Noken, warisan budaya dunia yang tetap terpinggirkan

  • Whatsapp

MANOKWARI – Sejak 4 Desember 2012 lalu, noken Papua telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia  oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) di Paris, Prancis.

Noken dikenal sebagai tas hasil rajutan khas dari Papua yang diakui sebagai warisan budaya dunia tak benda (intangible cultural heritage) oleh UNESCO.

Selain itu, noken Papua juga telah  menyatu menjadi identitas dan harga diri orang Papua. Yang mana digunakan untuk banyak hal (multifungsi) termasuk mengisi harta, hasil kebun dan lainnya.

Namun miris bertepatan dengan hari noken 4 Desember 2020, nasibnya (Noken Papua) tak kunjung diperhatikan oleh pemerintah.

Di Kabupaten Manokwari misalnya, beberapa pengrajin noken Papua yang sudah bertahun-tahun berjualan hasil rajutannya di Pasar Sentra Sanggeng Manokwari Papua Barat, kondisi mereka jauh dari kata layak.

Hujan maupun panas, para Mama-mama Papua ini memproduksi dan menjual hasil rajutan mereka diatas jalan yang beralaskan sobekan karung bekas. Itu semua hanya untuk menghasilkan uang untuk biaya keluarga dan melanjutkan sekolah.

Herlina Tekege, salah satu Perajut dan Penjual Noken Papua  mengaku sudah sejak 2007 dirinya dan beberapa kerabatnya sudah berjuang di Pasar Sanggeng Manokwari.

Baca Juga :   Polres Wondama Bagikan Masker Kain Gratis untuk Masyarakat Kota Wasior

“Sudah sejak tahun 2007 kami sudah ada di tempat ini, mau bagaimana lagi kita cari hidup di sini. Jadi kita tetap rasa hujan dan panas di tempat ini,” ujar Herlina, kepada Kabartimur.com, Jumat (4/12).

Mirisnya, kata dia, hingga hari ini pihaknya tak pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat. “Sampai sekarang kami tidak pernah mendapat perhatian, kita setiap hari di pasar mereka (pemerintah) hanya lewat saja,” ungkapnya.

Menurut pengakuan ibu dua anak ini, untuk menjual noken Papua sendiri, per-hari saja bisa mendapatkan penghasilan Rp 600.000, namun jika pembelinya kurang maka dirinya hanya bisa mendapat Rp100.000.

“Dari jualan ini saja per-hari bisa dapat Rp600.000, jika pembelinya kurang maka kami hanya dapat Rp100.000 saja,” ucapnya.

Tidak hanya itu, Herlina juga mengaku, tempat yang ia gunakan untuk berjualan noken Papua dirinya harus sewa kepada orang. “Tempat ini saja saya harus sewa di orang, Rp150.000 untuk satu bulan,” tuturnya.

Baca Juga :   Peringati 1 Desember, DAP Laksanakan Ibadah Syukur Bersama Masyarakat Adat

“Padahal dari hasil jualan noken Papua sudah menjadikan kedua adik saya sarjana, dan saat ini lagi menyekolahkan satu anak kami,” ungkap dia.

Ia mengaku sudah beberapa kali  untuk meminta bantuan di pemerintah Provinsi Papua Barat, namun hingga saat ini bantuan belum juga datang.

Tidak hanya itu, Andalinda Pakage, perajut noken juga mengaku, pihaknya sudah 4 tahun berjualan di pasar sentral Sanggeng Manokwari.

“Kita sudah empat tahun di sini, tapi dari pemerintah tidak memperhatikan kami. Noken Papua yang kita buat hanya seperti ini,” tuturnya.

Pakage mengaku, hasil dari penjualan noken Papua di pasar Sanggeng Manokwari, ia gunakan untuk membiayai dirinya untuk lanjut sekolah di perguruan tinggi.

“Saya kuliah hingga sudah semester 8 ini, semuanya hasil dari berjualan noken Papua selama empat tahun ini,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Beri Wanma, pengunjung di pasar Sanggeng Manokwari mengaku prihatin akan kondisi noken Papua yang hanya dijual diatas aspal (jalan) dengan beralaskan karung bekas, hujan dan panas.

Baca Juga :   Berulang Kali Mendapat Pelecehan Seksual, Diduga Gadis Belia di Manokwari Disetubuhi Karyawan Hotel Mulia Dihadapan Anak

“Selaku orang Papua, saya ikut prihatin dengan kondisi semacam ini. Harusnya ada kesadaran dari pemimpin terkait kondisi para perajut noken Papua,” ucap Wanma.

Menurut dia, banyak diluar sana berteriak noken adalah identitas dan harga diri orang Papua. “Tapi sangat disayangkan, kenapa harus harga diri orang Papua (Noken), harus tidur di atas jalanan penuh debu dan beralaskan karung,” kata Wanma seraya berharap suatu waktu mendapat perhatian untuk menempatkan di tempat yang layak.

“Kalau terus seperti ini, dia (pemerintah) tidak berpikir bahwa barang noken juga merupakan harga diri dan identitasnya juga,” ujarnya.

Ini adalah karya orang lain (mama Papua), namun menurut Wanma, noken Papua adalah harga diri orang Papua secara keseluruhan. “Tidak pandang bulu, yang namanya orang Papua, semuanya punya harga diri di barang ini (noken Papua,” tegasnya.

“Karena didalam noken itu, kita semua ada di dalam, termasuk harta, hasil kebun dan harga diri kita,” pungkasnya.(SR)

Pos terkait