Mahasiswa STIE MAH-EISA Pertanyakan Status Akreditasi

  • Whatsapp

MANOKWARI- Sejumlah Mahasiswa Program Studi Akuntansi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Mah-Eisa Manokwari menggelar aksi demonstrasi, Senin(27/5) sore di pelataran kampus mereka yang terletak di Kawasan Lembah Hijau, Wosi.

Mahasiswa menuntut pihak kampus segera memperjelas status akreditasi Prodi akuntansi, karena ketidakjelasan tersebut membuat mereka tidak bisa diwisuda serta berpengaruh pada legalitas perkuliahan.

“Prodi akuntansi ini kan akreditasi C, namun menurut penelusuran kami status tersebut sudah kadaluarsa sejak tahun 2017 lalu. Kami sudah berulangkali mempertanyakan, tapi hanya mendapat janji demi janji dari pihak kampus,” sebut Kordinator Aksi dari Aliansi Mahasiswa Akuntansi, Afif Nur Shokieb yang merupakan mahasiswa angkatan 2014

Mahasiswa pernah menyurati pihak Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan tinggi terkait persoalan ini, namun pihak kementrian hanya memberikan konfirmasi bahwa surat tersebut sudah diterima. “Itu saja, tanpa tindak lanjut yang jelas,” kata Afif.

Pada tahun 2018 mereka juga pernah mempertanyakan status tersebut, namun katanya, justru mahasiswa yang disalahkan karena tidak ikut ujian.

“Kami kemudia memenuhi syarat sebagaimana permintaan pihak kampus dengan mengikuti ujian semester saat itu, namun hingga tahun 2019 tidak ada itikad baik dari kampus untuk proses akreditasi,” tegasnya.

Dolly, juga mahasiswa Prodi Akuntansi, menambahkan bahwa sebagai mahasiswa ia dan rekan-rekannya telah memenuhi seluruh kewajiban baik pembayaran maupun secara akademik. Namun hingga kini ia dan rekan-rekannya belum diwisuda karena status akreditasi tersebut tidak jelas.

Aksi ini digelar oleh mahasiswa di sela pelaksanaan ujian. Sayangnya hingga sejam menggelar aksi, tak ada satupun pimpinan kampus yang menmui dan menjawab aspirasi mereka. Kecuali seorang dosen, Julius, yang penjelasannya juga masih membuat mahasiswa bertanya-tanya.

“Pesan yang disampaikan oleh pimpinan bahwa akreditasi sedang proses visitasi, dan pengajuannya dilakukan secara online,” terang Julius yang kontan disambut tanya mahasiswa yang mengerubutinya, “Kapan pak? Siapa pimpinan prodi?”

Julius hanya berseloroh pelan, bahwa itu urusan pihak kampus, sebab ia tak terlibat dalam tim. Mahasiswa pun memilih membubarkan diri lantaran merasa tidak mendapat jawaban yang pasti. Janji yang sama untuk mempercepat proses akreditasi menurut mereka sudah berkali-kali disampaikan pihak kampus.

Berdasar pesan singkat yang diterima dari seorang peserta aksi, langkah hukum akan menjadi pilihan mahasiswa, sebab pihak kampus telah merugikan hak dan masa depan mereka.(*)

Pos terkait