Manokwari, kabartimur.com – Bupati Manokwari, Hermus Indou, menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Manokwari untuk menuntaskan penertiban bangunan liar sebelum pelaksanaan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional ke XIV Tahun 2026.
Hermus mengatakan, penertiban bangunan liar yang berdiri di sepanjang bahu jalan dan Ruang Milik Jalan (Rumija) menjadi bagian dari upaya penataan kota agar Manokwari tampil lebih tertib, aman, dan nyaman menjelang pelaksanaan agenda nasional tersebut.
“Penertiban ini penting karena bangunan liar di bahu jalan berpotensi menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari gangguan lalu lintas hingga risiko keselamatan pengguna jalan,” ujar Hermus.
Ia menjelaskan, aktivitas di sekitar bangunan liar, seperti parkir sembarangan, dapat membahayakan pengendara dan pejalan kaki. Selain itu, kawasan tersebut juga kerap menimbulkan persoalan lingkungan dan sosial, seperti penumpukan sampah, kondisi yang tidak terawat, serta kesan kumuh.
“Dari sisi hukum, pendirian bangunan di bahu jalan atau Rumija jelas melanggar peraturan daerah maupun undang-undang lalu lintas yang berlaku,” tegasnya.
Untuk mendukung proses penertiban, Pemerintah Kabupaten Manokwari akan membentuk tim pendataan yang bertugas turun langsung ke lapangan. Tim tersebut akan melakukan validasi data bangunan yang akan ditertibkan, sekaligus mendata pedagang terdampak sebagai dasar pemberian santunan.
“Pendataan akan dilakukan secara objektif dan transparan agar penertiban berjalan tertib serta tetap memperhatikan aspek sosial masyarakat,” tambah Hermus.
Sebagai informasi, Pesparawi Nasional XIV dijadwalkan berlangsung di Manokwari, Papua Barat, sekitar 18 Juni 2026. Kegiatan ini merupakan ajang pembinaan mental dan spiritual umat Kristen melalui seni paduan suara gerejawi, sekaligus menjadi wujud penghayatan iman dalam kehidupan berjemaat, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Pesparawi Nasional XIV mengusung tema “Aku Hendak Memuji TUHAN Pada Segala Waktu” (Mazmur 34:2a), dengan subtema “Puji-Pujian Membawa Perdamaian dan Persaudaraan di Tanah Papua.” (Red/*)






