Jakarta, kabartimur.com – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka secara resmi melepas peserta Program Pengabdian Alumni Pejuang Digital di Istana Wakil Presiden, Kamis (02/04/2026). Program ini menjadi bagian dari upaya percepatan digitalisasi pendidikan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Digitalisasi pembelajaran dinilai sebagai langkah strategis untuk menjembatani kesenjangan akses pendidikan, khususnya di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) serta daerah dengan keterbatasan layanan. Selain itu, pendekatan ini diharapkan mampu mendorong sistem pembelajaran yang lebih adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Wapres menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan di tengah pesatnya perkembangan zaman.
“Perkembangan teknologi sangat cepat. Karena itu, kita harus bergerak bersama untuk mengatasi kesenjangan pendidikan,” ujar Gibran.
Ia juga mengingatkan bahwa transformasi digital harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar memberikan dampak nyata.
“Pemanfaatan teknologi harus meningkatkan produktivitas dan membuka peluang ekonomi baru. Gunakan secara bijak dan bertanggung jawab, serta terus kembangkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah agar kita tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga inovator,” tegasnya.
Lebih lanjut, Wapres menekankan bahwa digitalisasi pendidikan bukan sekadar adopsi teknologi, melainkan perubahan pola pikir dan cara belajar untuk menyiapkan masa depan generasi muda.
Dalam kesempatan tersebut, Gibran juga berdialog dengan para peserta dari berbagai daerah, mulai dari Papua hingga Sumatera Utara, guna menggali latar belakang, pengalaman, serta lokasi penugasan mereka.
Salah satu peserta, Theresia Rutisu asal Sorong, yang akan bertugas di Merauke, menyampaikan komitmennya untuk kembali mengabdi di wilayah 3T. Lulusan Swiss Hotel Management School itu menekankan pentingnya berbagi pengalaman kepada generasi muda di daerah asal.
“Saya ingin berbagi pengalaman kepada anak-anak di daerah 3T, karena saya juga berasal dari sana. Saya ingin mereka tidak pernah berhenti bermimpi,” ujarnya.
Peserta lainnya, Gulmog Simbolon, lulusan University of Surrey asal Kabupaten Samosir yang akan bertugas di Sumedang, menilai program ini sebagai ruang kontribusi nyata dalam pemerataan akses pendidikan sekaligus meningkatkan motivasi belajar di daerah.
Menanggapi hal tersebut, Wapres mengapresiasi semangat para alumni luar negeri yang memilih kembali ke daerah. Ia menegaskan bahwa kontribusi nyata merupakan bentuk tanggung jawab sekaligus kebanggaan sebagai warga negara.
“Setiap alumni harus bangga menjadi WNI dan mengabdi di kampung halamannya,” ujarnya.
Wapres juga menekankan pentingnya inovasi metode pembelajaran agar proses belajar menjadi lebih efektif dan menyenangkan, terutama dengan dukungan teknologi.
“Jika pembelajaran terasa membosankan, kita harus menemukan metode yang lebih menarik. Semua harus bisa dibuat menyenangkan, apalagi saat ini tersedia interaktif panel dari Presiden. Saya berharap peserta dapat membantu mengenalkan dan mendampingi pemanfaatannya,” tuturnya.
Program Pengabdian Alumni Pejuang Digital merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk mempercepat digitalisasi pembelajaran di wilayah 3T dan daerah khusus.
Sebanyak 150 alumni LPDP akan ditugaskan di 150 sekolah dasar di Sumedang, Kupang, Halmahera Utara, dan Merauke selama tiga bulan. Program ini diharapkan mampu mendorong terbentuknya ekosistem pembelajaran digital yang inklusif dan berkelanjutan. (Red/*)






