki akses jaringan internet dalam kualitas rendah, sedang, maupun tinggi.

Di sisi lain serapan penduduk Papua terhadap budaya asing yang masuk
tentunya sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan dan ekonominya (Kabanga, 2021). Pada sisi kedua inilah tantangan sekaligus peluang masyarakat Papua terutama orang asli Papua untuk secara sadar dan bertanggung jawab mempertahankan identitasnya mejadi nyata. Sastra lisan sebagai salah satu warisan budaya nenek moyang yang menjadi penciri yang khas bagi suatu suku bangsa dari tataran seni dan budaya kembali memainkan peran yang sangat strategis
(Isnanda, 2018).

Dibutuhkan pendidikan dan pembiasaan yang lebih terencana serta terukur dalam penyerapan budaya luar yang tentunya lebih diarahkan serta didasarkan kepada identitas masyarakat orang asli Papua. Hal ini tentunya bukan pekerjaan mudah, karena pemangku kepentingan lintas budaya, lintas lembaga, dan lintas generasi pada prinsipnya wajib mengambil peran, sehingga ada perubahan yang bersifat mendasar namun tetap dalam koridor identitas sebagai orang Papua asli.

Nilai- nilai kehidupan yang terkandung dalam karya- karya sastra lisan Papua mewakili aspek- aspek budaya termasuk 7 (tujuh) unsur budaya yaitu: bahasa, sistem pengetahuan, sistem kemasyarakatan, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, dan kesenian (Koentjaraningrat, 2015).

Unsur- unsur tersebut merupakan ide serta
pengalaman hidup manusia yang menjadi atribut kehidupan sehari- hari dan memiliki keunikan yang khas antara satu suku bangsa dengan suku bangsa lainnya. Nilai- nilai yang terkandung pada unsur- unsur budaya tersebut pada era sekarang ini mengalami tantangan eksistensi yang tidak mudah.

Baca Juga :   Kakesdam XVIII/Kasuari Pimpin Sertijab Karumkit Tk. IV 18.07.02. J.A. Dimara

Nyaris setiap bagiannya sudah terkontaminasi oleh nilai- nilai yang berasal dari luar perikehidupan suku- suku bangsa asli Papua. Terlebih secara bentuk dan media
penyampaiannya, karya- karya sastra lisan harus berhadapan dengan media- media informasi modern yang bersifat global dan mudah diakses oleh siapa saja dan kapan saja.

Upaya pelestarian karya- karya sastra lisan Papua tentunya terus dan akan selalu
menjadi suatu usaha yang layak dikerjakan oleh setiap elemen masyarakat pada suku- suku bangsa yang ada di dalamnya. Pihak- pihak yang secara prinsip berperan penting dalam upaya pelestarian tersebut adalah masyarakat adat suku- suku asli Papua, pemerintah, lembaga pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, serta masyarakat majemuk yang lahir dari akulturasi serta asimilasi suku bangsa lain dengan suku asli di Tanah Papua.Masing- masing pihak memiliki peran yang strategis dalam upaya pelestarian karya karya sastra lisan Papua.

Selanjutnya masing- masing pihak tersebut juga secara ideal bekerja sama secara
berkesinambungan sesuai porsi tugas pokok dan fungsi masing- masing untuk memberikan sumbangsih nyata bagi pelestarian karya- karya sastra lisan Papua.

Peran serta masing- masing pihak dalam pelestarian sastra lisan Papua dapat diuraikansebagai berikut:

