Kurang Tenaga, Puskesmas di Wondama Hanya Dilayani 4 Petugas

  • Whatsapp

WASIOR – Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat mengakui pelayanan kesehatan terutama di distrik maupun kampung-kampung terutama di pinggiran kota dan wilayah terpencil belum berjalan optimal.

Masyarakat sering mengeluhkan Pustu di kampung-kampung lebih sering tutup karena tidak ada petugas medis. Kalaupun ada yang buka, itupun hanya sesekali saja lantaran petugasnya tidak betah di tempat.

Menurut Plt Kepala Dinas Kesehatan Eli Parairaway, penyebab utama adalah terbatasnya jumlah petugas medis mulai dari dokter, perawat maupun bidan. Jumlah yang ada saat ini masih sangat jauh dari kondisi ideal.

Dia mencontohkan untuk Puskesmas, seharusnya dibutuhkan minimal 22 petugas medis termasuk dokter. Namun kenyataannya sebagian besar Puskemas di Wondama hanya dilayani kurang dari 10 petugas.

“Yang ada sekarang ada yang hanya ada 4 ada yang 2 saja. Di Roswar (Puskesmas Distri Roswar) itu perawat dua, bidan satu, “ ungkap Eli usai mengikuti kegiatan di Gedung Sasana Karya, kompleks perkantoran bupati di Isei, baru-baru ini.

Sesuai ketentuan, di setiap Puskesmas wajib memiliki tenaga dokter. Namun syarat itupun belum bisa dipenuhi karena jumlah dokter tetap di Wondama masih sangat kurang.

“Sekarang harus ada dokter di Puskesmas karena dokter yang harus buat resep. Sementara dokter masih kosong di beberapa Puskesmas. Yang banyak ditempatkan di Wasior dan RSUD, “ lanjut Eli.

Namun demikian, lanjut Eli, permasalahannya tidak hanya karena jumlah petugas yang minim atau petugas yang malas kerja.

Dia mengklaim petugas medis sejatinya mau tinggal menetap di kampung agar bisa setiap waktu melayani warga setempat. Namun banyak di antara mereka tidak betah karena merasa tidak terjamin keamanan maupun kenyamanannya.

” Yang paling banyak di tempat tugas itu perempuan, bidan. Perawat juga banyak perempuan. Teman-teman itu sebenarnya betah, mereka mau kerja saja bila keadaan mereka aman. Kadang masyarakat ganggu-ganggu mereka menyebabkan mereka tidak betah,“ ujarnya.

Gangguan yang kerap diterima petugas medis misalnya perilaku tidak sopan dari pemuda kampung, banyaknya orang mabuk yang terkadang bertindak tidak patut terutama kepada petugas perempuan hingga aksi pencurian dan penjarahan barang-barang milik petugas saat rumah kosong.

“Kita harap ke kepala kampung dan kepala distrik kalau boleh ini keamanan mereka ini di jaga tidak diganggu. Karena kalau tidak diganggu itu mereka betah ditempat tugas, “ ucap Eli. (Nday)

Pos terkait