WASIOR, Kabartimur.com– Persekutuan Gereja-Gereja Papua (PGGP) siap menjadi mitra Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik dan sejahtera terutama dalam aspek moral dan spiritualitas.
Komitmen itu disampaikan Pengurus PGGP Provinsi Papua Barat yang dipimpin Ketua Umum Pendeta Daniel Sukan saat melakukan audensi dengan Bupati dan Wakil Bupati Teluk Wondama, Elysa Auri-Anthonius Alex Marani di Rasiei, Rabu, 25 Februari 2026.
Adapun kedatangan pengurus PGGP Provinsi Papua Barat di Wondama adalah dalam rangka menyiapkan pembentukan PGGP tingkat kabupaten.
“Tadi dalam diskusi dengan bapak bupati, beliau sangat mengharapkan gereja memberikan dampak dalam pembangunan baik ekonomi, kesehatan, pendidikan di Tanah Papua yang dimulai dari tanah peradaban ini.
Karena itu PGGP siap bersama dengan pemerintah untuk dapat menopang pembangunan di Wondama, “kata Pendeta Sukan di Wasior.
Dalam rangka pembentukan PGGP daerah, menurut Pendeta Sukan, maka akan ditunjuk kepengurusan sementara yang bertugas mempersiapkan konferensi guna memilih dan menetapkan badan pengurus PGGP Kabupaten Teluk Wondama.
“Pengurus sementara bekerja untuk mempersiapkan konferensi paling lambat 6 bulan. Nanti dalam konferensi akan dilakukan pemilihan kepengurusan yang tetap, “jelas Pendeta Sukan.
Bukan Pesaing BKAG
PGGP adalah wadah kerohanian yang hadir untuk menyatukan gereja-gereja agar bisa berperan lebih optimal dalam menggembalakan umat serta menyuarakan ketidakadilan.
Meskipun secara umum memiliki tugas dan peran yang mirip dengan BKAG (Badan Kerjasama Antar Gereja), Pendeta Sukan menegaskan, keberadaan PGGP bukan untuk menyaingi BKAG.
“Kehadiran PGGP tidak boleh menjadi pesaing dari wadah yang sudah ada. BKAG sudah ada maka kedua-duanya tetap berjalan. PGGP akan hadir untuk bergandengan tangan untuk berjalan bersama-sama, “ujar Pendeta Sukan.
Dia menjelaskan, PGGP sejak awal dibentuk di Jayapura, Provinsi Papua dan kemudian di Provinsi Papua Barat saat ini menaungi 51 denominasi gereja di Tanah Papua termasuk Gereja Katolik.
Karenanya, dia berharap kehadiran PGGP di Teluk Wondama bisa semakin memperkuat hubungan baik antardenominasi gereja di Wondama sebagaimana tujuan PGGP yakni wadah kesatuan tubuh Kristus serta moto ‘Banyak Anggota Satu Tubuh’.
“Jadi kehadiran kami di sini adalah untuk merangkul semua denominasi gereja yang ada. Harapan kami semua denominasi gereja yang ada di Wondama dapat sama-sama berjalan, “ucap Pendeta Sukan.
PGGP merupakan lembaga keagamaan yang terbilang ‘independen’ karena tidak berada di bawah struktur pemerintah.
Sesuai AD/RT, pengurus PGGP dipilih dalam konferensi dan selanjutnya dilantik oleh kepengurusan di tingkat yang lebih tinggi. Misalnya pengurus PGGP Kabupaten maka dilantik oleh pengurus Provinsi.
“Keunikan PGGP adalah SK-nya (SK pengurus daerah) itu dari pengurus pusat bukan dari bupati. Kalau BKAG kan SK-nya oleh bupati. Itu bedanya, ” terang Pendeta Sukan.
Sekretaris Umum PGGP Provinsi Papua Barat Pendeta Markus Rudimolle menambahkan, PGGP dicetuskan oleh para tokoh lintas gereja di Tanah Papua sebagai respon atas berbagai ketidakadilan, kesewenang-wenangan termasuk pelanggaran HAM yang terus berulang di Bumi Cenderawasih.
“PGGP hadir dalam kerangka itu supaya ada keadilan dan kedamaian di Papua,” ujar Rudimolle.
Karena itulah, PGGP Provinsi Papua Barat memandang perlu menghadirkan wadah ini di seluruh kabupaten se Papua Barat agar seluruh denominasi gereja bisa bersatu dan bersama-sama bergerak untuk mewujudkan Tanah Papua yang damai dan berkeadilan.
“PGGP hadir untuk bekerjasama membangun Tanah Papua, “sambung Rudimolle. (Nday)






