Miras dan Orang Mabuk Masalah Mendasar di Papua Barat

  • Whatsapp

MANOKWARI—Polda Papua Barat menggandeng Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kompas, untuk melakukan survei. Survei ini menggali kinerja, juga dalam rangka evaluasi kinerja Polda Papua Barat sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat.

Peneliti Utama, B.E Satrio mengatakan, hasil survei menunjukan masalah utama dan mendasar di wilayah hukum Polda Papua Barat adalah orang mabuk, pencurian serta perkelahian.

“Masalah orang mabuk adalah yang paling sering dirasakan terhadap gangguan keamanan, termasuk sayangnya dilakukan oleh oknum polisi,” ujar Satrio di sela pemaparan data hasil survei yang disaksikan Kapolda Papua Barat, Brigjen Pol Herry Rudolf Nahak dan didampingi sejumlah PJU di Mapolda, Kamis (19/9/2019).

Survei ini melibatkan 270 responden yang tersebar di 6 wilayah hukum Polres, diantaranya Kota Sorong, Kabupaten Manokwari, Manokwari Selatan, Pegunungan Arfak, Teluk Wondama, Maybrat, Fakfak, dan Kaimana. Survei dilaksanakan 11-19 Juli lalu.

“Hanya Polda Papua Barat yang melaksanakan survei secara khusus,” ujar Satrio.

Kapolda Herry Nahak mengatakan, tujuan dilakukan survei tersebut agar program-program kerja Polda mengena dan pas dengan kebutuhan masyarakat. Ia mengatakan, Polda minim akan basis data terkait kebutuhan untuk menyusun program prioritas.

“Misalnya, masalah narkoba. Tetapi yang kita dengar ini miras, tetapi ini, kan subditnarkoba. Saya pikir hasil survei ini membuat semakin jelas bahwa mungkin penanganan narkoba iya tapi lebih pada pemberantasan miras. Salah satu penyakit masyarakat adalah miras. Penyakit polisinya juga miras,” ujar kapolda.

Kapolda menekankan, survei juga untuk evaluasi program dan kinerja kepolisian biar keterbukaan ada, serta bisa melihat persoalan yang fundamental. Sehingga kerja polisi bisa lebih tepat sasaran dan tepat guna, serta bermanfaat bagi masyarakat di Papua Barat.

“Masyarakat juga nggak suka melihat banyak persoalan polisi dengan miras disamping masalah-masalah lain. Ini kembali kepada kami dan menjadi bahan evaluasi di masing-masing bidang agar ke depannya sudah bisa diketahui apa yang harus dilakukan dan menjadi program prioritas,” jelas kapolda.

Survei juga menunjukan, umumnya masyarakat respon positif kehadiran Polisi, tetapi kehadiran Polisi belum terlalu dirasakan padahal sangat diharapkan. Selain itu, masyarakat sayang dengan figur Polisi dan cukup menerima kehadiran Polisi.

“Artinya rasa simpati dan empati ini bisa lagi dikembangkan dan menjadi dasar bagi institusi Polri lebih mendekatkan diri ke masyarakat,” beber Satrio.

Kesimpulan survei dari segi perilaku dan kepatuhan, warga sudah paham apa yang seharusnya, namun belum diikuti dengan perilaku dan kepatuhan yang sesuai.

Masalah mabuk adalah yang paling dirasakan sebagai gangguan keamanan, termasuk dilakukan oleh oknum polisi. Meski menilai sikap Polisi sudah adil, ada sebagian masyarakat yang menilai polisi masih belum bersikap adil.

Selain itu, peran Bhabinkamtibmas dan Senkom Mitra Polri belum terlalu dikenal. Setelah diinformasikan apa tugasnya, mayoritas masyarakat merasa tertarik. Polisi di Papua Barat harus memberi prioritas untuk mendekati orang muda, karena ada kecenderungan anak muda masih takut dengan polisi.

Minat terhadap pemberitaan mengenai kinerja Polisi menunjukkan kepedulian masyarakat dan potensi kedekatan yang besar terhadap Polisi. Adapun figur Kapolda (saat survei dilakukan) belum banyak dikenal warga. Ada harapan polisi harus lebih sering ke pelosok. (ALF)

Pos terkait