Jakarta, kabartimur.com – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan kondisi sistem keuangan Indonesia tetap terjaga dan resilien hingga akhir triwulan IV 2025, meski tekanan global meningkat akibat ketegangan geopolitik dan perang dagang internasional.
Hasil rapat berkala KSSK I Tahun 2026 yang digelar pada 23 Januari 2026 menyimpulkan bahwa stabilitas fiskal, moneter, dan sektor keuangan nasional tetap solid, didukung koordinasi dan sinergi kebijakan antarotoritas. KSSK yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner OJK, dan Ketua Dewan Komisioner LPS menyatakan akan terus melakukan asesmen ke depan serta mitigasi risiko secara terkoordinasi.
Ketidakpastian global meningkat seiring perlambatan ekonomi Amerika Serikat, ketegangan perang dagang AS–Tiongkok, serta eskalasi geopolitik. The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada triwulan IV 2025 menjadi kisaran 3,50–3,75 persen untuk menopang pemulihan ekonomi. Namun, tingginya defisit fiskal AS membuat imbal hasil obligasi tetap tinggi dan membatasi ruang penurunan suku bunga lanjutan.
Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook Januari 2026 merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,3 persen untuk tahun 2025 dan 2026, lebih tinggi dibandingkan proyeksi Oktober 2025.
Di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat. KSSK memprakirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2025 berada di kisaran 5,2 persen dan meningkat menjadi 5,4 persen pada 2026, didorong permintaan domestik, stimulus fiskal dan moneter, serta penguatan investasi. Indikator ekonomi seperti PMI manufaktur, penjualan ritel, dan neraca perdagangan menunjukkan kinerja positif sepanjang triwulan IV 2025.
Likuiditas perekonomian juga terjaga. Uang primer (M0) pada Desember 2025 tumbuh 11,4 persen secara tahunan, sementara uang beredar luas (M2) tumbuh 9,6 persen seiring peningkatan penyaluran kredit.
Dari sisi eksternal, cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 mencapai USD156,5 miliar atau setara 6,3 bulan impor. Nilai tukar rupiah tercatat melemah hingga Rp16.815 per dolar AS per 23 Januari 2026 akibat aliran modal keluar dan meningkatnya permintaan valas, namun Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi terukur dan penguatan operasi moneter.
Inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1 persen. Inflasi Desember 2025 tercatat 2,92 persen (yoy), dengan inflasi inti sebesar 2,38 persen. Inflasi pangan bergejolak masih relatif tinggi akibat gangguan pasokan, namun diprakirakan terkendali pada 2026 melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah.
Kinerja pasar Surat Berharga Negara (SBN) turut membaik. Yield SBN 10 tahun turun menjadi 6,01 persen pada akhir triwulan IV 2025, mencerminkan kepercayaan investor terhadap pengelolaan fiskal pemerintah.
APBN 2025 tetap menjalankan peran strategis sebagai peredam guncangan ekonomi. Hingga akhir tahun, realisasi belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari pagu, sementara pendapatan negara sebesar Rp2.756,3 triliun. Defisit APBN tercatat 2,92 persen dari PDB dan masih dalam batas aman.
Belanja negara difokuskan pada perlindungan daya beli masyarakat, pelayanan publik, stabilisasi harga pangan, pembangunan infrastruktur, serta berbagai program stimulus ekonomi yang sebagian dilanjutkan hingga 2026.
KSSK menegaskan akan terus memperkuat koordinasi kebijakan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian. (*)