  1. Masyarakat adat suku- suku asli Papua mempunyai peran kunci sebagai
    pemilik serta pewaris karya- karya sastra lisan oleh karena itu dibutuhkan upaya secara kelembagaan di mana setiap individu maupun keluarga di dalamnya secara sadar dan nyata
    kembali kepada kebiasaan pewarisan dengan menceritakan kisah- kisah legenda ataupun mitos
    yang dimiliki.
  2. Pemerintah secara strategis dan praktis berkewajiban menjamin serta
    memastikan setiap aspek budaya yang hidup dan berkembang dalam masyarkat suku- suku
    bangsa di Indonesia, khususnya Papua tetap lestari baik melalui regulasi undang- undang
    maupun program- program yang relevan.
  3. Lembaga pendidikan secara akademis dan ilmiah
    berperan menjadi pihak yang bekerjasama dengan masyarakat adat dalam upaya
    pendokumentasian, publikasi penelitian serta penyuluhan akan pentingnya pelestarian sastralisan Papua.
  4. Lembaga swadaya masyarkat juga dapat bekerjasama lintas lembaga sebagai penyampai aspirasi masyarkat adat kepada pemerintah maupun organisasi lain yang mendukung pelestarian sastra lisan dalam bentuk program- program pendampingan kepadamasyarakat.
  5. Masyarakat majemuk yang secara nyata lahir dan hadir dalam perikehidupan suku- suku asli Papua juga secara sadar berperan dalam menciptakan serta menjaga relasi serta komunikasi yang padu serta saling melengkapi antar budaya satu sama lain di Tanah Papua.
Baca Juga :   Motif Dendam, SM Menyuruh Bunuh Yahya Sayori

Pertanyaan besar yang terus-menerus perlu didengungkan dan dijawab serta disikapi dengan upaya yang nyata, terarah, dan terukur adalah sudah seberapa serius dan terkoordinasikah upaya pelestarian sastra lisan Papua sebagai cerminan nilai- nilai kehidupan serta sebagai warisan identitas bagi orang Papua telah dilakukan? Tentunya pertanyaan ini memiliki ruang lingkup serta kualifikasi jawaban yang bersifat holistik, artinya dapat disikapi dan dijawab dari berbagai sudut pandang.

Namun satu hal yang pasti bahwa hari- hari ini, karya- karya sastra lisan Papua semakin kurang diminati generasi muda serta sedikit demis edikit posisinya mulai tergantikan oleh media- media budaya dari luar Papua, terutama budayaa sing.

Situasi dan kondisi umum di Tanah Papua tersebut terus menjadi wacana serta pokokp ikiran yang sangat penting mendapat perhatian yang lebih serius dari berbagai pihak, karena menyangkut perikehidupan orang asli Papua yang adalah tuan rumah bagi kelompok-kelompok masyarakat majemuk yang ada di dalamnya.

Penutup
Pelestarian sastra lisan Papua menjadi sangat penting bahkan fundamental dalam upaya
serta usaha pembangunan manusia di Tanah Papua di mana manusia, terutama orang asli Papua yang merupakan representasi suku- suku asli Papua harus menjadi obejk sekaligus subjek utama di dalamnya.

Dengan demikian setiap regulasi dan program dari berbagai pihak pemangku kepentingan yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung tentunya perlu diperkuat serta diwujudnyatakan secara lebih koordinatif sehingga setiap pihak memberikan sumbangsih yang optimal.

Dengan adanya upaya maksimal serta kerjasama setiap pemangku kepentingan yang padu serta berkesinambungan maka upaya pelestarian karya- karya sastra lisan Papua sebagai cerminana nilai- nilai kehidupan serta warisan identitas bagi orang Papua dapat memberikan sumbangsih yang nyata dan berdampak dalam pembangunan masyarakat Papua secara umum.

Daftar Pustaka
Astika, I Made & Yasa, Nyoman. (2014).Sastra Lisan; Teori dan Penerapannya. Graha Ilmu. Koentjaranigrat. (2015). Pengantar ilmu Antropologi. Rineka Cipta.

Simatupang, dkk. (2024). Analisis peran tradisi lisan dalam melestarikan warisan budaya Indonesia.Jurnal Intelek Insan Cendekia, Vol.01 No. 04.
Ridwan & Sarwom I. Nalikoy. Globalisasi dan dampaknya terhadap kebudayaan Papua:
Sebuah kajian awal. https://www.academia.edu/26455662/Globalisasi_dan_Dampaknya_Terhadap_Kebudayaan_Papua_Sebuah_Kajian_Awal_pdf
Isnanda, Romi. (2018). Sastra lisan sebagai cerminan kebudayaan dan kearifan lokal bagi masyarakat. Prosiding Seminar Nasional Lingkungan Lahan Basah Vol. 3 No. 2.
Kabanga, Lewi. Globalisasi budaya bagi mahasiswa indigenous Papua di arus perkembangan kota. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) Vol. 5 No. 3. Rai, I Wayan. (2021) Penciptaan karya seni berbasis kearifan lokal Papua. Aseni. (*)

Pos terkait