Penjual Trompet Lokal Disaingi Produk China

  • Whatsapp

Makassar, Kabartimur-Usaha kerajinan tangan musiman berupa terompet yang sudah menjadi pelengkap setiap perayaan Tahun Baru yang dulunya merupakan andalan para pengrajin terompet, lantaran penghasilan yang menjanjikan. Namun, untuk tahun ini, para pengrajin terompet harus mengelus dada, disebabkan tersaingi oleh masuknya terompet yang berasal dari negeri China, dengan harga yang murah dan berbahan dari plastik.
Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu pengrajin terompet bernama Rusli (39), warga jalan Indah 1 no 45, RW 004 RT 009, Kelurahan Panampu, Kecamatan Tallo ini, yang dikenal sebagai kampung terompet. Bapak dari 3 orang anak yang beristrikan Sumarni (32), kesehariannya berjualan bawang keliling ini mengungkapkan kepada Kabartimur.com dirumah panggungnya yang terbuat dari kayu didalam lorong yang sempit.
Dirinya mengakui pendapatan untuk tahun ini sangat menurun drastis jika dibandingkan tahun kemarin. “Tahun lalu saya membuat terompet sampai 5 ribu buah. Tapi setelah masuk terompet buatan china yang dibikin dari bahan plastik, terompet buatan saya kurang diminati. Pertama bahan yang berbeda dan harganya sama” tuturnya.
Ditambahkannya, tahun lalu dirinya masih mempekerjakan 2 hingga 4 tenaga kerja yang diupah perhari 50 ribu untuk satu orang tenaga kerja dengan target produksi perhari maksimal 900 buah terompet.
Jika dibandingkan tahun lalu, Rusli bisa memproduksi sampai 5 ribu buah terompet dan pangsa pasarnya sampai di daerah Kabupaten, diantaranya Palopo, Bulukumba, Selayar dan beberapa Kabupaten lainnya.
” Kalau dulu tiap bulan November sudah banyak yang pesan terompet. Tapi tahun ini, hanya tetangga dekat rumah yang beli” tutur Rusli.
Jika dibandingkan dengan bahan terompet buatan Rusli dan produk impor dari negeri China, memang sangat jauh perbedaannya. Dari segi harga dan mutu, 11 tahun lalu sudah banyak yang pesan. Sekarang tidak ada lagi. Bahan-bahan yang digunakan karton, tempat gulungan benang jahit dari plastik, kertas warna hologram dan lem. Saat ini usaha pak Rusli sudah tidak menggunakan tenaga kerja lagi untuk dibayar. Tetapi kini dibantu oleh istrinya Sumarni (32). Perkembangan zaman kini telah menggerus perlahan kreatifitas penduduk lokal yang hanya bersifat musiman tiap tahunnya ini. Sepertinya, diperlukan perhatian pihak pemerintah untuk mengupayakan agar kerajinan tangan yang sudah sejak lama menjadi budaya masyarakat di Kota Makassar ini dilestarikan. (Gondrong)

Pos terkait