METRO

Dominggus Mandacan: Suku Biak dan Suku Arfak Mempunyai Sejarah

Pertemuan suku besar Arfak dengan suku Biak. Kegiatan ini turut dihadiri tetua-tetua dari kedua suku. Adapun tema kegiatan yakni, menjaga dan melestarikan Manokwari sebagai Rumah Bersama.

MANOKWARI–Kepala suku besar Arfak turunan Lodewicjk Mandacan, Dominggus Mandacan mengatakan, peran keluarga besar Biak bagi masyarakat suku Arfak mempunyai sejarah. Ini dapat dilihat dari seharah masuknya injil. Di mana, keluarga besar Biak yang pertama dengan suku Arfak hidup berdampingan di wilayah Manokwari. Suku Biak juga yang pertama menerima injil di Pulau Mansinam dan menyebarkannya kepada masyarakat suku Arfak.

Menurut Dominggus, suku Arfak dengan suku Biak ibarat satu mata uang, tidak bisa dipisahkan. Dominggus yang juga menjabat sebagai gubernur Papua Barat juga mengajak masyarakat Biak yang ada di Manokwari harus mencerminkan nilai-nilai injil dalam sikap dan perilaku.

“Kita ini satu rumah, mari jaga Manokwari rumah sebagai rumah bersama. Rumah bersama jaga kita. Kita punya tanggung jawab berikan jaminan keamanan, ketertiban, dan kedamaian bagi semua suku yang ada. Karena Manokwari adalah rumah bersama,” pesan gubernur di sela-sela tatap muka masyarakat suku besar Arfak dengan masyarakat Biak, Rabu (4/9/2019).

Dominggus juga mengajak masyarakat Biak juga ikut berikan dukungan kepada pihak keamanan.

“Kita dukung penegakan hukum dengan tegas terhadap oknum yang menyampaikan rasisme di Malang, Surabaya, dan daerah lainnya di luar Papua. Kita juga mendukung penegakan hukum terhadap pembakaran, dan penjarahan yang terjadi di Manokwari,” ucapnya.

Dalam arahannya, Dominggus memberikan ketegasan, jika masyarakat suku Biak menajaga Manokwari sebagai rumah bersama, maka rumah bersama ini akan menjaga suku Biak.

“Kita jaga NKRI. NKRI jaga kitorang (kita, red).  Kita jaga Manokwari kota injil, kita jaga Manokwari rumah bersama. Manokwari rumah bersama jaga kita. Jika ini diterjemahkan dalam tugas dan tanggung jawab masing-masing dengan baik pasti ada damai dan suka cita,” tutur Dominggus Mandacan.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Manokwari Demas Paulus Mandacan mengatakan, pentingnya menjaga suasana kondusif, agar Manokwari tetap indah, damai dan penuh dengan suka cita.

“Syukur karena kejadian 19 Agustus lalu tidak ada korban. Kerusakan-kerusakan yang terjadi kita bisa perbaiki tetapi nyawa tidak bisa diganti dengan apapun,” tegas Demas Mandacan.

Demas juga mengapresiasi pertemuan antara suku besar Arfak dan suku Biak. Dia menyatakan, pertemuan ini menjadi momentum untuk memaksimalkan komunikasi antarmasyarakat.

“Ini momentum yang penting karena tidak pernah dilakukan. Ke depan, kita rapatkan barisan, ketemu. Kami berterima kasih kepada masyarakat Biak yang telah membawa terang kepada masyarakat Arfak,” ujarnya.

Demas Mandacan menambahkan, demonstrasi bisa dilakukan asalkan tetap menjaga situasi dan kondisi aman dan kondusif.

“Saya harapkan kita jaga situasi Manokwari menjadi kondusif sebagai rumah kita. Semoga aman dan tentram. Demonstrasi boleh saja asal tidak merusak. Apa yang terjadi di tempat lain sudah terjadi. Kita jaga kota kita, jangan merusak karena kita rugi sendiri,” tutupnya. (ALF)

To Top